Budaya Warga Saudi yang Terhenti Karena Corona

  • News Admin
  • 8 Juni 2020
  • 513 Views
Budaya Warga Saudi yang Terhenti Karena Corona

Bagi warga Arab Saudi, di tengah pendemi corona saat ini, ada hal yang sangat berat untuk ditinggalkan. Yaitu silaturahmi, terkhusus berbakti kepada orang tua, silaturahmi dan berbakti.

Begitu banyak kisah bakti mereka yang termuat di kitab-kitab ulama, di web-web islami, majalah dan sebagainya.

Adapun realita yang mereka terus kerjakan hingga saat ini adalah kumpul-kumpul di rumah orang tua pada liburan akhir pekan. Terkadang juga kumpul bergantian di rumah anak-anaknya. Mulai dari anak-anak, cucu, orang tua dan kakek nenek kumpul bersama.

Mereka senang ngobrol, makan malam, menghabiskan waktu akhir pekan bersama keluarga tercinta, terutama di hari Jum’at. Di satu sisi mereka bahagia karena semuanya dapat kumpul bersama, satu sisi lainnya ada limpahan pahala berbakti kepada orang tua dan pahala silaturahmi dengan keluarga tercinta.

Namun rutinitas tersebut, kini terganggu dengan kemunculan pandemi corona ini -semoga Allah segera mengangkatnya-.

Di mana mereka tidak bisa bebas berkumpul-kumpul lagi di rumah orang tua. Anak-anak dan cucu merasa kangen, demikian pula dengan orang tua.

Bahkan biasanya rasa kangen orang tua melebihi rasa kangen anak-anaknya. Hanya saya mereka lebih bisa bersabar.

Inginnya tetap kumpul-kumpul bersama keluarga seperti biasa, namun ada aturan yang harus diterapkan.

Denda juga mengintai di depan mata tidaklah kecil jumlahnya. Minimal 5000 Riyal, bahkan bisa lebih besar lagi. Dan dihitung perkepala.

Untuk itu, muncul di iklan yang dirilis MOH (Kementrian Kesehatan Arab Saudi), foto-foto orang tua dengan tulisan ” ‘Aadziriinakum’, artinya kami maafkan kalian.

“Kalian di rumah saja, anak-anak dan cucu-cucuku, kami maafkan kalian kok,” Begitu pesan yang ingin disampaikan, “meskipun di saat libur akhir pekan kalian tidak mengunjungi kami.”

Sosialisasi iklan tersebut diharapkan agar anak-anak, tidak memaksa diri untuk berbakti sementara waktu.

Selain demi kemaslahatan bersama. juga sebagai bentuk ketaatan kepada Ulil Amri.

Saya yakin, budaya silaturahmi dan berbakti warga pribumi di sini menjadi salah satu kunci dilimpahkannya kebaikan kepada mereka.

Doa-doa yang dikabulkan, kemakmuran, kesejahteraan, keamanan, kenyamanan, ketenangan, ketentraman dan limpahan kenikmatan lainnya.

Iya, silaturahmi dan berbakti.

*) Tulisan Ustadz Muhammad Sulhan Jauhari, dengan perubahan seperlunya.

Tema Terkait