Seperti Shalat Hari Raya Eid di Kampung

  • 30 Oktober 2017
  • 570 views
Seperti Shalat Hari Raya Eid di Kampung

Di antara nikmat tinggal di negeri Haramain, Arab Saudi, adalah terjaganya shalat pada waktunya. Karena sampai hari ini, peraturan pemerintah Saudi masih mengharuskan penghentian kegiatan komersial saat masuk waktu shalat lima waktu.

Oleh karenanya, tidak heran jika di beberapa lokasi komersial, seperti supermarket, pihak manajemen mengumumkan lewat speaker bahwa kasir akan segera ditutup beberapa menit sebelum adzan berkumandang. Kemudian lampu pun dipadamkan sebagian, para pegawai beranjak dari tempatnya mengambil air wudhu.

Di tempat-tempat umum yang berjejer toko, tukang jahit, bengkel, restoran, di jalanan dan pasar juga demikian. Seakan dikomando, satu persatu pintu toko ditutup saat adzan. Penjaga atau penjualnya, jika seorang muslim, maka bersegera ke pergi ke masjid terdekat.

Yang lebih unik lagi, pedagang kaki lima yang biasa membuka lapaknya di sekitar halaman masjid, meninggalkan barang dagangannya saat shalat ditegakkan. Mereka tidak mengunci, memagar atau mengawasinya, ditinggal begitu saja barang-barang jualannya, untuk shalat ke dalam masjid.

Gaya hidup yang demikian ini, barangkali, tidak ditemukan di negara lain, kecuali Arab Saudi. Bagi yang tidak terbiasa, akan merasa sebal atau kerepotan mencari yang dihajatkannya saat bertepatan waktu-waktu shalat, karena toko tutup dan kegiatan komersial ditunda sebentar.

Di beberapa daerah di Arab Saudi, polisi Amr bil Ma’ruf wa Nahyi anil Munkar yang biasa dipanggil “muthowa‘”, masih ada yang berpatroli berkeliling pasar dan tempat-tempat umum untuk mengingatkan waktu shalat. Bahkan mereka diberi kewenangan menindak orang yang tidak mengindahkan waktu shalat, meskipun akhir-akhir ini dipersempit ruang geraknya dengan aturan baru.

Beberapa warga Indonesia yang baru menginjakkan kaki di Biladul Haramain ini, memiliki kesan yang miris. Menurutnya, shalat lima waktu, seperti Isya di Saudi, seperti shalat Hari Raya di kampungnya. Pasalnya, orang yang shalat berjemaah banyak bershaf-shaf, yang biasa terjadi di kampung halamannya hanya pada waktu shalat lebaran saja.

Demikianlah, semoga di manapun kaum muslimin, dapat meniru gaya hidup yang mendahulukan memenuhi hak Rabbul ‘Alamin daripada makhluk dalam urusan duniawi.[]

Ditulis oleh: admin

Konten Terkait