Ikhwanul Muslimin Buka Cabang di Arab Saudi

  • News Admin
  • 14 Februari 2020
  • 1767 Views
Ikhwanul Muslimin Buka Cabang di Arab Saudi

Raja Abdul Aziz, sejak berdirinya Arab Saudi tahun 1932, selalu mengundang para tokoh dan pemimpin dunia Islam. Pertemuan ini biasanya diadakan pada musim haji.

Tahun 1936, Hasan Al-Banna berhaji pertama kali. Dia pun diajak bersilaturahmi dengan Raja Abdul Aziz. Dalam pertemuan tersebut, Al-Banna meminta waktu untuk berpidato. Kata Abdul Halim Mahmud,

وبدأ آل سعود يعترفون علي الداعية الجديدة

“Keluarga Al-Saud mulai kenal dengan dai baru (Al-Banna) “

Dalam pertemuan itu, Al-Banna meminta pembukaan cabang Ikhwan. Namun ditolak dengan halus oleh Raja Abdul Azis dengan mengatakan:

كلنا اخوان كلنا مسلمون

“Kita semua ikhwan, kita semua muslim.” Al-Banna beserta 100 anggota Ikhwan pun kembali.

Tahun 1945, Al-Banna kembali berhaji, namun tidak bertemu dengan Raja Abdul Aziz. Tahun itu, Raja Abdul Aziz mengunjungi Iskandariah, Mesir.

Jamaah Ikhwan dikerahkan untuk menyambut dan mengawal Raja Abdul Aziz. Rakyat Mesir menyambut Raja Abdul Aziz karena berita bahwa sang raja menerapkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan melaksanakan hudud. Kisah ini juga pernah diceritakan Yusuf Qaradhawi.

Musim haji tahun 1946, Raja Abdul Aziz mengundang Al-Banna untuk minum teh dan makan siang di hotel Bank Misr. Sebenarnya, Al-Banna direncanakan untuk dibunuh di Mekkah oleh pihak Mesir. Eksekutornya orang Yaman. Namun intelijen kerajaan mencium rencana ini. Maka Al-Banna pun diamankan.

Ketika Al-Banna kembali bertemu dengan Raja Abdul Aziz, lagi-lagi Al-Banna meminta ijin pembukaan cabang Ikhwan. Kembali Raja menolak dengan halus. Al-Banna balik ke Mesir.

Ikhwan mulai menyerang Saudi Arabia ketika Yaman dilanda kudeta. Saat itu yang berkuasa adalah dinasti Mutawakkil dengan raja bernama Imam Yahya. Otonomi Yaman dibuat ketika Ottoman masih ada.

Ikhwan mendukung kudeta dan mengirim utusan. Namun Saudi Arabia mendukung Imam Yahya. Imam Yahya terbunuh dalam kudeta, yang kemudian digantikan anaknya Imam Ahmad. Saudi Arabia dan Yordania langsung mendukung pemimpin baru ini. Ikhwan pun sangat marah.

Namun menurut Muhammad Husain Haikal, Ikhwan tetap mendapat bantuan dari Saudi. Al-Banna juga tetap mendapat perlindungan. Al-Banna diminta untuk tidak membahas politik ketika berhaji. Ini diungkapkan Al-Banna ketika berhaji tahun 1948.

Menurut Stephanie Lacroix, kerajaan Saudi tetap menjaga keamanan Al-Banna. Informasi rencana pembunuhan telah pernah disampaikan kepada Al-Banna, namun dia mengalihkan pembicaraan. Hingga kemudian Al-Banna pulang.

Tanggal 12 Pebruari 1949, Al-Banna dibunuh dengan tembakan pistol oleh seseorang dari balik kegelapan. Ikhwan menuduh pelakunya adalah suruhan raja Mesir. Stephanie Lacroix menyebut, “Al-Banna terbunuh meski pihak kerajaan Saudi berusaha menggagalkannya”.

Ada yang mengatakan bahwa Al-Banna sebenarnya kagum dengan Saudi Arabia. Dia menceritakan tentang Arab Saudi:

وفي التاريخ الحديث أروع المثل على ذلك، فمن كان يظن أن الملك عبد العزيز آل سعود وقد فنيت أسرته وشرد أهله وسلب ملكه يسترد هذا الملك ببضعة وعشرين رجلا، ثم يكون بعد ذلك أملا من آمال العالم الإسلامي في إعادة مجده وإحياء وحدته». – «مجموعة الرسائل» ص58

“Dalam sejarah modern, contoh paling indah dari hal ini adalah, siapa yang mengira bahwa Raja Abdulaziz Al Saud, keluarganya dihancurkan, dipindahkan, dan kekuasaannya dipulihkan oleh raja ini hanya dengan beberapa puluh orang? Maka hal itu akan menjadi harapan bagi dunia Islam untuk mengembalikan kejayaan dan menghidupkan kembali persatuannya” (Majmu’atur Rasail:59).

*) Tulisan Ibnu Rajab, Pengamat Timur Tengah dan Dunia Islam

Tema Terkait