Bukan Rabi Yahudi Israel, Tapi Dewan Pimpinan Pusat Dialog Internasional

  • News Admin
  • 23 Februari 2020
  • 2252 Views
Bukan Rabi Yahudi Israel, Tapi Dewan Pimpinan Pusat Dialog Internasional

Seperti biasa, media selalu mencari kesempatan untuk mengkampanyekan kedekatan hubungan Arab Saudi dan Israel. Mereka berusaha sekuat tenaga, menggiring opini, bahwa Israel diterima oleh Arab Saudi. Mengapa tidak membidik negara lainnya, seperti Iran, Turki atau Qatar, misalnya?

Kali ini media menulis judul berita “Untuk Pertama Kalinya, Raja Salman Terima Kunjungan Rabi Yahudi Israel.”

Judulnya menarik, pembaca bisa langsung berteriak, “bagaimana bisa negara Arab yang seharusnya mendukung Palestina justru menerima Rabi Yahudi Israel?!”

Akhirnya, keluarlah cacian, tudingan miring dan ketidakpercayaan dialamatkan kepada Arab Saudi. “Inilah bukti bahwa Arab Saudi memang budak dan ciptaan Yahudi.” “Sekutu AS, gak heran lah…”

Sejak dulu, Arab menjadi target media. Pendiskreditan dilakukan mulai dari film Hollywood, buku, cerita-cerita fiksi, hingga hoax video pangeran atau siapa saja berwajah Arab, digambarkan gemar foya-foya, main wanita dan miras. Mudah didapati di youtube yang seperti ini.

Dr. Fayz al-Qaisi, dosen di Universitas Islam Madinah asal Jordan, pernah menerangkan bahwa pada masa kekhilafahan ‘Abbasiyah muncul gerakan benci Arab. Gerakan ini mengajak semua orang untuk mengejek orang Arab dan menyebarluaskan kejelekannya. Pada akhirnya, mereka memusuhi Islam dan pemeluknya yang taat.

Gerakan ini diprakarsai oleh orang-orang yang berasal dari Persia atau yang nenek moyangnya dari sana. Pada mulanya mereka menuntut persamaan hak. Kemudian berkembang menjadi usaha meciutkan peran Arab sekaligus menjunjung peradaban Persia yang terkenal lebih modern.

Kebiasaan buruk mereka yang suka minum-minum dan bermain wanita ditularkan kepada masyarakat Arab. Selanjutnya, mereka mencemarkan Islam dan pengikutnya.

Masih menurut dosen pengampu mata kuliah “Studi Sastra Arab” ini, faktor yang melatarbelakangi munculnya gerakan tersebut beraneka ragam. Di antaranya adalah anggapan bangsa Persia merasa lebih layak untuk berada di puncak tampu kepemimpinan karena peradaban mereka -khususnya administrasi kenegaraan- lebih modern.

Dari segi agama disebabkan oleh keyakinan agama asli Persia sangat bertolak-belakang dengan Islam. Mereka menyembah api sedangkan dalam Islam hal tersebut termasuk syirik besar. (sumber)

Di era modern, kebencian kepada Arab didukung oleh media yang disusupi kepentingan tersebut. Anda bisa periksa, media mana yang sudi memberitakan prestasi dan kemajuan pesat di Arab Saudi saat ini. Paling rajin, mereka membesar-besarkan yang sepele, mengeneralisir dan tega menulis hoax.

Kembali ke judul tulisan ini, “Bukan Rabi Yahudi Israel, Tapi Dewan Pimpinan Pusat Dialog Internasional.”

Ya, mereka yang menghadap Raja Salman di Istana Yamamah, Riyadh., adalah tokoh senior dari agama-agama besar dunia; Buddha, Kristen, Hindu, Islam, dan Yahudi.

Mereka tiba pada hari Kamis (20/2) lalu, dalam sesi reguler ke-22 untuk membahas strategi King Abdullah bin Abdulaziz International Centre for Interreligious and Intercultural Dialogue (KAICIID), untuk tahun 2020.

Kunjungan tersebut dipimpin oleh Faisal bin Mu’ammar, Sekretaris Jenderal KAICIID.

Raja Salman menekankan pentingnya peran KAICIID dalam mengkonsolidasikan prinsip-prinsip dialog dan koeksistensi antara berbagai agama dan budaya, mempromosikan nilai-nilai moderasi dan toleransi, dan memerangi semua bentuk ekstremisme dan terorisme.

“Kami berterima kasih kepada Kerajaan Arab Saudi karena menjadi tuan rumah pertemuan kami ini pada waktu yang penting dalam pengembangan KAICIID,” kata Sekretaris Jenderal KAICIID.

Selama di Riyadh, anggota Dewan dan staf KAICIID akan mengadakan serangkaian acara dan kunjungan ke lokasi-lokasi penting di Riyadh. Selain itu, mereka memanfaatkan kunjungan tersebut untuk membahas kerja sama dengan Dewan Kerjasama Teluk (GCC).

Lantas, mengapa media membesar-besarkan seorang rabi daripada urgensi acara di atas? Penjelasannya telah berlalu di atas. Begitulah cara kerja “Saudi Haters.”

Judul berita media, mengarah kepada salah satu anggota dewan KAICIID yang ikut dalam rombongan; Rabi David Rosen, Komite Yahudi Amerika, Direktur Internasional Urusan Antaragama.

Dia dianggap sebagai Rabi Yahudi Israel, padahal dia lahir di Newbury, Berkshire, Inggris. Pernah ditugaskan ke beberapa negara dunia dalam misi dialog dan perdamaian lintas agama.

Atas prestasi dan jasanya sebagai aktivis perdamaian antar agama, banyak penghargaan disematkan kepadanya dari tokoh dan organisasi dunia. Barangkali, jika di Tanah Air, tokoh seperti dia adalah Dien Syamsuddin.

Lantas, dia bisa diterima di Riyadh, bukan karena Yahudi Israel-nya. apalagi membawa zionisme, bukan sebagai entitas berwarga negara Israel. Jelas bukan!

Tapi apa boleh buat, media selalu bermimpi agar Israel diterima oleh Arab Saudi.

Kawan kami warga pribumi Saudi saat dengar Israel, mengatakan, “lan yadkhul Israeli ilal mamlakah nihaiyan,” artinya “tidak akan pernah warga Israel masuk ke Arab Saudi selamanya.”

Apa yang diucapkannya di atas, sesuai dengan kebijakan raja dan pejabat Arab Saudi. Saudinesia sudah sering mengulasnya.

Demikian, agar tidak terkecoh dan terprovokasi oleh judul dan berita media yang sok netral. jll

BACA: ARAB SAUDI DAN ISRAEL, DUA NEGARA YANG TIDAK PERNAH SEPAKAT SAMPAI PALESTINA MENDAPATKAH HAKNYA.

Tema Terkait