Cara Membaca Berita CNN Indonesia Tentang Keluarga Kerajaan Arab Saudi

  • News Admin
  • 9 Juni 2020
  • 2675 Views
Cara Membaca Berita CNN Indonesia Tentang Keluarga Kerajaan Arab Saudi

CNN Indonesia mengangkat berita pada Selasa (09/06) dengan judul “Corona Serang Kerajaan Saudi, Satu Pangeran Dilaporkan Wafat.”

Judul tersebut dikaitkan dengan wafatnya Saud bin Abdullah Bin Faisal bin Abdulaziz Al Saud pada hari Kamis (2/6).

CNN menukil kantor berita Saudi Press Agency (SPA) tentang kematian tersebut sekaligus mengakui bahwa TIDAK DISEBUTKAN PENYEBAB Saud meninggal.

Kematian pangeran tersebut, DIDUGA terjangkit virus corona, menurut laporan yang sama.

Bagaimana CNN BERANI MENDUGA seperti di atas? Tiba-tiba tulisan di paragraf berikutnya lompat menukil SEBUAH SUMBER.

SEBUAH SUMBER tersebut mengatakan “beberapa anggota keluarga kerajaan menjalani perawatan di rumah sakit dan di vila pribadi setelah kondisi kesehatan memburuk akibat virus tersebut.”

Siapakah SEBUAH SUMBER tersebut? Tidak ada yang tahu, bahkan SPA atau seluruh media lokal Arab Saudi pun tidak pernah mengabarkan demikian.

Kemendagri (MOI) Arab Saudi yang rutin merilis berita terkait hal-hal penting semacan ini pun, tidak mengatakan Pangeran Saud meninggal karena corona dan tidak menyiarkan berita dari SEBUAH SUMBER.

Lantas bagaimana bisa media yang katanya profesional dan kredibel sekelas CNN menulis laporan seperti ini?

Karena, berita tidak harus benar dan baik. Laporan berita seperti ini, masuk dalam jenis “opinion news,” berita tentang pendapat seseorang.

Sayangnya, sumber pendapat tersebut anonim alias majhul. Tetapi CNN tidak perduli, sekiranya laku dibaca maka dirilislah berita pendapat tersebut.

Bagaimana tanggung jawabnya kepada pembaca? Media akan berdalih dengan UU Pers dan justifikasi lainnya. Karena sejatinya, apa yang ditulis seperti CNN ini untuk memberikan pengaruh kepada pembacanya.

Ya, dengan berdasarkan pada spekulasi, mayoritas pembaca mudah digiring untuk mempercayainya sebagai berita fakta, padahal opini.

Lanjut ke paragraf di laporan yang sama, diramitisir “1.200 pasien infeksi virus corona kritis sedang dirawat di kerajaan dengan ventilator.”

Sumbernya Saudi Leaks, yang dikutip Middle East Monitor (MEMO), media yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin.

Padahal, tidak perlu mengambil dari sumber yang aneh-aneh, pemerintah Saudi setiap hari merilis angka-angka terbaru “Coronavirus Disease COVID-19.” Lihat gambar di bawah ini:

Laporan Terbaru Corona di Arab Saudi (9 Juni 2020)

Digambarkan dengan kalimat “situasi di Jeddah dan Riyadh sangat memprihatinkan.” Opini ini dipaksakan agar pembaca tergiring bahwa penanganan di Saudi sangat buruk.

Padahal, Saudi termasuk 20 besar dalam daftar 100 negara teraman di dunia selama pademi COVID-19.

BACA LAPORAN Deep Knowledge Ventures Terkait Seratus Negara Teraman Covid-19 Dalam Masa Pandemi

Kemudian, CNN mengutip pendapat bahwa lonjakan kasus terjadi akibat peningkatan kontak sosial selama perayaan Idul Fitri pada 25 Mei.

Benarkah? Sementara sejak 30 Ramadan hingga 4 Syawwal, Arab Saudi me-lockdown total seluruh kota dan wilayahnya.

BACA: Lebaran Sebentar Lagi, Lockdown Total Berlaku Kembali

Inilah berita opini, benar tidaknya bukan menjadi dasar laporan ini ditulis.

Di lima paragraf terakhir, CNN mengulang lagi kedustaan The New York Post. Tanpa ada upaya crosscheck, masih saja menyebarkan “150 anggota Kerajaan Arab Saudi dinyatakan positif virus corona.”

Dengan tanpa malu juga, CNN menulis “Pangeran Faisal bin Bandar bin Abdulaziz Al Saud (70) dilaporkan positif virus corona.”

Padahal, Gubernur Riyadh tersebut baru minggu lalu, merilis program “Khairat Riayadh,” acara bagi-bagi sembako bagi warganya yang terdampak corona.

Program tersebut, membagikan gratis sebanyak 420,000 makanan siap saji, 15,000 kerajang bahan makanan, 130 ton dan 3700 kardus kurma.

Laporan TNYP yang banyak dibeoi media mainstream, tidak pernah terbukti. Pangeran Abdul Rahman bin Musaid bin Abdul Aziz sampai mencuit:

“Corona mungkin akan ditemukan obatnya, tetapi kebodohan dan kebencianmu bisa jadi tidak ada obatnya.”

Benar, kebodohan pembaca yang mudah dibohongi dan media yang penuh kebencian, bisa jadi tidak akan berhenti sampai nikmat Kerajaan Arab Saudi hilang.[]

BACA: Pangeran Turki al-Faisal: “Berita Palsu Merupakan Alat Propaganda, Bukan Saja Antara Individu, Tetapi Juga Negara”

Tema Terkait