Muwafiq Jika Menghina Nabi di Arab Saudi

  • 9 Desember 2019
  • 4,439 views
Muwafiq Jika Menghina Nabi di Arab Saudi Hamzah Kasghghari (foto: Al-Arabiya)

Seorang da’i berambut gondrong di Indonesia tiba-tiba ramai jadi topik pembicaran di media sosial. Kehebohannya disebabkan karena dugaan menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di depan jemaah pengajian. Bagaimana seandainya dia berwarganegara Saudi dan tinggal di negeri Raja Salman?

Kasus serupa Muwafiq pernah terjadi negeri Haramain. Di awal Februari 2012, Hamzah Kashghari, seorang jurnalis harian Al-Bilad, harus berurusan dengan pihak berwenang karena cuitannya.

Bertepatan dengan Rabiul Awwal, bulan kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Kashghari menulis di akun twitter-nya:

في يوم مولدك لن انحني لك، لن أقبل يديك، سأصافحك مصافحة الند للند، وابتسم لك كما تبتسم لي وأتحدث معك
كصديق فحسب .. ليس أكثر # في يوم مولدك أجدك في وجهي أينما اتجهت، ساقول إنني أحببت أشياء فيك، وكرهت أشياء أخرى ولم أفهم الكثير من الأشياء الأخرى # في يوم مولدك سأقول إنني أحببت الثائر فيك، لطالما كان ملهمًا لي ولم أحب هالات القداسة، لن أصلي عليك

Kontan tulisannya memicu kemarahan netizen dan warga muslim dunia. Khususnya di Arab Saudi, lebih dari 30 ribu cuitan meminta agar Kashgari dihukum atas tulisannya tersebut. Bahkan sebuah grup di Face Book yang diikuti oleh puluhan ribu orang, menuntut qishash, “الشعب يريد القصاص من حمزة كاشغري”.

Awalnya, dia merasa bahwa dirinya melakukan kebebasan berekspresi dan sebagai hak asasinya menulis seperti itu, sebagaimana wawancaranya dengan media thedailybeast. Yang mendukungnya pun tak kalah banyak, terutama lembaga Hak Asasi Manusia (HAM) di negara Barat.

Sejalan dengan tuntutan untuk mengadili Kashghari semakin besar, Lajnah Daimah Lil Buhuts il-Ilmiyah wal Ifta (Lembaga Fatwa) Arab Saudi, yang dipimpin Grand Mufti Syaikh Abdul Aziz bin Abddullah Al Syaikh, mengeluarkan fatwa terkait kasusnya.

Komite Fatwa meminta kepada Kerajaan Arab Saudi agar mengambil langkah hukum menindak Kashghari. Lajnah pun mengingatkan kaum muslimin agar tidak melakukan hal serupa, penghinaan kepada Rasulullah, baik berupa perbuatan, ucapan atau tulisan.

Dalam rilis bayan-nya, Komite Fatwa Arab Saudi memastikan siapa saja yang menghina Rasulullah dan Allah merupakan bagian dari kekufuran dan telah keluar (murtad) dari Islam. Dalam bayan tersebut juga dibuktikan keburukan Kashgari lainnya.

Pada 7 Februari 2012, Kashghari kabur dari Arab Saudi mencari suaka. Dia terbang ke Jordan, kemudian ke Uni Emirat Arab, hingga tiba di Kuala Lumpur Malaysia. Belum selesai dia melanjutkan perjalanan ke negara tujuan mencari suaka, pemerintah Malaysia menangkap dan mendeportasinya kembali ke Arab Saudi atas permintaan Pengadilan Tinggi Arab Saudi.

Tidak sedikit lembaga HAM internasional berteriak dan mengecam sikap Malaysia. Mereka kuatir Kashghari akan diadili tanpa proses yang benar dan menghilangkan hak-haknya.

Saat Kashghari kembali tiba di Arab Saudi, suara masyarakat terpecah menjadi 3 kelompok; yang pertama harus tetap dihukum, yang kedua tetap menyalahkannya dan memungkinkan menerima taubat serta istighfarnya, dan kelompok ketiga yang mencukupkan taubatnya tanpa diproses secara hukum.

Akhirnya, melalui proses pengadilan dengan didampingi pengacara Muhammad Afiq Mohamad Nor, yang ditunjuk keluarganya, Kashghari dijebloskan ke penjara Hair, Riyadh.

BACA: Penjara Al-Hair Menjadi Tempat yang Paling Ketat Dijaga

Satu tahun setelahnya, tepat pada tanggal 30 Oktober 2013, dia dibebaskan dari penjara. Syaikh Majid Ayub menjelaskan kepada khalayak atas taubat dan penyesalan Kashghari. Kashghari melakukan mandi dan mengucapkan dua kalimat syahadat kembali, sebagai bukti kesungguhan atas taubatnya.

Tidak cukup di situ, Kashghari mulai ikut bermajlis dengan beberapa masyayikh. Dalam keterangannya, Syaikh Ayub juga menyatakan bahwa Kashghari berlepas diri atas tulisan dan pemikirannya yang telah lalu. Saat Kashghari ditanya tentang taubatnya;

هل أنت فعلت هذا خوفا من الله أم خوفا من الناس: فقال خوفا من الله وهو يبكي

“Apakah Anda melakukan (taubat) ini karena takut karena Allah atau takut kepada manusia?” Kasghghari menjawab: “Saya takut karena Allah,” sambil menangis.

Apa kabarnya Muwafiq di Indonesia? [jll]

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait