Bantahan Universitas Islam Madinah di Atas Lintas Manhaj

  • News Admin
  • 17 Desember 2019
  • 1050 Views
Bantahan Universitas Islam Madinah di Atas Lintas Manhaj

Awal berdirinya Jamiah Islamiyah Madinah (UIM), bahkan di banyak lembaga pendidikan Arab Saudi ketika itu, tokoh Ikhwanul Muslimin (IM) memiliki andil yang sangat besar. Fakta ini tidak bisa dipungkiri.

Karena Saudi belum banyak ulama saat itu, ditambah lagi pengalaman akademisi yang kurang. Sehingga dibawalah para tokoh, dosen, pengajar dan tenaga lainnya, dari berbagai negara yang kompeten di bidangnya, seperti dari Mesir, Tunisia, Lebanon, dan lain-lain. Yang pastinya mereka banyak membawa paham IM.

Dampaknya bisa dilihat, pengaruh besar pemikiran ikhwani di Arab Saudi pada era 70-80 an, sehingga akhirnya Arab Saudi berbenah dan sudah mulai memiliki banyak ulama.

Kemudian ta’lim dan dunia pendidikan Saudi Arabia, semua diatur berasaskan manhaj salaf. Walhamdulillah.

Saat ini, paham IM telah resmi dilarang di Arab Saudi, karena dianggap berbahaya.

Bahkan, UIM sudah jelas melarang paham IM. Ini ditunjukkan dengan diselenggarakannya muktamar resmi tentang bahayan pemikiran IM, yang dihadiri oleh rektor UIM dan Amir Madinah al-Munawwarah.

Jika ada statemen bahwa UIM berdiri di atas lintas manhaj, maka jelas tidak benar. Karena sejak awal berdirinya, UIM telah berdasarkan asas manhaj salaf yang dipimpin oleh para ulama salafi kala itu.

Seperti Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahumallah . Sebagaimana nama kedua nama tersebut diabadikan menjadi nama 2 masjid di dalam kampus UIM.

Adapun tanda tangan para tokoh non salafi yang tersebar di media sosial, bukan sebagai pengakuan UIM akan kebenaran manhaj mereka yang ikut bertanda tangan. Tetapi tidak lebih sebagai pengakuan mereka terhadap UIM.

Kita ucapkan jazahumullahu khoiron kepada mereka sudah mengakui berdirinya UIM, Semoga menjadi amal sholih mereka.

Syaikh Dr. Muhammad Nashir Al-Abudy menjelaskan ketika ditanya tentang nama-nama dewan musytasyar tersebut: “mereka yang dari luar Arab Saudi diundang (dan mereka saat itu orang-orang terkenal) diminta pendapat tentang aturan jami’ah, asas, pelajaran dan lain-lain, oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (Mufti Saudi Arabia kala itu).”

Mereka hanya menjabat sebagai Dewan Musytasyar selama 2-3 tahun saja. Kecuali yang sudah dipilih untuk menjadi dosen tetap, seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqity, dan lain-lain.

Mereka hanya diberitahukan tentang aturan-aturan jami’ah, diminta pendapatnya, lalu mereka tinggal menyetujui atau tidak. Dan yang menjadi pembuat kurikulum sudah jelas, masyayikh yang bermanhaj salaf ketika itu rahimahullah Ta’ala.

Landasan Jamiah Islamiyah bisa diperiksa di website resminya. Dipastikan, tidak akan kita temui slogan: “kita berdiri di atas semua golongan.” Tetapi yang ada adalah “mengikuti Al-Quran dan Sunnah menurut Pemahaman Salafus Shalih.

Hal ini juga diperkuat dengan perkataan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah Ta’ala dalam kitab Al-Ittiba li as-Salaf ash-Shalih I’tiqodan wa Manhajan wa Fiqhan, hal 30.

و نوصيك بالاتحاق بالجامعة الإسلامية بالمدينه المنوره فهي جامعة سلفية تعلم طلابها عقيدة أهل السنة والجماعة

“Kami wasiatkan untuk melanjutkan pendidikan di Jamiah Islamiyah Madinah Munawwarah, karena jamiah islamiyah adalah universitas salafiyah yang mengajarkan murid-muridnya aqidah Ahlussunnah wal Jamaah.”

Meskipun ada sebagian dosen, pengajar dan civitas Jamiah yang non salafi, ini bukan berarti mereka dapat bebas mengajar apapun di UIM.

UIM memiliki kurikulum yang berdasarkan manhaj salaf yang sudah jelas. Jadi bukan UIM yang mengikuti mereka, tapi mereka yang ikut aturan jamiah.

Tenaga pengajar non salafi hanya boleh mengajar ilmu-ilmu alat saja, seperti balaghah, nahwu, tarikh, dan semisal.

Sekali lagi, Jika UIM dilabeli lembaga pendidikan lintas manhaj, maka dapat dipastikan kurikulumnya tidak seperti saat ini.

Wallahu A’lam. Semoga mencerahkan.

~ Obrolan ringan bersama asatidz dirosat Univ. Islam Madinah di Grup Takhusus Aqidah dan Firoq~

~ Di rangkum oleh Al-Faqir Abu Yusuf ~

*) Dirubah seperlunya dengan tidak merubah maksudnya.

Tema Terkait