Membantah Lisan Keji Dzakiyyah Terhadap Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab

  • 2 Juli 2020
  • 1,284 view
Membantah Lisan Keji Dzakiyyah Terhadap Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab

Telah sampai kepada kami sebuah “screenshot” (ss) berisi fitnah terhadap al-‘Allamah al-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab (MBAW) –rahimahullah– oleh akun bernama Dzakiyyah.

Dengan penuh tendensi ia menyatakan bahwa Syaikh telah mengkafirkan kaum Muslimin dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdasarkan nukilan suatu kitab yang diupload olehnya.

Kami benar-benar geleng kepala melihat tuduhan ini, karena fitnah ini tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang yang tidak bisa membaca kitab, atau justru ia memang bertabiat pendusta.

Mengingat tuduhan ini membuat beberapa teman menjadi bertanya-tanya, kami hadirkan terjemahan lengkap dari nukilannya tersebut, lalu silahkan pembaca menilai sendiri, apakah sesuai asumsinya tersebut atau tidak?

Perkataan yang dinukil olehnya tersebut bukan dari perkataan Syaikh MBAW, melainkan dinukil dari ulama Makkah yang berbunyi:

أن هذا الدين، الذي قام به الشيخ محمد بن عبد الوهاب، رحمه الله تعالى، ودعا إليه إمام المسلمين سعود بن عبد العزيز، من توحيد الله، ونفي الشرك، الذي ذكره في هذا الكتاب، أنه هو الحق الذي لا شك فيه ولا ريب، وأن ما وقع في مكة والمدينة، سابقا، ومصر والشام وغيرهما من البلاد إلى الآن، من أنواع الشرك المذكورة في هذا الكتاب، أنه: الكفر، المبيح للدم والمال والموجب للخلود في النار; ومن لم يدخل في هذا الدين ويعمل به ويوالي أهله ويعادي أعداءه فهو عندنا كافر بالله وباليوم الآخر واجب على إمام المسلمين والمسلمين جهاده وقتاله حتى يتوب إلى الله مما هو عليه ويعمل بهذا الدين. أشهد بذلك. وكتبه الفقير إلى الله تعالى عبد الملك بن عبد المنعم القلعي الحنفي مفتي مكة المكرمة عفي عنه وغفر له آمين (ختم

“Sesungguhnya agama ini yang ditegakkan oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab rahimahullahu Ta’ala dan diserukan kepadanya oleh Imam kaum Muslimin Su’ud bin ‘Abdil-‘Aziz berupa Tauhidullah dan menafikan kesyirikan yang disebutkan dalam kitab ini, sesungguhnya ia benar yang tiada keraguan di dalamnya.

Apa yang terjadi di Makkah dan Madinah sebelumnya, Mesir, Syam dan yang lainnya hingga sekarang ini berupa jenis-jenis kesyirikan yang disebutkan dalam kitab ini, maka hal tersebut adalah kekufuran, darah dan hartanya menjadi halal serta wajib kekal di neraka.

Barangsiapa yang tidak memeluk agama ini dan beramal dengannya, berwala kepada para ahlinya dan memusuhi para musuhnya maka orang tersebut di sisi kami adalah orang yang kafir terhadap Allah dan hari akhir.

Wajib bagi Imam kaum Muslimin serta kaum Muslimin itu sendiri berjihad dan memeranginya hingga ia bertaubat kepada Allah dari apa yang ia berada di atasnya lalu beramal dengan agama ini.” Ditulis oleh al-faqir ila-Allahi Ta’ala ‘Abdul Malik….(dan seterusnya).”

Sebagaimana para pembaca melihat :

Pertama, kalimat di atas bukanlah dari perkataan Syaikh MBAW yang dikatakan oleh Dzakiyyah dengan sebutan “lisan beracun”.

Kedua, tidak ada pula dari kalimat di atas tuduhan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu musyrik sebagaimana tuduhan yang diklaimnya.

Ketiga, jadi, bukan lisan Syaikh yang beracun. Melainkan lisan wanita satu inilah beracun bahkan lebih daripada ular.

Lalu dari kalimat di atas, apakah berarti Syaikh MBAW mentakfir kaum Muslimin secara mutlak tanpa perincian lebih lanjut begitu saja sebagaimana asumsinya?

Telah maklum bahwa para ulama memiliki lebih dari satu perkataan. Terkadang perkataan yang satu itu terkesan global namun dirinci dengan perkataannya yang lain.

Berikut nukilan langsung dari Syaikh sendiri mengenai takfir dan silahkan para pembaca merenunginya, apakah beliau mentakfir secara serampangan atau tidak? Beliau berkata:

بَلْ نُشْهِدُ اللهَ عَلَى مَا يَعْلَمُهُ مِنْ قُلُوْبِنَا بِأَنَّ مَنْ عَمِلَ بِالتَّوْحِيْدِ وَتَبَرَّأَ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ فَهُوَ الْمُسْلِمُ فِي أَيِّ زَمَانٍ وَأَيِّ مَكَانٍ، وَإِنَّمَا نُكَفِّرُ مَنْ أَشْرَكَ بِاللهِ فِي إِلَهِيَّتِهِ بَعْدَمَا نُبَيِّنُ لَهُ الْحُجَّةَ عَلَى بُطْلاَنِ الشِّرْكِ

“Bahkan kami mempersaksikan Allah yang mengetahui hati kami, bahwa orang yang mengamalkan tauhid, berlepas diri dari syirik dan pelakunya, maka dia adalah seorang Muslim, kapan pun dan dimana pun. Sesungguhnya kami hanya mengkafirkan orang yang melakukan perbuatan syirik (menyekutukan) Allah dalam uluhiyah (peribadahan) setelah kami jelaskan hujjah kepadanya tentang kebatilan syirik. [Majmu’ Muallafat Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab 3/34].

وَإِذَا كُنَّا لاَنُكَفِّرُ مَنْ عَبَدَ الْصَّنَمَ الَّذِي عَلَى عَبْدِ الْقَادِرِ، والْصَّنَمَ الَّذِي عَلَى قَبْرِ أَحْمَدَ الْبَدَوِيْ، وَأَمْثَالِهِمَا لِأَجْلِ جَهْلِهِمْ وَعَدَمِ مَنْ يُنَبِّهُهُمْ، فَكَيْفَ نُكَفِّرُ مَنْ لَمْ يُشْرِكْ بِاللهِ إِذَا لَمْ يُهَاجِرْ إِلَيْنَا أَوْ لَمْ يُكَفِّرْ وَيُقَاتِلْ ؟ سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ

“Jika kami tidak menjatuhkan vonis kafir kepada orang yang menyembah berhala yang ada di atas (kuburan) ‘Abdul-Qadir (al-Jailani), dan yang menyembah berhala yang ada di atas kuburan Ahmad Badawi, dan selainnya, karena ketidaktahuan (jahl) mereka juga karena tidak ada orang yang memberitahukan mereka, maka bagaimana mungkin kami mengkafirkan orang yang tidak menyekutukan Allah jika dia tidak berhijrah kepada kami, atau dia tidak mengkafirkan dan memerangi ? Maha Suci Engkau Wahai Allah , ini adalah dusta (fitnah) yang besar!! [al-Durar al-Saniyyah 1/66]

ما ذكر لكم عني أني أكفر بالعموم، فهذا من بهتان الأعداء، وكذلك قولهم: إني أقول: من تبع دين الله ورسوله وهو ساكن في بلده أنه ما يكفيه حتى يجيء عندي، فهذا أيضاً من البهتان، إنما المراد اتباع دين الله ورسوله في أي أرض كانت، ولكن نكفر من أقرّ بدين الله ورسوله ثم عاداه وصدّ الناس عنه، وكذلك من عبد الأوثان بعدما عرف أنه دين المشركين وزينه للناس، فهذا الذي أكفره وكل عالم على وجه الأرض يكفر هؤلاء إلاّ رجلاً معانداً أو جاهلاً )). مجموع مؤلفات الشيخ (3/33).

“Apa yang diceritakan kepada kalian tentang saya, bahwa saya mengkafirkan dengan umum, maka ini termasuk kedustaan (fitnah) dari para musuh. Demikian juga perkataan mereka bahwa saya mengatakan, “Barangsiapa mengikuti agama Allah dan Rasul-Nya, namun dia tinggal di kotanya, maka itu tidak cukup sampai dia datang di dekatku”, ini juga termasuk kedustaan (fitnah).

Sesungguhnya yang dikehendaki adalah mengikuti agama Allah dan Rasul-Nya, di bumi mana saja. Tetapi kami mengkafirkan orang yang mengakui kebenaran agama Allah dan Rasul-Nya, kemudian dia memusuhinya dan menghalangi manusia darinya. Kami juga mengkafirkan orang yang menyembah berhala SETELAH dia tahu bahwa itu adalah agama kaum musyrikin dan dia menghiasinya (menganggapnya baik) untuk manusia.

Inilah yang aku kafirkan. Dan semua orang berilmu di permukaan bumi mengkafirkan orang-orang ini. Kecuali orang yang menentang atau bodoh.” [Majmu’ Muallafat Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab 3/33]

وأما ما ذكر الأعداء عني أني أكفر بالظن وبالموالاة أو أكفر الجاهل الذي لم تقم عليه الحجة، فهذا بهتان عظيم يريدون به تنفير الناس عن دين الله ورسوله

“Adapun yang diceritakan oleh musuh-musuh tentangku, bahwa aku menjatuhkan vonis kafir berdasarkan prasangka dan berdasarkan muwâlah (loyalitas) atau aku mengkafirkan orang yang jahil (bodoh; tidak berilmu) yang belum tegak hujjah padanya, maka ini kedustaan (fitnah) yang besar. Mereka ingin menjauhkan manusia dari agama Allah dan Rasul-Nya.” [Majmu’ Muallafat Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab 3/14]

Kesaksian dari ulama lainnya, Syaikh ‘Abdul-Lathif bin ‘Abdirrahman bin Hasan Alu Syaikh, berkata:

(( والشيخ محمد رحمه الله من أعظم الناس توقفاً وإحجاماً عن إطلاق الكفر،حتى أنه لم يجزم بتكفير الجاهل الذي يدعو غير الله من أهل القبور أو غيرهم إذا لم يتيسر له من ينصحه ويبلغه الحجة التي يكفر تاركُها، قال في بعض رسائله: (( وإذا كنا لا نقاتل من يعبد قبّة الكواز، حتى نتقدم بدعوته إلى إخلاص الدين لله، فكيف نكفر من لم يهاجر إلينا وإن كان مؤمناً موحداً )).

“Syaikh Muhammad (bin ‘Abdil-Wahhab) rahimahullah termasuk orang yang sangat berhati-hati dan tidak berani memvonis kafir (orang Islam lain). Sampai beliau rahimahullah tidak memastikan kekafiran orang bodoh yang berdoa kepada selain Allah, baik berdoa kepada penghuni kubur atau lainnya, jika belum ada orang yang menasehatinya dan menyampaikan hujjah kepadanya, yang mana orang yang meningalkan hujjah itu menjadi kafir.

Beliau rahimahullah berkata dalam sebagian risalahnya, “Jika kami tidak mengkafirkan orang yang menyembah kubah al-Kawaz sampai kami mendakwahinya untuk mengikhlaskan agama bagi Allah, maka bagaimana kami mengkafirkan orang yang tidak berhijrah kepada kami, walaupun dia adalah seorang mukmin dan bertauhid!!” [Minhaj al-Ta’sis wa al-Taqdis hal. 98-99].

Sebagaimana para pembaca lihat, betapa jauh beliau dari takfir secara membabi-buta atau tanpa dhawabith yang jelas!!! Beliau berlepas diri dari tuduhan murahan lisan keji Dzakiyyah.

Semua nukilan di atas telah cukup untuk menjawab setiap asumsi dusta lainnya terhadap beliau.

Jika ia tidak mau menerima penjelasan ini, kami hadirkan nash serupa dari ulama Asyairah sendiri seputar takfir sebagaimana berikut oleh Abu Ishaq al-Syirazi yang berkata:

فمن اعتقد غير ما أشرنا إليه من اعتقاد أهل الحق المنتسبين إلى الإمام أبي الحسن الاشعري رضي الله عنه فهو كافر . ومن نسب إليهم غير ذلك فقد كفرهم فيكون كافرا بتكفيره لهم لما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : (ما كفر رجل رجلا إلا باء به أحدهما“

“Maka barangsiapa yang berkeyakinan dengan selain yang telah kami utarakan berupa keyakininan Ahlul-Haqq yang berintisab kepada Imam Abul Hasan al-Asy’ari –semoga Allah meridhainya– maka ia adalah KAFIR.

Siapa saja yang menisbatkan pada mereka selain itu maka berarti ia telah mengkafirkan mereka, lantas ia pun menjadi kafir lantaran pengkafirannya terhadap mereka berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tidaklah seorang mengkafirkan orang lain melainkan akan berbalik kepada salah seorang darinya”. [Syarh al-Luma’ 1/111]

Perhatikan, bisa saja perkataan al-Syirazi di atas diasumsikan sepertinya bahwa ia telah mengkafirkan kaum Muslimin selain dari kalangan Asy’ariyyah. Dan ada juga perkataan semisal dari yang lainnya.

Namun bisa juga beberapa ulama lainnya menjelaskan bahwa maksudnya adalah begini dan begitu. Kami pun tidak ada masalah dengan ini, barangsiapa yang akrab dengan turats maka hal ini bukanlah sesuatu yang ‘asing’.

Namun orang-orang yang baru ‘ngaji’ atau yang mulutnya terlalu banyak berbicara melebihi kapasitasnya, tentu akan langsung heboh. Orang awam bersikaplah layaknya orang awam.

Kami nasihatkan kepada para pembaca untuk tidak mengambil pusing dengan orang-orang seperti ini. Sebagaimana nampak, ternyata tuduhannya di atas tidak seperti ilmunya sendiri.

Maka tidak ada gunanya mendengar ucapan mereka lagi. Kami sendiri hampir tidak pernah meladeni setiap mention, selain sibuk di luar dan kualitas mereka yang tidak asing lagi, kami lebih memfokuskan diri untuk manfaat yang lebih besar seperti progress buku pada status sebelumnya.

Sekali lagi, jangan menyibukkan diri dengan lalat, biarkan ia berkerumun pada sampah sebagaimana itu adalah tempatnya.

Semoga Allah Ta’ala menjaga kita semua.

Zack Taymee, Bukan Ojol Biasa

Ditulis oleh: News Admin