Inggris dan Sejarah Berdirinya Arab Saudi

  • News Admin
  • 2 Januari 2020
  • 1866 Views
Inggris dan Sejarah Berdirinya Arab Saudi

Ottoman semakin lemah. Tahun 1908, khilafah dihapuskan meski jabatan sultan diperbolehkan hingga beberapa tahun. Ideologi Ottoman resmi menjadi nasionalisme Turki. Ulama menyebutnya Turaniyah.

Tanggal 29 Oktober 1914, Ottoman mengumumkan perang terhadap aliansi (Inggris, Prancis, Rusia, dan AS). Ottoman berharap banyak pada Jerman yang sudah lama bekerjasama. Jadi kalau Inggris dan kawan-kawan menyerang wilayah Ottoman dan memecahnya, wajar. Namanya saja perang.

Di sisi lain, muncul pemberontakan di seluruh wilayah Arab. Selama ini mereka merasa dijajah oleh Ottoman. Ditambah pernyataan dukungan Inggris, meletuslah pemberontakan Syarif Husain tahun 1916.

Inggris masuk ke wilayah Teluk Arabia dan Iraq. Mereka berusaha mengamankan wilayah tersebut agar tidak jatuh ke Ottoman. Mereka mempercayakannya kepada Faisal anak Syarif Husain dan beberapa pemimpin suku.

Di jantung jazirah Arab, posisi Ibnu Saud makin kuat. Semua buku sejarah menyatakan daulah tersebut adalah daulah dakwah. Problemnya, berbagai kekuatan di sekitarnya sedang bertarung.

Saat Ottoman terdesak oleh Inggris di Palestina, pada tanggal 4 Desember 1917, komandan Ottoman bernama Cemal Pasha membujuk Syarif Husain dan menjelaskan rencana penyerahan Palestina kepada Yahudi. Namun Syarif Husain punya perhitungan lain. Jadi tidak benar jika Syarif Husain tidak tahu perjanjian Sykes-Picott. Bujukan Cemal Pasha diacuhkan.

Ottoman melihat kekuatan Ibnu Saud. Maka dikirimlah utusan yang salah satunya adalah ulama terkenal Mahmud Syukri al-Alusi. Ibnu Saud dihadiahi 10.000 lira emas. Dia diminta agar tidak mengganggu jalur perdagangan Ottoman serta jamaah hajinya. Ibnu Saud menyetujuinya.

Inggris mendekati Ibnu Saud dengan harapan wilayah Iraq, Qatar, Kuwait, tidak diekspansi Ibnu Saud. Karena saat itu Ibnu Saud melihat ancaman Syarif Husain, maka Inggris menawarkan senjata dan uang 60.000 pound setahun.

Lalu disepakati perjanjian Darin yang pokok utamanya (nomor 1) adalah Inggris mengakui kedaulatan Ibnu Saudi dengan batas-batas yang disepakati. Juga agar Ibnu Saud tidak menyerahkan wilayahnya kepada siapapun. Poin lain soal keamanan jamaah haji.

Syarif Husain di Mekkah, juga tidak ketinggalan mengirimkan hadiah berupa emas dan pakaian. Kekuatan Ibnu Saud tentu nanti bisa jadi halangan jika urusan dengan Ottoman selesai. Hadiah dari Syarif Husain ini tidak diterima Ibn Saud, bahkan membuatnya marah.

Tentara Ottoman kalah oleh Inggris dibantu Syarif Husain. Garnisun terakhir Ottoman yang dipimpin Jenderal Fakhri Pasha, bertahan di Madinah.

Selama dikepung Inggris dan Syarif Husain, mata-mata Ibnu Saud diketahui berhubungan dengan Fakhri Pasha. Ini penuturan John Philby, penasehat Syarif Pasha sendiri. Fakhri Pasha kemudian dipulangkan ke Istanbul.


Dengan kenyataan di atas, Ibnu Saud dituduh:

  • Memberontak kepada Ottoman;
  • Piaraan Inggris; dan,
  • Membantu Palestina lepas.

Mereka yang menuduh demikian, menggunakan alasan karena bantuan Inggris di atas.

Sumber: Vassiliyev, Az-Zirikli, Eugene Rogan, John Philby, David Murphy, Gary Troeler.

*) Ditulis oleh Ibnu Rajab, pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam

Tema Terkait

Panadul – Obat Dosa

Panadul – Obat Dosa

Panadul, Obat Mujarab Untuk Penyembuhan Semua Dosa, Gelisah, Sedih dan Sakit Kreatif juga ulama di