Nilai Tawar Arab Saudi Terhadap Amerika Serikat

  • admin
  • 6 Mei 2020
  • 634 Views
Nilai Tawar Arab Saudi Terhadap Amerika Serikat

Kaum muslimin dunia terus saja diadu domba agar terpecah belah sehingga lemah. Di antara caranya, mencitrakan Arab Saudi secara negatif terus menerus.

Meskipun Arab Saudi bukan dalil atau hujjah, tetapi tidak dapat dipungkiri sebagai kiblat kaum muslimin, tempat tujuan umat Islam beribadah. Selain Islam juga diturunkan di negeri Arab.

Isu terakhir yang dihembuskan adalah Arab Saudi selalu tunduk dengan keinginan Amerika Serikat. Ada yang menuduh sebagai boneka AS atau anteknya. Intinya, kepanjangan tangan guna memusuhi Islam.

Tuduhan ini biasanya muncul dari pemahaman kaum khawarij, yang bermudah-mudah dalam perkara pengkafiran (takfir). Mereka menolak hidup berdampingan dengan negara-negara kafir.

Dari paradigma tersebut, lahir tuduhan bertubi-tubi terhadap Arab Saudi. Ini, dimanfaatkan musuh Islam melalui medianya, bahwa Saudi tidak bisa diandalkan sebagai pendukung umat Islam.

Kedustaan dan tuduhan tanpa bukti terus diulang-ulang, dalam bentuk tulisan, film, dan bahkan indoktrinasi dalam ceramah-ceramah kaum rawabihdhah.

Arab Saudi dan Amerika Serikat
Sejak minyak ditemukan, pengolahan minyak di Arab Saudi tidak lepas dari bantuan teknologi negeri Pama Sam. lahirlah Arabian-American Oil Company, kemudian setelah dinasionalisasi, menjadi Saudi Arabian Oil Company.

Dari proses tersebut, tampak wibawa negara Arab Saudi, aset kekayaannya tidak terus di bawah kekuasaan asing.

Saat Amerika mendukung Israel dalam perang Yom Kippur, Raja Faisal menghentikan pasokan minyak ke Amerika.

Lalu berkunjunglah Menteri luar negeri Amerika kala itu, Henry Kissinger untuk menormalisasi hubungan, tetapi ditolak mentah-mentah.

Arab Saudi menolak pengiriman minyak ke AS sampai Israel mengembalikan wilayah Arab yang didudukinya dalam Perang 1967.

Kala itu, terkenal ucapan Raja Faisal, “saya hanya laki-laki tua yang berharap bisa shalat di masjid Al Aqsa. Jadi apakah Anda bisa membantuku mewujudkan harapan saya sebelum saya mati?”

Setelah itu, AS dilanda krisis minyak, kendaraan digilir untuk mendapatkan bahan bakar, kehidupan menjadi serba sulit.

Di era modern ini, hubungan kedua negara tetap terjalin. Baik AS maupun Arab Saudi memiliki kepentingan, tetapi tidak bisa saling mendikte.

Jadi, tuduhan Arab Saudi terkait hubungannya dengan AS selama ini, hanya sekedar framing, penggiringan opini untuk menyudutkan kiblat umat Islam saat ini.

Su’ud Kabli, Direktur Komunikasi di Kedutaan Arab Saudi di Amerika Serikat memastikan hubungan Arab Saudi tidak lebih sebagai “mutual respect.”

Dia juga membantah isu akhir-akhir ini, dalam cuitannya:

“Saudi-US relations have always been based on mutual respect. A media report that was published this week that purportedly describes a recent phone conversation between HRH Crown Prince Mohammed bin Salman and US President Donald Trump is not true.”

Tidak ada negara di dunia Islam saat ini, yang posisi tawarnya seperti Arab Saudi terhadap negara adidaya Amerika.

Silahkan buktikan dari statament Donald Trump ini:

Tema Terkait

Ada Apa dengan Arab?

Ada Apa dengan Arab?

Di negeri kita, Arab seringkali jadi bahan olok-olokan. Penyebutan onta, sobat gurun, dan kadal gurun,