Hari Ini, Tepat 5 Tahun Raja Salman Berkuasa; Apa dan Bagaimana?

  • News Admin
  • 30 November 2019
  • 779 Views
Hari Ini, Tepat 5 Tahun Raja Salman Berkuasa; Apa dan Bagaimana?

Tidak sedikit orang membicarakan Arab Saudi, terlebih media elektronik tidak pernah alpa menulis isu terkini negara Petro Dollar tersebut. Hanya saja, lebih banyak sisi negatifnya yang diangkat daripada manfaat dan kebaikannya. Mengapa?

Arab Saudi, sejak berdiri kedua kalinya, sudah banyak digugat oleh lawan politiknya. Ada yang menuduhnya sebagai negara buatan Inggris, rajanya keturunan Yahudi, hingga disebut sebagai hasil memberontak dari Khilafah Turki Utsmani.

Dari sisi manhaj beragamanya, Saudi diserang habis-habisan oleh kelompok Syiah, kaum kuburuyiun, sufi, hingga khawarij. Terasa belum lengkap, kelompok sekuler-liberal pun tak luput melepas busur panahnya ke arah negeri Alu Su’ud ini.

Lengkap dan kenyang sudah Kerajaan Arab Saudi sebagai negara “mustahdafah” dari segala penjuru. Sebagian orang gemar menyebutnya sebagai negara wahabi.”

Suka atau tidak, Saudi masih menjadi kiblat kaum muslimin hingga hari ini. Pembelaan untuk Biladul Haramain ini, ada yang ghulw (fanatik), tetapi lebih banyak yang moderat, berusaha adil. Yang celaka, menanamkan hasad, dengki dan kebencian saat menilai negeri yang menampung lebih dari 10 juta warga negara asing.

Utamanya, pasca dilantiknya MBS (Muhammad bin Salman) sebagai Putra Mahkota (Waliyul ‘Ahd) menggantikan Muhammad bin Nayef, yang sakit. Kelompok haters menuduh bahwa MBS-lah yang banyak membawa perubahan negatif dalam negeri Arab Saudi. Tetapi tidak satupun yang menganggap sebagai kebijakan penampuk kekuasaan, Raja Salman bin Abdul Aziz.

Pada tanggal 3 Rabiul Akhir 1442 ini, bertepatan dengan 30 November 2019, tepat 5 tahun Raja Salman dilantik sebagai Khadimul Haramain, sepeninggal Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Salman bin Abdul Aziz Al Saud lahir pada tanggal 5 Syawwal 1354 H, bertepatan dengan 31 Desember 1935 di Riyadh. Dia merupakan putra ke dua puluh lima dari pendiri Arab Saudi, Raja Abdul Aziz Al Saud.

Jika merujuk ke kalender Masehi, Salman resmi menjadi raja pada tanggal 23 Januari 2015, setelah 2,5 tahun menjadi Putra Mahkota dan 50 tahun sebagai Gubernur ibu kota Riyadh.

Selang beberapa waktu dari pelantikannya, Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, mengunjungi Arab Saudi. Bukan pembicaraan kedua pemimpin negara itu yang menjadi penting, tetapi ketika Raja Salman meninggalkan Obama di red carpet karena kumandang adzan shalat Ashar, saat penyambutan kedatangannya di Riyadh.

Pada tahun yang sama, Raja yang dikenal sebagai penghafal al-Quran, mengeluarkan kebijakan yang memicu kebencian kaum Syiah. Yaitu memenuhi panggilan Presiden Yaman, Abdurobbih Mansur, tentang perlunya intervensi militer ke Yaman, guna menumpas gerakan pemberontakan Syiah Houtsi.

Saudi tidak sendiri, dibentuk koalisi negara-negara Arab dan muslim untuk menindak militan Syiah Houtsi dukungan Iran. “Ashifah al-Hazm” digulirkan memenuhi panggilan Presiden Yaman.

Di tahun 2017, Saudi memutus hubungan diplomatik dengan negara tetangganya, Qatar. Langkah Saudi diikuti negara-negara Arab di Teluk seperti Bahrain, Arab Saudi, UEA dan Mesir yang memutuskan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Qatar, karena dituduh sebagai negara donatur dan pendukung terorisme. Meskipun demikian, warga Qatar tetap dipersilahkan untuk menunaikan ibadah umrah dan haji.

Pada 25 Oktober 2017 , Forum Investment Initiative di Riyadh dibuka. Tampak sejak saat itu peran MBS sebagai Putra Mahkota mendominasi pemberitaan di media massa.

MBS memimpin Saudi untuk menghadirkan misi masa depan; Neom, yang berarti “neo” (baru) dan “m” dari kata “mustaqbal” (future). Kawasan ini digadang sebagai kawasan ekonomi, pendidikan, budaya, dan lain sebagainya, berbasis teknologi tinggi.

Sejalan dengan cita-cita tersebut, MBS memberesi tata kelola negaranya agar terbebas fasad (korupsi, kolus, nepotisme). Saat itu, 50 orang dari kalangan menteri, pejabat tinggi, dan pangeran keluarga kerajaan Arab Saudi, yang sedang menjabat atau yang telah pensiun, diperiksa terkait korupsi. MBS berstatemen: “لن ينجو أي شخص من قضية فساد أياً كان”  (Tidak akan ada yang luput bagi siapapun, jabatan apapun, yang terlibat dalam skandal korupsi).

Bersama dengan itu, digulirkan regulasi pemerintah Arab Saudi, yang menurut sebagian orang menjadi lebih moderat. Peran wanita Saudi diberi kesempatan yang lebih besar porsinya; lapangan pekerjaan, menyetir kendaraan, dibolehkan ikut menyaksikan pertandingan olahraga, hingga safar ke luar negeri. Tetapi tetap terikat dengan agama dan adat tradisi.

Pada pertengahan Mei 2016, berdiri Haiyah ‘Ammah Tarfiyah (General Entertainment Authority), yang menjadi eksekutor legal untuk pembukaan bioskop, konser musik dan hiburan lainnya di seluruh Arab Saudi.

Ulama Arab Saudi, utamanya dari kalangan kibar, dihujani pertanyaan terkait hal ini. Nasehat telah disampaikan, tetapi GEA tetap dengan misinya, merancang berbagai macam acara hiburan, terlepas syar’i atau menyelisihi budaya Arab.

Beberapa kalangan menduga, sektor pendidikan dan olahraga juga gencar disekulerkan. Tidak mengherankan, seni musik segera dipelajari di perguruan tinggi dan para wanita mulai dilatih menjadi atlet olahraga.

Sejak 2017, VAT (Value Added Tax) diberlakukan untuk komoditas barang tertentu di Arab Saudi. Sekaligus, penerapan dependent fee untuk keluarga ekspatriat yang bermukin di Saudi.

Sektor pariwisata pun dibuka selebar-lebarnya. Mempersilahkan seluruh warga dunia berwisata ke Arab Saudi. Tetapi seiring dengan itu, Saudi tetap menjaga nilai-nilai Islam dan Arab. Hal ini tertuang dalam peraturan yang diterbitkan mengatur prilaku dan adab masyarakat. Bahkan, Kepala Bagian Pariwisata Ahmad Al-Khatib memastikan bahwa kampanye pariwisata di Arab Saudi akan tetap tidak akan melegalkan alkohol dan toko-toko harus tutup saat waktu shalat 5 waktu.

Ada anggapan bahwa dibukanya sektor ini, karena Arab Saudi menuju kebangkrutan. Pendapat ini meyakini bahwa produksi dan pendapatan minyak Arab Saudi berkurang.

Fakta mengatakan sebaliknya. Bloomberg melaporkan bahwa Aramco, perusahaan minyak Arab Saudi, berhasil membukukan keuntungan sebesar 111 Milyar Dollar US pada tahun 2018. Atau setara dengan total keuntungan 3 perusahaan raksasa Amerika jika digabungkan; Apple, Google dan Exxon Mobile.

Di semester pertama 2019 ini, keuntungan bersih Aramco mencapai 49.6 milyar USD, dengan produksi 10 juta barel setiap harinya sama dengant tahun sebelumnya.

Sempat terjadi penurunan harga minyak dunia, Kepala Eksekutif Saudi Aramco, Amin Al Nasser optimis: “Terlepas dari penurunan harga minyak selama paruh pertama 2019, kami akan terus mencapai laba yang besar.”

Apa yang dilakukan Saudi di sektor ekonomi di atas, tak lebih sebagai strategi awal; melepaskan ketergantungan dari devisa minyak. Saudi ingin beralih, sebagai negara kaya dari hasil non-migas.

Di balik itu semua, kekayaan negara Saudi, tidak dinikmati segelintir keluarga raja dan rakyatnya saja. Banyak manfaat dirasakan negara dunia atas kedermawanan negeri Saudi. Tetapi media umumnya kurang mempublikasikannya dan tidak jujur.

Dukungan Arab Saudi terhadap kaum muslimin yang tertindas, terzalimi, di seantero dunia tetap konsisten. Meskipun, kebanyakan media mainstream dunia, memborbardir dengan berita hoax rutin muncul setiap pekan.

Mengakhiri tulisan ini, tidak ada salahnya mengutip bait puisi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, yang “menunjukkan rasa cinta yang tulus dan bukan basa-basi terhadap kerajaan tercinta ini dan sebagai sebuah kebanggaan terhadap poros Saunesia.”

Untain Puisi Diplomatik Dubes RI untuk KSA, Agus Maftuh Abegebriel

Tema Terkait

Ada Apa dengan Arab?

Ada Apa dengan Arab?

Di negeri kita, Arab seringkali jadi bahan olok-olokan. Penyebutan onta, sobat gurun, dan kadal gurun,