Serial Kajian Sejarah Turki Utsmani: Kekejaman di Kairo, Meniru Tatar Mongol

  • News Admin
  • 24 Juni 2020
  • 1330 Views
Serial Kajian Sejarah Turki Utsmani: Kekejaman di Kairo, Meniru Tatar Mongol

Pembunuhan yang dilakukan orang-orang Turki Utsmani, caranya sama seperti yang dilakukan orang-orang Mongol.

Pembunuhan ini terjadi dengan cara yang keji dan mengerikan, cara-cara yang dilakukan berdasarkan cara bangsa Mongol dan metode orang-orang Tatar

Apa bukti itu semua? Buktinya adalah buku-buku sejarah yang banyak menceritakan itu semua.

Ibn Tholun adalah seorang saksi yang hidup, dalam bukunya “Mufakahatul Khillan,” mengatakan, orang-orang Turki datang dengan kebiasaan yang buruk, membunuh orang-orang setelah menyiksanya, yaitu dengan alat “khazuq.”

Khazuq adalah alat yang dimasukkan dari dubur seseorang, lewat melalui perut, menghancurkannya, membuat isi dalamnya berdarah, hingga keluar dari mulut orang tersebut.

Kemudian mereka membiarkannya hingga kehabisan darah dan mati.

Ibn Tholun mengisahkan bahwa orang-orang Damaskus, mereka tidak mengetahui khozuq sebelumnya, tetapi ketika bangsa Turki-lah yang membawanya,

Orang-orang Turki menyerang orang-orang yang tidak bersalah, melakukan kekejian baik di lapangan kota atau di muka umum, agar mereka takut terhadap pasukan Turki Utsmani.

Ibn Iyas seorang saksi hidup, menyebutkan dalam bukunya  “Bada’i  Az Zuhur” juz ke-5. Saat di Mesir, Sultan Utsmani dan bala tentara Turki, dalam perjalanan mereka untuk menjajah Mesir, mereka melewati Gaza di Palestina.

Mereka memperlakukan orang-orang Gaza dengan pembunuhan, kekerasan, penindasan, perampasan, menyekap para wanita dan membunuh anak-anak.

Kemudian Ibn Iyas menyebutkan, apa yang dia saksikan atas tentara-tentara Turki saat tiba di Mesir.

Ia mengatakan dalam bukunya yang sama, bahwa orang-orang Turki membunuh orang-orang Mesir ketika perang Ridaniyyah sebanyak 4 ribu orang. Di antaranya raja-raja, pengawal, dan anak-anak.

Pembunuhan dari bangsa Arab di timur dan barat dengan jumlah yang banyak.

Ini menyebabkan banyak jasad bergelimpangan di jalanan, meskipun berdekatan dengan kuburan, sehingga tanah mengering karenanya.

Tidak bisa dikenali mana jasad pemimpin, mana jasad raja atau rakyatnya. Ibn Iyas sampai mengatakan banyak mayat tanpa kepala.

Sultan salim ketika di Kairo, setiap hari menyerukan perdamaian dan ketentraman. Tetapi kenyataannya, tetap terjadi perampasan, pembunuhan, penindasan oleh tentara-tentara Turki Utsmani.

Ibn Iyas juga mengatakan, bahwa tentara-tentara Turki Utsmani memasuki Masjid Jami’ Sayyidah Nafisah setelah mengahncurkan makamnya,  menginjak-injak kuburannya, mengambil lampu yang terbuat dari perak, lentera dan permadani yang ada di dalamnya.

Pasukan Turki, membunuh siapa saja yang ada di masjid Jami’ Sayyidah Nafisah.

Ibn Iyas juga mengatakan, bahwa tentara-tentara Turki Utsmani pergi ke masjid jami’ Syaikhu, kemudian membakarnya, termasuk siapa saja yang ada di dalamnya.

Ketika itu di dalamya ada banyak orang dan mereka membakarnya, kemudian membakar Rumah-rumah yang ada disekitarnya.

Lalu mereka menangkap seorang Khatib di Masjid Jami’ tersebut, menyerahkannya kepada Sultan Salim.

Ketika itu Sultan telah beniat memotong lehernya, kalau saja Allah tidak mendatankgan orang yang meminta syafaat, atau meminta ampun kepada Sultan untuk mengampuninya.

Ibn Iyas juga mengisahkan, bahwa Orang-orang Utsmani mengambil orang-orang awam dan anak-anak kecil. Kemudian mempermainkannya dengan pedang.

Di Kairo, Kebaikan pergi dengan kejahatan.

Banyak jasad manusia terbuang di jalanan, dari gerbang Zuwailah sampai pada Ramlah, di Kairo.

Mereka membunuh orang-orang dengan jumlah yang tak terhitung; di Syailiba, di Jembatan Syiba, Di Nashiriyyah, dan di Mesir ‘Atiqah.

Jumlah orang yang terbunuh ketika itu, menurut Ibn Iyas, lebih dari 10 ribu orang.

Inilah hakikat perbuatan orang-orang Mongol dan Tatar sebelum mereka. Dan bangsa Turki kemudian mencotoh perbuatan tersebut.  

Ibn Iyas juga menuliskan, pasukan menyerang masjid-masjid Jami’ dan mengambil apa yang ada di dalamnya dari penduduk Mesir dan raja-raja Syaraqisah.

Masjid Jami’ Azhar, Masjid Jami’ Hakim, Masjid Jami’ Ibn Tholun, Masjid-masjid Jami’ lainnya dan sekolahan, menjadi sasaran mereka.

Saksikan penjelasannya DR. Sultan AlAshqah dalam video di bawah ini:

Tema Terkait