Penangakapan Qari Terkenal di Arab Saudi, Dari Mana Sumbernya?

  • 8 September 2020
  • 4,290 views
Penangakapan Qari Terkenal di Arab Saudi, Dari Mana Sumbernya?

Ramai kabar dishare netizen terkait Kerajaan Arab Saudi dalam beberapa hari ini adalah “Saudi tangkap qari terkenal, Syaikh Abdullah Basfar.”

Hampir semua media mainstream di Indonesia, mengangkat berita serupa. Kandungannya? 100% sama, copy and paste dari MEMO, dari satu-satunya sumber; akun twitter Prisoners of Conscience.

MEMO adalah media yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin (IM), selain Middle East Eye (MME) dan Al Jazeera.

PoC sendiri majhul, “We cover the latest news about Prisoners of Conscience in Saudi Arabia,” menyingkap kabar tahanan di Arab Saudi, akunya.

Informasi yang dicuit di akun tersebut, tidak terverifikasi kebenarannya, tidak ada konfirmasi dari pihak-pihak terkait yang diberitakan.

Media kini tampaknya tidak lagi menggunakan pakem; 5W1H (When, What, Who, Where, Why & How?)

Teori yang biasa diajarkan di kelas-kelas jurnalistik, telah kadaluwarsa jika membaca berita tentang Saudi, saat ini terkait Syaikh Abdullah Basfar.

Arab Saudi Tidak Asal Tangkap
Bagi sebagian orang, Saudi bak negeri dongeng; baduy, kerajaan semena-mena, rakyatnya tidak memiliki hak, seakan-akan “the king can do wrong.”

Padahal, urusan penegakan hukum, di Saudi lebih maju dengan dukungan teknologi dan perangkat aturannya.

Yang lebih utama lagi, Syariah Islam menjadi landasan hukumnya. Seperti yang tertuang dalam Nidzam al-Mahkamah al-Jazaiyah.

Pasal-pasalnya memuat penegasan proses hukum di Saudi harus berdasarkan dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Demikian pula, keputusan waliyul amr, tidak boleh menyelisihi dua sumber Islam tersebut.

Bagaimana dengan penangkapan orang? Di pasal kedua disebutkan dengan jelas dan tegas; dilarang menangkap, memeriksa, mencekal, atau memenjarakan siapapun, kecuali telah tercatat dalam peraturan.

Dan selanjutnya sebanyak 225 pasal, memuat detail bagaimana Saudi berjalan di atas aturan hukum dalam menjankan negara.

Pelaksanaannya? Siapa yang tinggal di Saudi, merasakan bagaimana wibawa aparat pemerintahnya.

Di saat yang sama, ketegasan Raja Salman dan MBS telah terbukti ampuh membersihkan pemerintahannya dari fasad (korupsi) dan paham ektremis disikat habis.

Ketegasan ini, tentunya membuahkan hasil positif bagi kemajuan Saudi, tetapi “barisan sakit hati” juga ada di mana-mana.

Saudi Tidak Tangkapi Ulama
Salah satu media nasional menulis “Kenapa Arab Saudi Tangkapi Ulama?” Jawabnya, berdasarkan isu: “penangkapan ulama ini dikaitkan dengan kritik terhadap sang putra makhota Mohammed bin Salman (MBS).”

Tidak keliru warga Saudi mencuit: “Jika yang ditindak keluarga kerajaan, maka itu menyingirkan saingan MBS. Tetapi jika yang dihukum rakyat biasa, shuuf…. (lihat), hukum tidak berlaku untuk keluarga kerajaan.”

“Ulama” jika yang dimaksud seperti Salman Audah dan yang semisalnya, dipastikan tidak akan mendapat tempat di tanah Saudi.

BACA: 37 Dakwaan Kepada Da’i Tenar, Salman Fahd Al-‘Audah, yang Berujung Tuntutan Mati

Sebagian orang tidak setuju tokoh seperti Salman dikategorikan sebagai penghasud dan penyebar fitnah, karena merasa di posisi melawan pemerintah Saudi.

Tetapi bagi Saudi yang berasaskan akidah Ahlu Sunnah, tegas memberantas paham ekstremis-takfiri. Meski, sebagian orang karena kebenciannya melabeli Saudi sebagai negeri “Wahabi.”

Terlepas dari benar tidaknya penangkapan Syaikh Basfer di atas, berita yang beredar luas sejatinya ingin mendiskreditkan Arab Saudi, dan ini bukan kali pertamanya.

BACA: Syaikh Bandar Balilah Ditahan Pemerintah Arab Saudi, Menurut Kabar Dusta Al-Jazirah

Pesan yang ingin disampaikan dengan pemberitaan masif tersebut; pemerintah Saudi dzalim, menangkapi ulama yang menyuarakan kebenaran, membungkam suara kritis terhadap kerajaan, dan seterusnya.

Ini merupakan jenis “stereotype,” penilaian hanya berdasarkan persepsi masing-masing. Karena yang ditangkap penguasa selalu dikategorikan sebagai pihak yang terdzalimi.

Purbasangka di atas, bersamaan dengan citra Saudi yang terus menerus dihembuskan sebagai negara otoriter, pemimpinnya lalim, anti kritik, tega menghabisi lawan politiknya, hingga imej anti Islam, pro Yahudi, antek Amerika.

Dari mana munculnya presepsi tersebut? Hollywod sering menampilkan di film-filmnya, sosok Arab sebagai teroris, gila harta dan wanita, hendonis dan stigma negatif lainnya.

Media dan buku, masih terus diproduksi dengan imajinasi yang melampaui kenyataan. Seperti buku terakhir, “Blood and Oil,” buku sampah yang menjijikkan, jauh dari amanah ilmiah.

Character assassination terhadap Arab Saudi, tidak bisa dinafikan yang dilatarbelakangi faktor agama, ekonomi dan kebijakan politiknya. Siapa yang tidak ingin menikmati keuntungan minyak di tengah dunia merugi, misalnya?

Begitulah, semakin kencang Saudi dibully, disudutkan, semakin membara kebencian dan kedengkian di hati musuh-musuhnya, sementara Saudi tetap berdiri kokoh dan semakin maju.[]

*) Ditulis oleh Abdullah, WNI di Arab Saudi.

 

Ditulis oleh: News Admin