Akidah Daulah Ustmaniyah Sejak Awal Berdirinya

  • 5 Agustus 2020
  • 3,818 views
Akidah Daulah Ustmaniyah Sejak Awal Berdirinya

Kajian sejarah Dr. Sultan Al-Ashqah di halaqah ini memaparkan hakekat akidah Daulah Utsmaniyah sejak awal berdirinya.

Tidak sedikit pendapat yang beranggapan bahwa Daulah Utsmaniyah berdiri di atas akidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Kenyataannya, dugaan tersebut tidak sesuai dengan fakta sejarah atas praktek agama para sultan Turki Utsmani tersebut.

Dr. Sultan menjelaskan bahwa yang tampak saat dicermati, akidah para sultan Daulah Utsmaniyah, adalah akidah sufiyah, khurafiyah, syirkiyah.

Akan tetapi, menurutnya, tidak sedikit yang tidak sependapat dan menentangnya.

Mereka yang tidak setuju tersebut, hanya berdasarkan “wahm” yang telah tersebarluas di mana-mana.

Selain karena ketidaktahuan praktek agama para sultan Utsmani, juga sikap fanatisme (ghulw).

Ada pula yang mengatakan, “Betul, bahwa pada akhirnya akidah mereka melenceng dan sesat, akan tetapi pada mulanya dalam keadaan yang benar.”

Pendapat ini juga keliru, jika meneliti dan merujuk ke sejarawan yang menceritakan fakta sebenarnya.

Turki Utsmani dari awal berdirinya, sampai pada runtuhnya, bahkan sampai Turki sekarang, menganut faham “tasawwuf al-ghaly.”

Tasawuf yang tidak sama dengan tasawuf pada umumnya, atau seperti sebagian tasawuf yang lainnya, tetapi dibangun di atas kesyirikan, bid’ah, khurafat, dan kesesatan.

Sejarawan terkemuka di Turki, Yalmaz Oztona, dalam bukunya “Tarikh Ad Daulah Al Utsmaniyyah,” menyatakan bahwa tasawuf merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan orang-orang Utsmani.

Mereka orang-orang Turki, ketika meninggalkan berhala dan memeluk Islam, yang mereka anut adalah thariqah sufiyyah yang khurafat.

Sejarawan terkemuka Turki, Muhammad Fuad Karbelli, dalam bukunya “Qiyam Daulah Utsmaniyyah” mengingatkan perkara ini, dengan mengatakan:

“Islam mereka ini, yakni Turki Utsmani di masa awal, bukan Sunni, tetapi terpengaruh oleh penyembah berhala yang terdahulu, kemudian membungkusnya dengan ajaran Sufi.”

Perhatikan juga penjelasan sejarawaan Turki, Halil İnalcık, dalam bukunya “Tarikh Daulah Utsmaniyyah Minan Nusyu Ila al-Inhidar.”

Saat pertama memeluk Islam, mereka tetap melakukan ritual Darawis. Yaitu, dengan membawa lonceng, tulang yang dikalungkan di leher, di tangan-tangan mereka membawa pedang-pedangan terbuat dari kayu.

Diiringi dengan gendang dan seruling yang dimainkan dengan suara yang kencang, mereka menari-nari.

Penjelasan yang lebih detail tentang kejadian di awal munculnya Daulah Utsmaniyyah, diceritakan oleh sejarawan Mesir, Muhammad Farid Beik, dalam bukunya “Daulah Aliyyah Utsmaniyyah.”

Dia mengatakan bahwa sultan kedua, Orkham Bin Utsman, saat pertama kali membentuk pasukan, dari anak-anak Nasrani yang diambil dari keluarga-keluarga mereka.

Yang dilakukan kepaada pasukan yang kemudian diberi nama “Yanisari,” menghadap kepada seorang syaikh sufi terkemuka, Haj Baktasy.

Sekte Bakhtasyi ini merupakan perpaduan dari Syi’ah Imam 12 dan sebagiannya lagi campuran dari khurafat Sufi.

Fakta lain dari sumber-sumber yang kredibel tentang akidah Daulah Utsmaniyah, dapat disaksikan lebih lanjut di video ini:

Ditulis oleh: admin

Konten Terkait