Semakin Belajar, Hati Semakin Kering; Sebuah Kisah Mahasiswa Madinah

  • News Admin
  • 9 Februari 2020
  • 338 Views
Semakin Belajar, Hati Semakin Kering; Sebuah Kisah Mahasiswa Madinah

Salah seorang ustad bercerita, bahwa murid terbaiknya tidak melanjutkan ke jenjang S2 (tidak mendaftar) di Universitas Islam Madinah, padahal beliau selama mahasiswa, nilainya selalu “mumtaz murtafi‘.” Berikut kisahnya.

Beliau bercerita sambil menangis, bahwa dirinya merasa semakin belajar semakin keras hatinya, membaca Al-Quran pun tidak pernah menangis lagi, saat sholat juga tidak pernah menangis lagi. Itulah salah satu sebab beliau memilih untuk kembali pulang, mengabdi kepada orang tuanya.

Saat sekolah di SMA umum, beliau tidak bisa berbahasa Arab dan terbata-bata, tidak lancar membaca Al-Quran. Kemudian hidayah menyapa ketika akan lulus. Setelah itu, beliau berusaha dengan sungguh-sungguh belajar tahsin dan bahasa Arab.

Ketika lulus, beliau masuk Universitas Gunadarma menuruti kemauan orang tuanya. Akan tetapi dalam hatinya tidak sreg alias memberontak, akhirnya meminta nasehat kepada salah satu gurunya untuk belajar agama di lembaga yang dikelolah sang ustad tersebut di LSIA Bekasi.

Dari awal masuk tidak paham bahasa arab sama sekali, akan tetapi kesungguhan belajar membuahkan hasil. Bahkan beliau hampir tidak pernah mengambil jam istirahat, melainkan digunakan untuk setoran Bulughul Maram.

Saat kelulusan, beliau menjadi mahasiswa terbaik, mengalahkan teman-temannya lulusan pondok pesantren ternama di Indonesia.

Kemudian beliau melanjutkan belajar ke Sukabumi, sebuah lembaga yang baru dibuka sebagai angkatan pertama. Dengan kesungguhannya, hanya 6 bulan saja, beliau mampu menghafalkan Al-Quran 30 juz mutqin. Tempat tidurnya di masjid, jarang di asrama.

Setelah dua tahun di sana, beliau pun lulus. Lalu mencoba mendaftar kuliah ke Timur Tengah. Saat itu, beliau mendapatkan beasiswa ke Mesir, tetapi Mesir sedang bergejolak (tahun 2011), maka dibatalkan keberangkatannya ke Mesir.

Beberapa bulan kemudian, namanya tercantum di pengumuman penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah. Walhamdulillah.

Akhirnya beliau ke Madinah dan belajar dengan sungguh-sungguh.

Selama di Madinah, beliau berhasil mengkhatamkan membaca Kitab Siyar Alam Nubala 30 jilid, sebanyak 3 kali. Saat itu beliau memotivasi murid-muridnya termasuk kami agar selalu memanfaatkan waktu dengan muroja’ah dan membaca.

Beliau sangat berwibawa, tidak suka dengan ketenaran. Setelah setahun mengajar di LSIA, beliau memilih untuk kembali ke Klaten agar dekat dengan ibunya dan mengajar di salah pondok terkenal di kota Solo.

أحسب كذلك و الله حسيبه

Semoga Allah menjaga beliau dan kami semua agar senantiasa istiqomah di atas Agama Islam yang Haq.

اللهم اجعل القرآن ربيع قلوبنا ونور صدورنا

~Abu Yusuf ~

*) Dinukil dari tulisan Abu Yusuf Akhmad dengan beberapa perubahan yang diperlukan.

Tema Terkait