Covid-19: Bukan Hanya Masjid, Restoran dan Pusat Perbelanjaan Ditutup Jika Melanggar Protokol Kesehatan

  • 9 Juni 2020
  • 1,325 view
Covid-19: Bukan Hanya Masjid, Restoran dan Pusat Perbelanjaan Ditutup Jika Melanggar Protokol Kesehatan

Ramai media di Tanah Air memberitakan penutupan masjid di Arab Saudi, paska satu minggu dibuka untuk shalat berjemaah. Padahal, restoran, toko dan pusat perbelanjaan pun lebih dulu banyak yang disegel karena melanggar protokol kesehatan dalam pencegahan pandemi covid-19.

Muhafazah Jeddah mencatat 6,600 kasus pelanggaran aturan pencegahan penyebaran virus. Di antaranya 412 pelanggaran pembatasan sosial.

Laporan ini setelah Amanah Muhafazah Jeddah melakukan lebih dari 170 ribu inspeksi mendadak ke pasar, mall, dan fasilitas umum lainnya, sebagaimana laporan koran harian al-Madinah.

Di Riyadh, dalam satu minggu terakhir, 459 toko, gudang, restoran dan pusat perbelanjaan lainnya disegel dan terancam sanksi denda puluhan ribu reyal.

Portal online Tawasul juga melaporkan bahwa Pemerintah Ibu Kota Riyadh menahan 628 pedagang yang melanggar berbagai macam aturan, terutama dalam masa pandemi saat ini.

Di laporan media lokal, hampir di seluruh kota dan wilayah Arab Saudi, terjadi pelanggaran yang ditindak tegas oleh Baladiyah atau otoritas yang berwenang.

Hal demikian tidak mengherankan, mengingat pemerintah Arab Saudi sangat serius menindak sekecil apapun pelanggaran dalam rangka pencegahan penyebaran corona.

Sementara itu, paska sepekan dibuka, hanya 71 dari 98 ribu lebih masjid di seluruh wilayah Saudi, ditutup kembali.

Menteri Urusan Islam, Dakwah dan Bimbingan Arab Saudi, Dr. Abdullatif Alu Syaikh, dalam cuitannya di Twitter, mengungkapkan:

“Kurangnya komitmen sebagian orang untuk mematuhi protokol dan tindakan pencegahan kesehatan, mengakibatkan infeksi virus Corona di beberapa masjid. Sangat disayangkan, hal ini menyebabkan penutupan 71 masjid sebagai langkah pencegahan, di berbagai wilayah Kerajaan, dan saat ini dilakukan sterilisasi.”

Media massa sepertinya “sangat perhatian” kepada umat Islam, sehingga berita tentang masjid ditutup saja yang di-blow up masif.

Jika media berniat mengedukasi pembacanya dengan penegakan protokol covid-19 di Arab Saudi, idealnya menerjemahkan kabar tentang sikap yang sungguh-sungguh, serius dan maksimal pemerintahnya.

Seperti juga bagaimana Saudi mampu memanfaatkan kemajuan teknologi untuk penegakan disiplin warganya. Sekaigus, memberantas praktek KKN petugas saat menegakkan peraturan.

Ini jauh lebih subtantif dijadikan head line, berfaedah untuk pemerintah dan warga Indonesia.

Sebagai contoh, saat pemberlakuan Jam Malam (curfew), The Saudi Data and Artificial Intelligence Authority (SDAIA) merilis aplikasi “Tawakkalna,” sebagai pengendali izin keluar rumah di waktu terlarang.

Jika ada warga keluar rumah di masa curfew tanpa mengajukan izin via aplikasi ini, pihak keamanan langsung mencatatnya sebagai pelanggaran dan ancaman sanksi denda 10 ribu Reyal Saudi.

TONTON: VIDEO 2 WN FILIPHINA TERTANGKAP KELUAR RUMAH SAAT JAM MALAM

Di saat yang sama, warga pribumi maupun pendatang, bisa mendapatkan biaya perawatan dan pengobatannya secara gratis, ditanggung pemerintah.

Perhatian pemerintah Saudi untuk kesehatan warganya sudah beredar viral. Mestinya hal-hal ini yang diungkap media agar menjadi contoh bagi warga maupun pemerintah Indonesia.[]

TONTON: Beda Perlakuan di Negara Barat dan Arab Saudi Kepada Rakyatnya

TONTON: Tanggapan Warga AS yang Tinggal Arab Saudi Selama Pandemi Corona

Lihat Bagaimana Bangganya Warga Saudi di Luar Negeri Saat Lockdown Karena Corona

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait