Arab Saudi: Keputusan Amerika Terhadap Yerusalem Tidak Bertanggung Jawab dan Tercela

  • 7 Desember 2017
  • 509 views
Arab Saudi: Keputusan Amerika Terhadap Yerusalem Tidak Bertanggung Jawab dan Tercela

ad-Diwan al-Malikiy Arab Saudi merilis keterangan resmi terkait keputusan pemerintah Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan memindahkan kedutaan besarnya ke kota tersebut.

“Kerajaan Arab Saudi selalu mengikuti (perkembangan di Palestina -red) dan menyesalkan keputusan Trump atas pengakuannya Quds sebagai ibu kota Israel. Arab Saudi telah mengingatkan konsekuensi serius dari langkah yang tidak dapat dibenarkan dan tidak bertanggung jawab tersebut,” sebagaimana yang rilis Kantor Kekerajaan hari Kamis dini hari (7/12).

Dalam keterangan lanjutannya, “Kerajaan Arab Saudi dengan ini mengingkari dan sangat menyesalkan atas keputusan Amerika di Yerusalem, karena hal ini merupakan bias besar terhadap hak-hak bersejarah dan permanen rakyat Palestina di Yerusalem.”

“Hak-hak rakyat Palestina dijamin oleh Resolusi Internasional yang telah diakui dan didukungoleh masyarakat internasional,” imbuhnya.

“Tindakan tersebut, tidak akan mengubah atau mempengaruhi hak-hak rakyat Palestina di Yerusalem dan wilayah-wilayah pendudukan lainnya dan tidak akan dapat memaksakan sebuah realitas baru pada mereka. Ini merupakan kemunduran yang signifikan di tengah upaya yang mendorong proses perdamaian,” kata pernyataan tersebut.

Arab Saudi juga menegaskan, “langkah ini merupakan pelanggaran terhadap posisi Amerika yang netral secara historis terhadap isu Yerusalem, yang selanjutnya akan mempersulit konflik Palestina-Israel.”

Ditambahkan pula, bahwa “Kerajaan Arab Saudi berharap kepada pemerintah AS untuk meninjau ulang keputusan ini dan mempertimbangkan dunia internasional yang memungkinkan peluang rakyat Palestina untuk mendapatkan kembali hak-hak mereka yang sah.”

Di akhir keterangannya, ad-Diwan al-Malikiy menyebutkan bahwa “Arab Saudi menekankan pentingnya menemukan solusi mendesak dan abadi untuk masalah Palestina sesuai dengan resolusi internasional dan inisiatif Arab yang relevan, sehingga rakyat Palestina dapat memperoleh kembali hak-hak mereka yang sah untuk membangun keamanan dan stabilitas di wilayah ini.”

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota Israel pada Rabu (6/12) malam dan memerintahkan kedutaan negara Amerika Serikat untuk berpindah kantor ke Yerussalem.

Sehari sebelumnya (Selasa, 5/2), melalui kabel telepon, Khadimul Haramain, Raja Salman, mengingatkan Trump bahwa pengakuannya tersebut dapat membahayakan keamanan dan menambah runyam konflik di wilayah tersebut. Salman menambahkan bahwa hal tersebut telah memprovokasi perasaan seluruh kaum muslimin, karena Masjidil Aqsha merupakan kiblat pertama kaum muslimin dan kota Quds memiliki tempat di dalam hati umat Islam. []

Ditulis oleh: admin

Konten Terkait