Perspektif Historis Daulah Utsmani di Jazirah Arab

  • 13 Juli 2020
  • 1,974 view
Perspektif Historis Daulah Utsmani di Jazirah Arab

Apakah masuknya Utsmani ke negara-negara Arab 500 tahun yang lalu merupakan invasi (ghazwu) atau penaklukan (futuh)?

Apakah era di mana sebagian besar negara-negara Arab di bawah pemerintahan Ottoman selama empat abad merupakan pendudukan asing atau persatuan di bawah panji kekhalifahan?

Apakah Utsmani menyebabkan orang-orang Arab tertinggal atau apakah mereka berkontribusi untuk kebangkitan dan pembangunan kota-kota Arab?

Ini merupakan pertanyaan dan masih ada yang lainnya, tentang era Utsmani di negara-negara Arab bukanlah hal yang baru.

Utsmani, berasal dari suku-suku pastoral Turki yang tidak memiliki peradaban dan tinggal di barat laut Cina. Keadaannya sebagaimana suku-suku nomaden, yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melakukan peperangan dengan banyak kelompok peradaban, hingga akhirnya established di pertengahan abad ke-12 M.

Dr. Assem El-Desouky, profesor sejarah modern dan kontemporer di Universitas Helwan, Mesir, memaparkan fakta-fakta kemunculan Daulah Utsmaniyah (Ottoman).

Dia mengatakan: “Utsman Ghazi saat berkuasa, nama yang kemudian dinisbatkan dengan nama Daulah Utsmaniyah, di dekat perbatasan negara Byzantium yang menjalani fase kemunduran, saat terjadi konflik.

Salah satu kaisar Bizantium, memanfaatkan Utsman dan pasukannya, yang membuka jalan bagi Ottoman untuk menduduki Balkan di pertengahan abad ketiga belas.

Pada pertengahan abad ke-15, khususnya pada tahun 1453, dia berhasil memasuki Konstantinopel dan menggulingkan negara Bizantium. Kemudian kota tersebut dinamai “Islam Baul” dan menjadikannya sebagai ibukotanya.

Ottoman tidak mampu ekspansi lebih banyak ke Eropa, mereka dikalahkan oleh Austria dan Rusia.

Maka pada awal abad keenam belas, mereka menuju ke negara-negara Arab dan berada di bawah kendali mereka selama empat abad.

Pada saat itu, negara-negara Arab memiliki peradaban tersendiri, sehingga Ottoman membiarkan bangsa Arab sebagaimana adat tradisinya dan mencukupkan dengan kesetiaan.

Selama penunjukkan gubernur Ottoman di wilayah Arab, mereka ditunjuk untuk jangka tidak lama, yaitu tiga tahun saja. Karena ada kekhawatiran bangsa Arab akan merdeka dari pusat, yang mengarah pada upaya pemberontakan terhadapnya.

Meski bangsa Arab hidup di bawah kekuasaan Utsmani, mereka tetap dengan peradaban sebelumnya, yaitu terpecah-pecah dalam banyak suku, baik secara agama ataupun jumlah.

Daulah Utsmaniyah kemudian mengangkat “Srouji,” yang tugasnya hanya mengumpulkan uang dan pajak di wilayah yang dikuasainya, di beberapa daerah.

Dengan menunjuk gubernur dalam waktu terbatas, muncul kesenjangan di antara para sesepuh kabilah, antara bangsa Arab dan Daulah Utsmani.

Dengan latarbelakang inilah, sejarawan El-Desouky meringkas fakta sejarah hubungan Daulah Utsmaniyah dengan negara-negara Arab, hanya dalam tiga kata “uang, kedaulatan, dan kontrol.”

Perampokan dan Penjajahan
El-Desouky menyatakan, “Utsmani tidak lebih sebagai perampok dan penjajah yang menduduki negara-negara Arab selama empat abad, mereka sama seperti kolonialisme Prancis dan Inggris, mereka hanya menghabiskan kekayaan bangsa Arab dan mewarisi kelemahan serta keterbelakangan mereka.”

Dalam pandangannya, tidak bisa dikatakan bahwa masuknya bangsa muslim ke tanah muslim lainnya, sebagai penaklukan. El-Desouky memastikan bahwa ini bertentangan dengan kaidah ilmu dan sejarah.

Dia menganggap bahwa peristiwa penaklukan Utsmani dan kebesarannya didasarkan pada emosi dan antusiasme agama, “dengan dalih bahwa Daulah Utsmani mampu melindungi dunia Arab dari penetrasi Syiah, dengan menghadapi negara Safawi di Iran.”

Menurut El-Desouki, Sultan Utsmani adalah seorang kaisar kolonial dan negara-negara Arab menderita dengan ketergantungannya atas penjajahan mereka. Tidak ada tanda kebangkitan atau peradaban, tetapi mereka datang untuk menguasai, yang Arab dilarang untuk itu oleh Utsmani.

Akhir yang dramatis Daulah Utsmani memiliki peran dalam memfasilitasi penjajahan asing di negara-negara Arab. Dan itu adalah alasan utama terjadinya bentrokan antara orang Arab dan Turki dalam masa tersebut.

Banyak orang Arab mengingat pembantaian Utsmani terhadap warga Armenia, walaupun telah terjadi dalam beberapa tahun lamanya.

Tetapi tidak banyak dari mereka yang ingat pembantaian Utsmani terhadap orang-orang Arab sendiri, yang berlangsung selama 400 tahun, dalam tahun-tahun yang suram, berat, dan biadab dari pendudukan Turki.

Dan korban pembantaian, yang merenggut nyawa banyak orang, tidak terhitung banyaknya. Di antaranya pembunuhan dengan senjata atau kelaparan dan membiarkan wabah tho’un yang menimpa, seperti yang terjadi di Mesir dan Syam, sebagai contoh.

Begitu pula pembersihan, dengan mengosongkan kota-kota bersejarah, mencuri harta pusaka, kemudian menyelundupkannya ke Turki. Seperti yang terjadi di Mesir dan Semenanjung Arab.

Termasuk mengungsikan secara paksa warga yang memiliki keterampilan ke Astana, untuk membangun masjid-masjid mewah dan istana-istana keluarga Utsmaniyah.

Daulah Utsmani juga melakukan genosida kota-kota dari penduduk aslinya, seperti menggusur dengan pengusiran dan kelaparan, untuk meninggalkan kota tempat tinggalnya. Ini seperti yang terjadi di Madinah.

Portal berita “Al-Ain” memberikan permisalan atas pembantaian tersebut dengan ungkapan: “Ini bukan sekedar titik di lautan yang diperkenankan atas luasnya.”

Dengan menyaksikan bagaimana bangsa Turki membersihkan bangsa Arab dengan segala cara, mirip dengan tujuan keserakahan bangsa Turki kuno dalam menduduki sebuah wilayah.

Yaitu, sejak suku-suku penyerbu Turki datang dari celah pegunungan Asia Tengah sebagai tentara bayaran terhadap tentara Islam. Ini adalah kisah keserakahan yang panjang, apa pun “baju” yang dikenakan oleh Turki Utsmani.

Dan saat ini, Ataturkiyya atau Ikhwaniyan Erdogan, mereka berusaha menghidupkannya kembali. Menyebarkan kembali gagasan mitos kekhalifahan Utsmani, dan menantang konsep tanah air.

Akan tetapi ada harapan bahwa orang-orang Arab akan aktif dalam menuntut Turki agar bertanggung jawab atas kejahatannya terhadap mereka.

Seperti mengembalikan warisan dan barang-barang kuno dari peninggalan yang dicuri dari Mesir dan negara-negara lainnya, seperti yang disimpan di Museum Topkapi atau lainnya di Turki.

*) Dari sumber Dr. Assem El-Desouky, Profesor Sejarah Modern dan Kontemporer di Universitas Helwan dan Portal Berita Al-‘Ain.

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait