Arab Saudi Tidak Ikut Campur Konflik di Libia

  • 23 Februari 2020
  • 1,551 view
Arab Saudi Tidak Ikut Campur Konflik di Libia

Tuduhan serius dilontarkan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, kepada Arab Saudi. Dikutip turkinesia.net, Erdogan mengatakan bahwa ada “hampir 15.000 teroris” mendukung Jenderal pemberontak Khalifa Haftar, yang didukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Benarkah?

Turkinesia sendiri, menerjemahkan dari Daily Sabah, tanpa bukti yang mendukung. Menurutnya, Saudi bersama UEA, Prancis dan Rusia membantu Haftar merebut ibu kota Tripoli.

Tuduhan tersebut, sebenarnya pernah dilontarkan media online Kiblat, mengutip Wall Street Journal (WSJ). Ibnu Rajab, pengamat Timur Tengah dan Dunia Islam meragukan ketepatan kutipan tersebut.

“Saya tidak tahu apa Kiblat benar-benar membaca WSJ atau tidak. Kiblat menulis,” tulisnya di salah satu status Facebook. “Kami cukup murah hati,” kata salah satu penasihat yang tidak disebutkan namanya, seperti dikutip WSJ pada Jumat (12/04/2019).

Pasalnya, setelah pernyataan penasehat anonim di atas, WSJ menyebutkan tidak ada konfirmasi baik dari Saudi maupun kubu Haftar.

“Ini yang disebut ‘cover-both-side.’ Tapi Kiblat tidak melakukannya, juga tidak menerjemahkan lengkap bagian penting tersebut.” Lanjut Rajab.

“Untuk mengetahui apakah Saudi terlibat di suatu wilayah atau tidak, sangat simpel. Cukup lihat apakah Iran terlibat atau tidak. Dalam konflik Libya, Iran tidak hadir. Jadi, Saudi pun begitu.” Paparnya lebih lanjut.

Hal ini dikuatkan dengan penjelasan jubir Haftar, Ahmad al-Mismari. Begitu pula Abdurrahman ar-Rasyid dalam sebuah artikelnya di As-Syarqul Awsat.

Ar-Rasyid menjelaskan Libya terlalu jauh dan Saudi fokus dengan masalah di Yaman. Ar-Rasyid adalah jurnalis senior Saudi mantan redaktur Al-Arabiya dan dekat dengan sumber kerajaan.

Sementara Al-Jazeera, media yang berbasis di Qatar, menjelaskan bahwa Saudi mendukung dana untuk Haftar, bersama dengan Rusia. Al-Jazeera mengambil sumber koran LeMonde, yang terbit di Prancis.

Pihak Arab Saudi pun sejak awal mengutuk pengiriman pasukan Turki ke Libia, karena tiga alasan; pelanggaran terhadap Resolusi Dewan Keamanan terkait kondisi Libia, merusak upaya internasional untuk menyelesaikan krisis Libya dan bertentangan dengan posisi Liga Negara Arab yang dirumuskan pada 31 Desember 2019.[]

Ditulis oleh: admin

Konten Terkait