Runtuhnya Kerajaan Arab Saudi Pertama

  • News Admin
  • 6 Februari 2020
  • 1883 Views
Runtuhnya Kerajaan Arab Saudi Pertama

Tahun 1802, pasukan Abdul Azis bin Muhammad bin Saud (anak sulung pendiri dinasti Saudi I), menyerbu Karbala. Peristiwa ini dilatarbelakangi pembunuhan beberapa orang Nejed yang dilakukan orang Karbala.

Maka masuklah pasukan Abdul Azis ke Karbala, namun pembunuhnya tidak diserahkan. Mereka lalu mengultimatum, namun diacuhkan.

Mereka lalu membunuh orang-orang Syiah tersebut. Pasukan ini menghancurkan kubah yang didirikan untuk memuja dan berdoa kepada Husain bin Ali radhiyallahu anhuma. Kuburan ini juga jadi tempat orang-orang musyrik mencaci istri Rasulullah.

Tahun 1804 Abdul Azis ditikam ketika hendak melakukan shalat oleh seorang Syiah. Orang Syiah tersebut berpura-pura menerima dakwah tauhid, namun merencanakan pembunuhan, dan berhasil. Beliau wafat dalam usia 82 tahun.

Kepemimpinan Abdul Azis diteruskan putranya, Saud bin Abdul Azis yang saat itu berusia 55 tahun. Saud dan putranya Abdullah, segera melanjutkan misi ayahnya. Bersama pasukan mereka kemudian masuk ke Mekkah-Medinah, memberantas kemaksiatan yang terjadi di kota suci tsb. Mereka mengawal para jamaah haji dan membunuh para perampok.

Saud mengirim surat ke Istanbul, mengabarkan kondisi tersebut dan meminta Istanbul melarang praktek-praktek kemaksiatan dan kesyirikan di Tanah Haram. Tentu saja, banyak yang benci dengan hal ini.

Mereka yang benci ini pun membuat laporan-laporan ke Istanbul. Istanbul terpancing. Disuruhlah gubernur Ottoman di Mesir, Muhammad Ali Pasha, utk mengumpulkan informasi. Muhammad Ali adalah orang Albania, bukan Mesir.

Muhammad Ali Pasha mengumpulkan informasi, lalu dikumpulkanlah para ulama Al-Azhar menilainya. Dihadapan ulama Al-Azhar dibacakan laporan-laporan tsb. Namun para ulama ini menilai, tdk ada yang salah dengan aktivitas Saud.

Dalam laporan tsb, disebutkan bahwa Saud melarang khamer, penggunaan sutra dan emas bagi laki-laki, rombongan penyanyi dan pemusik, dan sebagainya. Sesuatu yang diinginkan para ulama itu untuk diberantas, namun mereka tidak mampu. Penggunaan sutra dan emas bagi laki-laki, sudah umum di Istanbul bahkan dikalangan pejabat. Lebih-lebih musik, sudah jadi menu istana.

Namun Muhammad bin Ali Pasha melihat kasus ini utk menaikkan daya tawarnya kepada Istanbul. Dia memutuskan membasmi dakwah Ibnu Saud.

Dia pun mengerahkan tentara yang dipimpin putra sulung Muhammad Ali bernama Thusun. Mereka menyerbu Hijaz dan berhasil namun belum menghabisi dinasti Saud. Pasukan Ottoman Mesir itu mengirim 4.000 telinga sebagai tanda kesuksesan. Ekspedisi ditunda. Tahun 1814, Saud wafat di Di Dir’iyah. Komando diambil alih anaknya, Abdullah.

Lalu penaklukan dilanjutkan anaknya Ibrahim Pasha. Singkat cerita, misi Ibrahim menumpas kekuatan dinasti Saud I berhasil. Tentu dengan cerita kekejaman. 400 orang keluarga Alu Saud dan Alu Syaikh (keturunan Muhammad bin Abdul Wahhab) ditangkap dan dikirim ke Kairo. Salah satu keturunan Alu Syaikh bernama Abdurrahman bin Abdullah kemudian mengajar fikih Hambali di Al-Azhar.

Abdullah bin Saud sendiri dibawa ke Istanbul. Disana dia diarak untuk dipermalukan. Bersama 2 (dua) orang pengikutnya, dia dipancung di hadapan khalayak di gerbang utama Hagia Sophia. Mayatnya dipamerkan dengan kepala terpisah, lalu dilemparkan ke laut 3 hari kemudian.

Sebelum dieksekusi, diputarkan musik berupa seruling, gitar, dan alat musik lainnya. Mereka melakukannya karena tahu bahwa “Wahhabi” mengharamkan musik.

Berita kekalahan dinasti Saud dirayakan di Kairo. Shah Iran, pemimpin dinasti Shafawi Syiah di Iran mengirim surat ke Kairo. Dia mengucapkan selamat dan mengungkapkan kegembiraanya. Dendam Syiah atas Karbala telah terbalaskan..

Seratus tahun setelah eksekusi itu, dinasti Ottoman bubar. Para sultannya dihinakan oleh bangsanya sendiri. Untuk keluar dari istana, sultan Mehmed VI bahkan harus melalui pintu dapur, sebelum diusir dari Istanbul. Dia keluar menuju Italia dengan menumpang kapal HMS Malaya milik Inggris.

Referensi:
Alexei Vassiliyev, “The History of Saudi Arabia”
JL. Burckardt, “Notes on Bedouins and Wahhabys” Vol. II.

*) Ditulis oleh Ibnu Rajab, pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam

Tema Terkait

Saudi Antek Yahudi

Saudi Antek Yahudi

Sebuah pertemuan berlangsung pada 14 Februari 1945 di atas kapal perang jenis penjelajah milik Angkatan