Pandemi Corona: Bukti Kepedulian Pemerintah Kepada Rakyatnya

  • News Admin
  • 3 April 2020
  • 1882 Views
Pandemi Corona: Bukti Kepedulian Pemerintah Kepada Rakyatnya

Tulisan ini dinukil dari postingan FB Ibnu Rajab dengan judul “WABAH…” Selain singkat dan padat, isinya sarat informasi terkini terkait coronavirus di dunia.

Tidak ada negara yang siap 100% dengan pandemi Corona saat ini. Selain karena ini wabah baru, juga karena kurangnya perencanaan bencana kesehatan.

Protes terhadap pemerintah terjadi dimana-mana. Negara-negara yang selama ini dianggap superpower ternyata rapuh.

Ada yang berusaha menutupi informasi, ada yang mencari kambing hitam dengan dalih perang biologi.

Di AS, Trump diserang secara terbuka baik oleh oposisi maupun media. Rakyat AS tidak sanggup menanggung beban biaya.

Untuk tes Covid-19, dibutuhkan $1.313, sedangkan untuk perawatan isolasi kurang lebih $11.000. Sementara 40% lebih rakyat AS tidak punya dana $400 untuk kesehatan.

Trump tergantung pada Bank Sentral AS (The Fed). Jika The Fed angkat tangan, jatuhlah Trump. Semudah itu.

Beberapa waktu lalu, Trump menghubungi Pangeran Muhammad bin Salman, agar bisa bernegoisasi dengan Rusia untuk menaikkan kembali harga minyak.

Begitu juga di Turki. Setelah sesumbar akan menyumbang IMF 5 milyar Lira dan akan membantu negara-negara lain, Erdogan akhirnya meminta rakyat menyumbang dan gotong royong melawan wabah.

Spontan oposisi Turki ngamuk. Menurut mereka, sebelum meminta sumbangan, Erdogan harusnya “ngaca” dulu.

Erdogan disuruh menjual 12 dari 13 pesawat kepresidenan, menghentikan operasi-operasi militer di luar negeri, membayar pajak atas bisnis-bisnisnya, stop proyek-proyek infrastruktur, serta kongkalikong dengan pengusaha Qatar.

Yang santai adalah rakyat Arab Saudi. Kebijakan kerajaan membuat rakyat senang.

Banyak anak-anak muda yang memposting kamar mereka di hotel-hotel bintang lima yang disediakan selama wabah.

Soal jaminan pangan dan kesehatan, Saudi terbukti paling siap. Cukup menelpon, pesanan diantarkan supermarket.

Wabah ini kembali menguatkan loyalitas terhadap kerajaan setelah bertahun-tahun diserang banyak isu dan makar. Mulai isu HAM, Kashoggi, hingga pangeran MBS.

Pihak-pihak yang membuat makar sekarang kesulitan. Begitu pula para peramal yang mengumumkan kemunculan imam Mahdi tahun 2020, harus kecewa.

Indonesia sendiri mirip dengan negara-negara lain. Soal lockdown, Jokowi sama dengan Trump dan Erdogan. Sama-sama tidak mau lockdown.

Trump menolak lockdown karena New York kota sibuk, Erdogan tidak mau lockdown Turki karena tidak mau produksi terhenti.

Begitu juga soal subsidi, semua negara kelabakan. Presiden Kroasia sudah menangis di televisi, warga Italia sudah bakar bendera Uni Eropa. Ternyata tidak ada yang namanya solidaritas Eropa.

Jika Jokowi mengumumkan pembatasan sosial berskala besar, maka Erdogan meminta warga tetap di rumah. Dia menyebutnya “volunter quarantine” atau karantina sukarela. Istilah yang aneh.

Jika dokter-dokter di Indonesia berteriak meminta APD, dokter-dokter di Turki yang terinfeksi Corona gajinya akan dipotong selama dikarantina.

*)Diedit dengan beberapa perubahan seperlunya

Tema Terkait