Mengenal Gelar Pangeran Arab Saudi

  • News Admin
  • 10 Juni 2020
  • 989 Views
Mengenal Gelar Pangeran Arab Saudi

Mendengar nama “pangeran,” atau “sultan” identik dengan sebuah kerajaan, terutama yang sering ramai viral, Arab Saudi. Maklum, kiblat umat Islam, selalu menjadi magnet perhatian.

Tetapi, tidak sedikit netizen yang salah paham dengan gelar tersebut. Meski, ada pergeseran makna, seperti kata “sultan” menjadi bahasa ‘slang‘ diartikan sebagai orang yang kaya raya.

Di Arab Saudi, orang yang digelari “al-amiir” alias pangeran sangat banyak sekali. Semua yang bergaris keturunan atau bermarga Alu Su’ud digelari dengan “al-amiir.”

Oleh karena itu, belum tentu setiap yang bergelar “Pangeran Saudi” adalah anak dari raja yang sekarang sedang bertahta.

Hampir semua laman pertama Google jika diketik kata “pangeran,” yang muncul hal-hal yang negatif (baca: yang menyudutkan Saudi).

Dari mulai kabar seorang pangeran Saudi membelot, fitnah wanita, penyakit corona, hingga yang terbaru doyan bermain game.

Berbicara tentang Saudi, tidak lepas kaitannya dengan Alu Su’ud, alias keluarga Sa’ud.

Siapa sajakah Alu Su’ud itu? Siapakah orang pertama yang disandarkan kepadanya marga Alu Su’ud?

Untuk diketahui, bahwa orang pertama yang disebut sebagai Alu Su’ud adalah Muhammad bin Su’ud, yang namanya diabadikan sebagai nama sebuah universitas Islam terbesar di Saudi, Jaami’atul Imaam Muhammad bin Su’uud Al-Islaamiyyah di Riyadh.

Beliaulah Alu Su’ud yang pertama. Beliaulah amiir kota Ad-Dir’iyyah yang pertama, cikal bakal Kerajaan Arab Saudi. Beliaulah yang disebut sebagai The First Founding Father of KSA.

Jadi, keturunan Su’ud inilah yang disebut Alu Su’ud. Mereka digelari dengan “al-amiir” (pangeran).

Di Saudi, ada dua istilah yang mirip, namun tidak sama. Kebanyakan kita tidak mengetahui perbedaan antara keduanya. Kedua istilah tersebut adalah:

  • shaahibu assumuw alamiir….” dan
  • shaahibu assumuw almalakiy alamiir…”

Kedua gelar tersebut sama-sama diawali dengan “shaahibu -s sumuw“, yang artinya “yang memiliki kedudukan tinggi” atau praktisnya disebut dengan “Petinggi.”

Kedua gelar tersebut sama-sama disandang oleh setiap yang bergelar “al-amiir“, yang artinya “pangeran.”

Gelar Al-Amiir di Saudi diperuntukkan untuk setiap keturunan Alu Su’ud, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Perbedaan antara keduanya adalah pada kata “al-malakiy“, artinya “sesuatu yang berhubungan dengan raja/kerajaan”.

Tidak semua al-amiir digelari dengan “al-malakiy“. Yang dibubuhi gelar “al-malakiy” hanya keturunan Raja Abdul Aziz bin Abdirrahman Alu Su’ud saja.

Sedangkan keturunan Alu Su’ud yang bukan keturunan Raja Abdul Aziz tidak digelari dengan “al-malakiy“.

Dulu sempat tersiar bahwa seorang pangeran Saudi membelot keluar dari keluarga kerajaan. Sang pangeran bernama Khalid bin Farhan Alu Su’ud.

Siapakah sebenarnya pangeran ini?

Jika berita tersebut benar, maka pangeran ini memiliki garis keturunan yang sampai kepada Farhan bin Su’ud, yang tidak lain adalah saudara kandung dari Muhammad bin Su’ud, Pendiri Arab Saudi yang pertama.

Jadi, dia sebenarnya tidak tergolong ke dalam sebutan “shaahibu sumuw malakiy“, alias tidak termasuk ke dalam keluarga kerajaan yang sekarang sedang bertahta.

Lantas bagaimana bisa dikatakan membelot? Lucu juga terdengarnya. Jadi teringat pertanyaan yang pernah diajukan kepada syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullaah; apakah orang syi’ah itu sudah murtad?

Syaikh menjawab yang kurang lebih intinya, “Bagaimana bisa dikatakan murtad, masuk Islam saja nggak.”

Pihak yang membenci Saudi, atau tidak suka dengan Saudi, biasanya mengincar dan mencari-cari berita yang seperi ini. Yang diikuti beritanya adalah tentang “pangeran-pangeran Saudi” yang bergaya hidup mewah dan gelamor, suka berfoya-foya, menghambur-hamburkan uang di luar negeri, dan lain sebagainya.

Yang mereka perhatikan hanya sisi negatif di balik tirai keluarga Saud. Yang jadi bahan pembicaraan mereka hanya kebobrokan-kebobrokan keluarga Saud.

Media massa -baik cetak maupun elektronik- pun turut berperan menjadi corong-corong penyebaran aib keluarga Saud.

Apakah mereka tidak pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تُؤذوا عِبادَ الله ولا تُعيِّروهم، ولا تطلبوا عوراتهم، فإنه من طلب عورة أخيه المسلم، طلب الله عورته، حتى يفضحه في بيته

“Janganlah kalian menyakiti hamba-hamba Allah, dan jangan mengolok-olok mereka. Jangan pula mencari-cari aurat (aib) mereka, sesungguhnya barangsiapa yang mencari aib saudaranya muslim, maka Allah akan membuka aibnya, bahkan ketika ia berada di rumahnya.” (HR. Ahmad)

Terakhir, saya ingin menegaskan bahwa Alu Su’ud bukanlah keluarga malaikat, tapi keluarga biasa sebagaimana manusia umumnya. Apa yang ditemukan dalam keluarga manusia pada umumnya, juga ditemukan dalam keluarga Alu Su’ud.

Tanyakan kepada diri Anda masing-masing, relakah Anda terhadap orang yang berusaha mencari-cari kesalahan dan aib keluarga Anda? Puluhan argumen akan Anda keluarkan, puluhan dalil akan ada kumpulkan demi membela kehormatan keluarga Anda yang diusik.

Lalu, bagaimana pula Anda bisa terpedaya mau melakukannya terhadap keluarga muslim yang lain?

Allaahul musta’aan.

*) Dari tulisan FB Abu Yazid Nurdin, 2013, dengan perubahan seperlunya

Tema Terkait