UAE Ikuti Langkah Negara Muslim Lain Bekerjasama Dengan Israel

  • 19 Agustus 2020
  • 1,536 view
UAE Ikuti Langkah Negara Muslim Lain Bekerjasama Dengan Israel

Topik hangat dalam pekan terakhir ini adalah pengumuman terbuka Uni Emirate Arab (UEA) menormalisasi hubungan dengan Israel.

Dunia Islam, khususnya Arab, sepakat bahwa Israel adalah musuh bersama, penjajah yang menduduki tanah Palestina.

Sejarah mencatat, rakyat Arab berperang melawan Israel sebanyak tiga kali. PLO yang didanai, Hamas, pemerintah Palestina, dan lain-lain.

Dunia Arab dan kaum muslimin sampai saat ini terus menggelontorkan dana dan dukungan terhadap Palestina.

Tetapi, hasil selama 70 tahun terakhir, tidak signifikan kalau tidak dikatakan tidak mencapai apapun.

Bahkan, satu bom dari Hamas (Ikhwanul Muslimin) dan Hizbullah ke Israel, dibalas dengan menghancurkan semua pembangunan Arab di Palestina. Bantuan $6 miliar habis dalam asap.

Kemudian, muncul alternatif menghadapi kekuatan Israel saat ini.

Dalam Islam, ada dikenal “shulh,” yang saat ini diistilahkan sebagai “normalisasi” (التبيع).

Hukum perjanjian damai dengan Yahudi dalam timbangan Syariat Islam, telah dibahas oleh ulama, di antaranya silahkan baca klik di sini.

Oleh karenanya, kita tidak bisa mengatakan bahwa perjanjian damai atau normalisasi, perkara yang menyimpang dari Islam.

Nabi shalallahu alaihi wa sallam pernah melakukannya dengan kaum musyrikin dan kaum Yahudi demi kemaslahatan umum.

Dalam dunia modern, Mesir dan Yordania mengakui Israel setelah mereka kalah perang tahun 1967, kehilangan Dataran Tinggi Golan & Sinai.

Jika mereka tidak menormalisasi dengan Israel, kemungkinan wilayahnya akan terus bekurang dicaplok Israel, seperti Tepi Barat Palestina.

Kini, di tahun 2020, UEA mengikuti langkah negara muslim sebelumnya, baik Arab maupun non Arab.

Muhammad bin Zayed (MBZ), Putra Mahkota Abu Dhabi dan Wakil Tertinggi Angkatan Bersenjata UEA, menyatakan bahwa normalisasi dengan Israel bersyarat, yaitu Israel menghentikan aneksasi terhadap Palestina.

Mampukah? Mengingat watak Yahudi yang terkenal licik, penuh hilah (tipu daya) dan khianat.

Tentunya belum dapat disimpulkan saat ini. Kita tunggu waktu untuk membuktikannya.

Arab Saudi dan Kuwait tidak bereaksi, tetapi tidak membuka hubungan sama sekali dengan Israel. Hanya tuduhan tanpa dalil dari haters selalu menyerang.

Sementara Oman dan Bahrain dipekirakan akan mengikuti langkah Emirate. Sudan bahkan sudah melakukan komunikasi dengan Israel.

Kecaman dan hujatan atas kebijakan UAE oleh beberapa pihak dilontarkan.

Padahal, jika para pemrotes UAE bersikap fair, foto pemimpin dan bendera negara lain mestinya diinjak dan dibakar juga. Karena negara lain justru terlebih dulu “berkhianat” kepada Palestina.

Sebagai contoh, Turki sejak 1949 mengakui Israel sebagai negara. Pada tahapan selanjutnya, hubungan bilateral antar kedua negara meningkat pesat.

Tahun 2014, terjadi peningkatan volume perdagangan antara Turki dan Israel.

Nilai ekspor Israel ke Turki pada tahun 2014 naik menjadi $ 2.755.6 juta, meningkat 9,5% dibandingkan tahun 2013. Impor Israel naik sekitar 14%.

Jika Turki, memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, maka lain halnya dengan Indonesia atau Malaysia, sebagai contoh.

Kedua negara serumpun tersebut, dapat melakukan perdagangan dengan Israel, meski tidak ada hubungan diplomatik antara kedua negara.

Ini memungkinkan, melalui negara perantara.

Maka, tidak tepat jika kekecewaan sebagian pihak hanya ditujukan kepada UAE yang baru akan merajut kerjasama dengan Israel.

Padahal negara-negara muslim lain jauh lebih dulu dan berkontribusi besar atas kemajuan dan perluasan wilayah Israel di bumi Palestina.

Seperti kemarahan Erdogan ke UEA, bukan karena Palestina dan Israel semata. Penyebab sebenarnya adalah ketakutan kehilangan perdagangan dengan Israel.

Israel sejauh ini menjadi satu-satunya mitra dagang terbesar Turki. Kini Erdogan khawatir dia akan kehilangan.

Dan sebagian warga Palestina protes kepada UAE, tidak bisa dilepaskan dari sikap politik dan ideologi yang berseberangan.

Kita harus paham, rakyat Palestina tidaklah satu barisan melawan penjajah. Sebagian mereka justru bergabung dengan tentara Israel, IDF dan wakil parlemen Israel.

Jika dulu kita mengenal centeng kompeni atau”londo ireng,” maka di Palestina pun terjadi. Sebagian rakyatnya berkhidmah untuk penjajah Israel.

Inilah kenapa, beberapa pihak pesimis Palestina dapat merdeka, kecuali mental rakyatnya dirubah.

Merindukan Al-Quds kembali ke pangkuan umat Islam, tetapi “mereka melupakan Allah, maka Allah pun melupakan mereka,” singkat Syaikh Shalih Al-Luhaidan hafidzahullah.[]

*) Ditulis oleh Abdullah, WNI mukim di Arab Saudi.

Ditulis oleh: News Admin