Diplomasi Cenderamata

  • admin
  • 17 Oktober 2019
  • 42 Views
Diplomasi Cenderamata

Episode Pertama

Tanggal 14 Pebruari 1945, di atas kapal USS Murphy milik AS, bertemulah dua orang pemimpin: Abdul Azis al-Saud dan Franklin Delano Roosevelt. 

Ibn Saud saat itu agak sulit berjalan dan terpaksa harus menggunakan tongkat. Betisnya tidak normal akibat luka pertempuran, sehingga menyulitkannya menaiki tangga. Disisi lain, Roosevelt tidak lebih baik. Dia harus menggunakan kursi roda akibat penyakit polio yang dideritanya.

Roosevelt: “Anda lebih beruntung dari saya karena anda tetap dapat berjalan dengan kaki, sedangkan saya harus menggunakan kursi roda kemanapun saya pergi”.

Ibn Saud: “Tidak kawanku, kau lebih beruntung. Kursi rodamu akan menghantarkanmu kemana saja engkau mau, dan kamu akan sampai kesana. Kaki ini kurang dapat diandalkan dan makin hari makan lemah”

Roosevelt: “Jika  kamu menginginkan kursi ini, saya akan berikan kembaran kursi roda ini karena saya membawanya sepasang dalam kapal ini.”

Ibnu Saud menerima pemberian kursi roda itu. Selanjutnya keduanya terlibat diskusi tentang minyak, tanah air Yahudi di Palestina, skenario pasca PD II di wilayah itu, dan penempatan tentara AS di Dhahran untuk menjaga ladang minyak mereka di Al-Hasa. Diplomasi Roosevelt itu kemudian dikenal dengan istilah “diplomasi kursi roda”. Kisahnya sendiri diabadikan dalam catatan “F.D.R Meets Ibn Saud” yang dibuat oleh Kolonel Eddy yang juga bertugas sebagai translator yang dipercaya Ibnu Saud. 

Rencana pertemuan itu sendiri dirahasiakan oleh Roosevelt ketika bertemu Winston Churchill dan Joseph Stalin di sebuah resort di Yalta awal Pebruari 1945. AS ingin mendominasi minyak Saudi, sama seperti British dan Uni Sovyet yang ingin menguasai minyak Persia, Iraq dan Kuwait. Dari catatan Kolonel Eddy, kita mengetahui Ibnu Saud tidak menyetujui usulan tanah air Yahudi di Palestina. Roosevelt pun tidak ngotot.

Episode Kedua

Sekitar pekan II bulan Pebruari 2018, Trump mengisyaratkan akan memindahkan kedutaan AS ke Jerusalem. Pemindahan itu juga sekaligus pengakuan Jerusalem sebagai ibukota Israel. Beberapa kepala negara menelpon Trump, salah satunya Raja Salman. 

Di depan staf dan wartawan, Trump dengan pongah bercerita tentang telpon tersebut. “Beberapa pemimpin menelpon saya, termasuk seorang raja. Ya, seorang raja. Anda tahu raja itu. Tapi saya bilang, suruh dia menelpon dua pekan lagi”. Lalu dua pekan kemudian, Trump di telpon lagi. Trump meminta raja itu menelpon sepekan lagi. Tapi belum sepekan, Trump akhirnya yang menelpon.

Trump bercerita, raja itu memintanya untuk membatalkan rencana soal Jerusalem. “Raja itu bilang, sesuatu akan terjadi. Tapi lihat, tidak ada yang terjadi sampai sekarang…”, kata Trump dengan pongah.

Trump tidak tahu, raja itu bergerilya. Setelah berlangsung setahun kepindahan kedutaan AS ke Jerusalem, hanya satu negara miskin di dekat Meksiko yang mengikuti jejaknya: Guatemala. Tidak satupun negara Eropa, Asia, dan Afrika yang mengikuti ajakanTrump untuk pindah kedutaan.

Episode Ketiga

Kemarin siang, Raja Salman menerima dengan resmi kunjungan presiden Rusia, Vladimir Putin, di istana utama kerajaan Saudi di Al-Yamamah. Kunjungan ini adalah yang pertama setelah dua dekade. Penerimaannya besar-besaran, terkesan show-off dan saling menghargai. Menkes Rusia, Veronika Skvortsova, tampil dengan mengenakan kerudung dan abaya.

Media-media Rusia dengan hangat membicarakan investasi 10 juta dollar dari Saudi , plus tentu saja, sistem rudal Rusia untuk mengamankan instalasi minyak Saudi. 

Rusia juga akan membantu pengembangan instalasi pembangkit nuklir Saudi. Selain itu juga disepakati pembangunan peluncuran satelit luar angkasa Saudi, kecerdasan buatan (AI) untuk Aramco, serta institut energi kerjasama Rusia-Saudi. Media Rusia menyebut Saudi akan bergeser dari AS.

Namun ada momen paling menarik, yaitu penyerahan cinderamata oleh Putin. Presiden Rusia itu menyerahkan seekor elang langka yang hanya terdapat di daerah Kamchatka, kawasan Arctic di Kutub Utara. Raja Salman sendiri memberikan sebuah pisau (dagger).

Mungkin Putin belajar dari Roosevelt akan pentingnya diplomasi cinderamata. Akankah posisi AS di Saudi tergeser oleh Rusia? Kita lihat nanti…

Liputan kunjungan Putin:

*)Disalin dari wall FB Ibnu Rajab, 16102019

Tema Terkait