Turki, Iran dan 15 Negara Arab

  • 28 Juli 2020
  • 1,678 view
Turki, Iran dan 15 Negara Arab

Tampaknya kita menghadapi ancaman terbesar dalam setengah abad ini. Iran dan Turki secara terpisah, berkembang secara tak terduga di wilayah Arab. Oleh karena itu, semua negara Arab di kawasan terancam.

Ikut campur Turki di Libya merupakan ancaman langsung ke Mesir, yang paling berbahaya sejak perjanjian perdamaian Camp David, yang mengakhiri prospek perang.

Tunisia dan Aljazair secara tidak langsung terancam dengan mobilisasi kelompok-kelompok bersenjata multinasional di Tripoli. Demikian juga, Sudan rentan terhadap infiltrasi kelompok-kelompok tersebut, dengan perbatasan terdekat Libya, sekitar empat ratus kilometer.

Iran, proyeknya ingin menjadi kekuatan regional, di antaranya telah memegang kendali atas Irak, Lebanon dan Suriah. Dan melalui Irak, mengancam Arab Saudi, Kuwait, Bahrain dan UEA.

Kedua kekuatan, Turki dan Iran, menyebar tentara dan milisi yang saat ini berperang di Suriah, Yaman, Irak, Somalia dan Libya.

Situasi baru ini mengancam semua orang, yang membutuhkan pertemuan politik untuk menghadapinya.

Juga sebagai pesan yang jelas bahwa ada 15 negara Arab yang terancam karena campur tangan Iran dan Turki di konflik negara sekitar.

Meskipun sebenarnya, negara Arab siap membentuk aliansi sebagai aksi kolektif mereka.

Tetapi aksi kolektif tersebut tampaknya terbatas, mungkin karena opini publik berbeda di kawasan tersebut.

Misalnya, di Libya, semua orang dikejutkan oleh intervensi militer langsung Turki yang tak terbayangkan.

Sebelum itu, perang Libya dipandang sebagai perpanjangan dari krisis sembilan tahun lalu.

Intervensi militer Turki dan milisi Suriah, menjadi seperti penampakan “ular,” yang mengancam dan melahirkan naluri defensif. Hal ini tampak dari perubahan sikap di negara-negara tetangga Libya.

Selama bertahun-tahun, Tunisia dan Aljazair tidak menganggap intervensi Turki sebagai ancaman serius. Tetapi sekedar sebagai konflik antar rakyat Libya, didukung oleh pihak luar.

Demikian juga, Mesir tidak berpikir bahwa pasukan Erdogan akan mendekat ke perbatasannya.

Saat ini terendus bahaya yang serius dan sudah pasti targetnya.

Demikian juga, Aljazair menjadi tidak aman, mengingat Turki tidak akan diam dalam memperluas pengaruhnya lebih dalam, jika terjadi ketidakseimbangan keamanan.

Sebenarnya, niat buruk Turki telah “ditulis di dinding” untuk waktu yang lama, sebagaimana yang beredar.

Tetapi tidak ada yang siap untuk mempercayainya, karena ada anggapan “paranoid,” menggapnya berlebihan. Juga karena perselisihan dengan Presiden Erdogan.

Sekarang, tidak ada yang meragukannya. Secara resmi dan terbuka, Ankara mengirim pasukan dan peralatannya, serta ribuan milisi Suriah untuk berperang di Libya di bawah bendera Turki.

Dan mereka telah mencapai Sirte dan al-Hilal al-Nafthiy. Tidak ada lagi yang meragukannya sebagai “paranoid,” tetapi fakta nyata. Dan ceritanya tidak akan berakhir di sini.

Beberapa orang bertanya, mengapa Turki mengambil risiko perang di daerah yang jauh?

Jawabannya, ini bagian dari strategi Turki untuk mencari pengaruh di Afrika Utara, yang terpenting adalah untuk mengamankan Eropa.

Keberadaan Turki di Afrika, akan memberikan pengaruh kepada negara-negara Uni Eropa. Yaitu, memaksa untuk menerima tuntutannya.

Kita telah melihat bagaimana Erdogan, presiden Turki, menggunakan jutaan pengungsi Suriah untuk memaksakan tuntutan politik dan keuangannya pada Eropa.

Skenario ini akan diulangi dengan kontrolnya atas Libya dan memeras negara Eropa sekaligus mengancam tetangganya; Mesir, Tunisia, Aljazair dan Sudan.

Adapun pertempuran berikutnya, dia akan berada di Yaman. Mengapa? Juga, itu akan memberi Turki, dan pemodalnya Qatar, memanfaatkan Washington, untuk melemahkan negara-negara Teluk lainnya.[]

*) Diterjemahkan dari tulisan opini Turkiya wa Iran wa 15 Daulah Arabiyah, Abdul Rahman Al-Rashid, jurnalis dan cendekiawan Saudi, mantan Pemred al-Syarq -al-Awsath, mantan Pimpinan Umum al-Arabiya.

Ditulis oleh: News Admin