Mengungkap Tuduhan Politisasi Ibadah Haji dan Seruan Internasionalisasi al-Haramain

  • 25 Juli 2020
  • 1,423 view
Mengungkap Tuduhan Politisasi Ibadah Haji dan Seruan Internasionalisasi al-Haramain

Setiap tahun, saat musim haji tiba, selalu ada suara miring ditujukan kepada Arab Saudi. Tudingan politisasi haji dan seruan internasionalisasi al-Haramain didengungkan.

Terbaru, Syaikh Muhammad Hassan Al-Dedew, dalam wawancara dengan TV Al-Jazeera, menyeru agar keputusan pembatalan haji harus disepakati seluruh kaum muslimin dunia.

Padahal, Saudi tidak membatalkannya, tetapi membatasi, untuk menjaga jiwa kaum muslimin di masa pandemi corona. Keputusan ini pun didukung oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) maupun ulama dunia.

Jika ditelusuri ke sejarah, maka didapati benang merah tuduhan dan propaganda keji terhadap Arab Saudi terkait pelaksanaan ibadah haji.

Yang pertama, tudingan Arab Saudi mempolitisasi ibadah haji. Dan kedua, seruan agar kepengurusan Al-Haramain di bawah dunia internasional.

Kedua isu tersebut, dapat dilacak dari sejak zaman pendiri Arab Saudi ke-3, Raja Abdul Aziz, rahimahullah.

Sejak 1927, Iran dan Turki pernah melarang warganya menunaikan ibadah haji karena alasan politis.

Bahkan secara masif, Iran melakukan porpaganda melalui media, bahwa kondisi di Al-Haramain tidak aman dan nyaman di bawah Arab Saudi.

Hal ini sebagaiamana yang ditulis Al-Amir Syaqib Arsalan, dalam bukunya “al-Irtasamaat al-Luthaf.”

Tetapi kenyataan tersebut terbantahkan setelah salah seorang menteri Afghanistan, menunaikan ibadah haji pada masa Raja Abdul Aziz dan tidak menemui apa yang dituduhkan Iran.

Dalam sejarahnya, justru Hijaz pada masa kekuasaan Turki Utsmani, Al-Haramain tidak aman dan nyaman.

Sebelum Saudi menguasai Hijaz, kaum muslimin jika berangkat haji seperti bersiap ke medan perang.

Pergi dianggap hilang, jika kembali seperti bayi yang terlahir.

Situasi demikian terekam dalam tulisan-tulisan sejarawan seperti As-Syaikh Abdul Rasyid, atau tokoh terkemuka Makkah, Husen Basalamah.

Keduanya merupakan saksi hidup, yang mengalami hidup di Hijaz pada masa pemerintahan Turki Utsmani dan Raja Abdul Aziz.

Muhammad Labib Batanun, dalam bukunya “Ar Rihlah Al Hijaziyyah” juga menuturkan kondisi serupa.

Fakta sejarah ini juga didukung tulisan Syaikh Utsman Sholeh di majalah “Hars Al Wathani,” tahun 1409, tentang kondisi mengerikan di Hijaz saat dikuasai Utsmani.

Tonton lebih detail di penjelasan video Dr. Sultan Al-Ashqah berikut ini:

Ditulis oleh: admin