Kalahkan Ia Dalam Urusan Akhirat

Kalahkan Ia Dalam Urusan Akhirat

Hidup di dunia ini penuh dengan persaingan. Akibat persaingan ini munculah berbagai problem sosial semisal iri, dengki, hasad hingga perkelahian fisik dan peperangan masal.

Namun hal itu semua hanya kembali ke satu hal yaitu DUNIA. Berletih-letih mencari hanya untuk dihabiskan orang lain dan menjadi sebab perselisihan ahli waris, itulah yang diperbuat dunia kepada penggemarnya.

Dunia berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah (Ad-Danaya) yang berarti “Kotor”. Sehingga orang yang berlebihan dengan dunianya maka ia tak segan untuk mengorbankan akhiratnya. Layaknya tubuh tanpa ruh atau bulir tanpa berasnya, yang tersisa hanya jasad kotor yang dikendalikan oleh Syaitan laksana bola yang dimainkan anak kecil.

Muncullah dari sikapnya aroma busuk, kasar, pongah dan angkuh. Siapapun akan ia libas hingga keluarga kandungnya sendiri. Bahkan ia tak segan memfitnah orang yang mengingatkannya dengan alasan bahwa orang tersebut telah melanggar hak privasinya.

Orang yang demikian sangat banyak di dunia ini, namun satu hal yang mereka lupakan bahwa dunia kelak akan mengkhianati mereka. Akhirnya anak-anaknya pun saling membunuh demi mendapatkan harta, Istrinya mencari laki-laki lain dengan hartanya sendiri, dan di hari tua ia pun kebingungan dengan kesalahan silam yang sudah sulit diobati lagi kecuali ia benar-benar bertaubat sebelum ajalnya, maka semua hal hanya Allah yang tahu apa yang pantas baginya.

Wahb Bin Munabih mengisahkan:

Nabi Isa ‘alaihisalam mengembara di atas bumi ditemani oleh seorang yahudi. Orang yahudi tersebut membawa dua potong roti. Sedangkan Nabi Isa hanya membawa sepotong roti,

Nabi Isa berkata kepadanya, “Apakah kamu mau menemaniku menyantap makanan?”

“Iya,” jawab Yahudi.

Setelah Si Yahudi tahu bahwa Nabi Isa hanya membawa sepotong roti ia pun menyesal.

Pada saat Nabi Isa sedang melaksanakan shalat, si yahudi berpaling dan memakan sepotong roti miliknya. Kemudian setelah Nabi Isa merampungkan shalatnya, mereka berdua pun mengeluarkan makanannya.

Nabi Isa bertanya kepada temannya, ”mana rotimu yang satunya lagi ?”

“Saya hanya membawa sepotong roti,” jawab Yahudi.

Lantas Nabi Isa memakan sepotong roti dan Yahudi pun memakan sepotong roti. Selesai menyantap, mereka berdua melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di bawah sebuah pohon, Nabi Isa berkata kepada temannya, “Bagaimana kalau kita bermalam di pohon ini sampai pagi.”

Mereka berdua pun bermalam di tempat tersebut.

Di pagi harinya mereka melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan mereka berdua bertemu dengan orang buta. Nabi Isa berkata kepada orang buta tersebut, “Bagaimana menurutmu jika saya mengobati matamu sehingga Allah mengembalikan pengelihatanmu. Apakah kamu akan bersyukur kepadaNya?”

“Iya,” jawab Si Buta,

Kemudia Nabi Isa menyentuh mata Si Buta dan berdoa kepada Allah hingga Si Buta pun dapat melihat.

Nabi Isa alaihisalam bertanya kepada si Yahudi, “Demi Dzat yang telah memperlihatkan padamu bahwa si buta dapat melihat. Apakah kamu hanya membawa sepotong roti?”

Si yahudi menjawab, “Demi Allah, saya hanya membawa sepotong roti.” Mendengar jawaban tersebut, Nabi Isa pun terdiam.

Ketika melanjutkan perjalanan, keduanya melewati sekumpulan kijang yang sedang makan di rerumputan luas. Nabi Isa memanggil seekor kijang dan menyembelihnya. Keduanya pun menyantap kijang tersebut. Kemudian Nabi Isa berkata kepada kijang tersebut, “Bangkitlah dengan izin Allah.” Seketika itu kijang tersebut bangkit.

Kontan saja Si Yahudi pun terkaget sambil berucap “Subhanaallah.”

Nabi Isa bertanya lagi kepada Si Yahudi, “Demi dzat yang telah memperlihatkanmu tanda-tanda ini. Siapa orang yang telah memakan roti yang ketiga”

“Tidak ada, aku hanya membawa sepotong roti saja,” jawab Yahudi.

Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan. Takkala mereka berdua hendak menyeberangi sungai besar, Nabi Isa menyentuh air dengan tangannya dan berjalan di atas air hingga mereka berdua berhasil menyebrangi sungai besar tersebut. Si yahudi mengucapkan, “Subhanaallah.”

Nabi Isa bertanya lagi,”Demi dzat yang telah memperlihatkanmu tanda-tanda kebesaranya ini. Siapa pemilik roti ketiga?”

Si Yahudi tetap bersikeras, “Demi Allah, saya hanya punya satu roti.”

Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan kembali, hingga keduanya sampai di sebuah desa yang telah hancur. Tak disangka, di dekat mereka berdua terdapat tiga bongkah batu emas yang besar.

Nabi Isa berkata, “Satu untukku, satu lagi untukmu, dan satunya lagi untuk pemilik roti ketiga.”

Kontan Si Yahudi menyahut kegirangan, “Sayalah pemilik roti yang ketiga. Saya telah memakannya ketika engkau sedang melaksanakan shalat.”

Lantas Nabi Isa berkata kepadanya, “Baiklah semuanya untukmu saja.”

Setelah itu, Nabi Isa meninggalkan Si Yahudi. Sedangkan Si Yahudi tetap berdiam di situ.

Akhirnya, Si Yahudi kebingungan karena tidak memiliki sesuatu pun untuk membawa bongkahan ema tersebut. Di tengah kebingungannya, tiba-tiba ada tiga orang yang menghampiri Si Yahudi. Lalu mereka bertiga membunuh Si Yahudi dan mengambil emasnya.

Dua orang di antara mereka berkata kepada salah satu di antara mereka bertiga, “pergilah kamu ke suatu desa, lalu bawakan kami makanan!” Kemudian, seorang dari mereka bergegas pergi.

Salah seorang dari dua orang yang masih tersisa berkata, “Kita bunuh saja ketika dia datang lalu emas ini kita bagi dua.”

“Oke,” Jawab temannya.

Sedangkan orang yang pergi mencari makanan berkata sendiri, “Saya akan menaruh racun pada makanan ini agar mereka berdua mati dan saya dapat memiliki seluruh emas itu sendirian.”

Dia pun melakukan apa yang dibisikkan setan kepada dirinya. Setelah dia kembali membawa makanan yang beracun, kedua temannya pun menbunuhnya. Akan tetapi, kedua temannya pun ikut mati setelah menyantap makanan beracun tersebut, hingga keduanya tergeletak di samping bongkahan emas tersebut.

Beberapa masa kemudian, Nabi Isa melewati tempat tersebut. Ketika beliau melihat empat mayat bergelimpangan di samping emas, maka beliau menunjuk ke arah mereka dan ke arah emas seraya berkata kepada kaum Hawariyyun yang menyertai beliau, “Demikianlah yang dilakukan oleh dunia terhadap pemiliknya. Oleh karena itu, waspadalah!”

PENUTUP

Mari kita berusaha, akan tetapi ketahuilah bahwa tujuan dari usaha kita bukan untuk dunia fana namun hanya untuk akhirat abadi.

Dari Tsauban, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Hampir-hampir bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kamu, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka”, Seorang sahabat bertanya: “Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan pada hari itu kamu banyak, tetapi kamu buih (sampah), seperti buih (sampah) banjir. Dan Allah akan menghilangkan rasa gentar (takut) dari dada (hati) musuhmu terhadap kamu. Dan Allah akan menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kamu,” Seorang sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Cinta dunia dan takut menghadapi kematian” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, shahih lighairihi).


Admin Suara Madinah

Ditulis oleh: admin