Rahmat Baequni Tuduh Alumni Saudi Mendapat Uang Saku Rp 20 Juta Perbulan

  • News Admin
  • 23 Januari 2020
  • 9271 Views
Rahmat Baequni Tuduh Alumni Saudi Mendapat Uang Saku Rp 20 Juta Perbulan

Dalam sebuah ceramah, Rahmat Baiquni (RB) berbicara kedatangan Imam Mahdi hingga menyinggung asatidzah lulusan Makkah dan Madinah. Apa salahnya?

RB mengkhawatirkan Imam Mahdi muncul “tahun depan” alias tahun 2020 ini, mengingat ceramahnya disampaikan pada tahun 2019. Sayang, dia tidak memperinci waktu, hari, tanggal dan bulan berapa.

Padahal perkara masa datang merupakan perkara ghaib, tidak ada satupun ahli ilmu membuat dugaan kira-kira, apalagi terkait kedatangan Imam Mahdi. 

Ulama pun telah banyak membahasnya, tetapi tidak pernah selancang RB mengatakan: “akhir umat, kemungkinan zaman kita.” 

Siapa RB yang mengklaim akhir umat manusia adalah tahun 2020? Menukil dalil dan hujjah dari mana? Tidak heran ramalan ini persis “orang pintar” menurut orang-orang bodoh.

“Islam di Tanah Arab, banyak ustadz yang hebat ketika ceramah, merasa paling quran dan sunnah, tahdzir sana-sini. Tetapi mereka tidak bisa membendung maksiat di tempat mereka belajar Islam, ada apa ini?” Tanya RB penasaran.

Jawabannya adalah imajinasi RB tentang asatidzah yang dimaksud berawal dari hatinya yang kotor. Tidak ada satupun ustadz yang dikatakan menimba ilmu di Tanah Arab, merasa paling quran dan sunnah. 

Untuk membuktikannya, simak kajian-kajian mereka secara utuh, bukan penggalan yang biasa tersebar di media sosial dan disalahartikan kemudian disimpulkan sesuai keinginannya. 

Adapun kemaksiatan, tidak satupun yang tidak mengingkarinya. Hanya saja, yang diinginkan RB adalah menyikapinya seperti kaum Khawarij, bukan cara Ahlu Sunnah. 

Bagaimana cara membendung maksiat model Khawarij? Ya, seperti yang sedang diperagakan RB selama ini. 

Dari ceramahnya, dia menuduh uang saku Rp 20 juta perorang agar bersikap diam. RB mengaku tidak akan berbicara jika tanpa data.

Sayang, datanya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Padahal begitu banyak Ustadz alumni negeri Arab yang dapat dimintai tabayun, daripada taken for granted “kepada yang sudah hijrah.” Inikah penceramah yang berbicara dengan data?

Yang lebih parah lagi, RB sesumbar menantang siapa yang akan diazab Allah di antara kita; “apakah kalian yang merasa benar atau kami yang kalian tahdzir.”

Tantangan seperti ini tidak muncul kecuali dari mulut orang sombong. Tanpa sadar RB telah mengatakan bahwa “mereka yang pasti diadzab.”

Masih banyak racun yang perlu dinetralisir dari RB. Dan kesimpulannya bisa dipetik dari peringatan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid:

“Tidak boleh memastikan menurunkan hadits-hadits shahih untuk realita yang disaksikan oleh penulis bahwa hadits tersebut cocok dengan realita dengan tanpa memperhatikan dhowabit. Ini bukan merupakan perbuatan para peneliti dari kalangan para ahli ilmu. Karena hadits-hadits ini adalah perkara ghaib yang tidak diketahui hakikatnya oleh siapapun.

Suatu kejadian yang dilihat oleh seorang peneliti mencocoki hadits, terkadang ada kejadian lain lagi yang jauh lebih cocok pada zaman setelahnya. Maka ucapan penulis bahwa musuh yang dihadapi kaum muslimin dan nasrani adalah bangsa Cina, Rusia dan Iran adalah merupakan urusan ghaib.

Tidak boleh bagi siapapun untuk memastikannya (bahwa musuh yang disebut dalam hadits tersebut adalah Cina, Rusia dan Iran-pent). Kesalahan inilah yang dilakukan oleh penulis buku “Armagedon penjelasan terakhir wahai umat Islam” yang bernama Amin Muhammad Jamaludin pada hal. 7 dan 49.” (Sumber: Fatwa Islam Soal Jawab no. 128682). jll

Tema Terkait