Perang Kemerdekaan Antara Vietnam dan Palestina

  • 17 Agustus 2020
  • 2,840 views
Perang Kemerdekaan Antara Vietnam dan Palestina

Bagaimana rakyat Vietnam dan Palestina berperang untuk membebaskan tanah airnya dari cekraman penjajah?

Dan bagaimana masing-masing mereka mengatur perjuangannya di dunia internasional, di lingkungan sekitar dan wailayah geografis mereka?

Kedua bangsa tersebut telah menjalani dua penjajahan yang berbeda.

Vietnam dijajah oleh Prancis dan Amerika, dan mereka adalah dua kekuatan besar. Adapun Palestina, mereka menghadapi negara Israel yang dideklarasikan tahun 1948.

Dalam perang maupun damai, bangsa Palestina kehilangan lebih banyak wilayahnya. Meskipun Israel lebih sedikit peralatan tempurnya dan jumlah tentaranya, tapi dia licik dan menggunakan segala kemampuan.

Pada tahun 1946, yaitu dua tahun sebelum perang Arab-Israel, Prancis berusaha untuk mendapatkan kembali kendali mereka atas Vietnam.

Kemudian pecah perang dengan perlawanan yang sengit melawan kehadiran Prancis di seluruh bagian negara.

Prancis terpaksa melarikan diri. Dan pada tahun 1954, karena penyebaran paham komunis, Vietnam terbagi menjadi dua bagian, utara dan selatan.

Hal ini yang menyebabkan perang saudara di antara mereka, sementara Amerika Serikat berpihak ke bagian selatan.

Penulis Abdul-Jawad Omar dalam penelitian panjangnya tentang Vietnam yang berjudul “The Flea War: America’s Defeat in Vietnam”, mengatakan:

“Perang berlanjut selama lebih dari sepuluh ribu hari. Setelah itu Vietnam memperoleh kebebasan dari kolonialisme Prancis, menyatukan kembali kedua kubu menjadi satu negara.

Dan juga menggulingkan proyek Amerika; yang bertujuan menjaga Vietnam Selatan menjadi negara satelit di jantung Indocina.

Perang mengakibatkan kematian lebih dari 58 ribu tentara Amerika dan antara 3 – 4 juta rakyat Vietnam.”

Ini adalah kisah sebuah bangsa…. Hidup mereka tidak menggantungkan kepada negara di sekitarnya.

Orang Vietnam tidak meminta tetangga “Asia Timur” untuk membebaskan negara mereka atas nama mereka.

Dan mereka tidak memeras orang-orang siang dan malam, tidak mengatakan bahwa ini adalah masalah paling utama.

Di mana pembangunan semuanya harus terganggu dan miliaran dihabiskan tanpa hasil demi mempertahankan wilayah yang terkepung dengan pembunuhan dan kehancuran selama seratus tahun.

Kita belum pernah mendengar tentang pemimpin “Organisasi Pembebasan Vietnam” yang berubah menjadi miliarder yang uangnya mengalir di bank Swiss, Paris, atau Malaysia.

Kita juga belum pernah melihat anak-anak para pemimpin Vietnam belajar di Amerika, Kanada, atau Moskow. Kemudian orang tua mereka melalui televisi dan radio, mengutuk Amerika siang dan malam.

Pastinya tidak ada “Hamas Vietnam,” boneka Iran, yang membombardir Amerika dengan rudal “Tank” untuk melampiaskan ke Iran dan membayar tagihan politiknya.

Orang Vietnam juga tidak menari “Dabkeh Asia” dan menuntut agar orang Cina, Filipina, dan Jepang mati untuk mereka.

Pernahkah Anda mendengar sekitar 50 ribu pejuang Vietnam bergabung dengan Pasukan Pertahanan Amerika? Sama seperti 50 ribu orang Palestina bergabung dengan tentara Israel, saya belum mendengar.

Rakyat Vietnam tidak mengatakan bahwa musuh mereka adalah kekuatan penjajah di tanah mereka yang tidak mampu dihadapi sendiri.

Sebaliknya, mereka mengatur dalam antrian panjang menuju kematian. Pria, wanita dan anak-anak dibakar dan dilebur di bawah api pesawat Amerika setiap detik.

Mereka tidak pergi ke Oslo untuk menandatangani perjanjian perdamaian rahasia. Mereka tidak memeluk Rabin dan Peres.

Yang mereka lakukan adalah terus berkorban tanpa menunggu siapapun, percaya pada teori bahwa setiap orang yang percaya pada kemerdekaan negaranya, maka akan tercapai.

Di sini, Abdul-Gawad Omar melanjutkan penjelasannya: “Front Pembebasan Vietnam telah berhasil mengubah geografi dan topografi menjadi alat ampuh dalam perangnya melawan Amerika Serikat dan Vietnam Selatan.

Selain itu, orang Vietnam bertempur dengan perang psikologis yang menargetkan dan mempengaruhi moral orang Amerika, dan berharap perang berakhir dibayar dengan mahal.”

Akhirnya, jelas, orang Vietnam tidak menyebarkan budaya kebencian, tidak membakar foto-foto pemimpin negara tetangganya, dan tidak mempersiapkan siapa pun untuk melawan mereka.

Mereka hanya berjuang untuk membebaskan tanah mereka dengan segala tanggung jawab, mengorbankan hidup demi tanah air mereka.

Dan mereka berhasil melakukannya dengan sukses besar.

*) Diterjemahkan dari artikel !حروب التحرير بين فيتنام وفلسطين oleh Muhammad Said, diterbitkan di koran Okaz, 6 Februari 2020.

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait