Stigma Wahabi-Khawarij Sejak Era Daulah Utsmaniyah

  • 11 September 2020
  • 992 views
Stigma Wahabi-Khawarij Sejak Era Daulah Utsmaniyah

Daulah Utsmaniyah atau Turki Ustmani memiliki saham terbesar dalam menghasut umat Islam dengan melabeli Kerajaan Arab Saudi sebagai wahabi-khawarij.

Sejarah ini kembali pada masa penyerbuan Daulah Utsmaniyah terhadap Kerajaan Arab Saudi pertama, di tahun 1213 H.

Utsman bin Bisyr dalam bukunya yang berjudul “Unwan Al Majd,” mengisahkannya cukup detail.

Di antaranya, tentara gabungan Utsmani yang sangat banyak menuju Najd, buah propaganda Turki kepada Saudi pertama yang dituduh khawarij dan kafir.

Dengan kekuatan penuh, didukung persenjataan mutakhir, pasukan Utsmani mengarah menuju Najd.

Di waktu yang sama, Sultan Utsmani membiarkan penjajah Perancis menguasai Mesir, yang saat itu di bawah kekuasaannya.

Dr Sultan al-Ashqah dalam kajiannya kali ini, memaparkan bahwa Turki Utsmani lebih memerangi siapa saja yang mendakwahkan tauhid dan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Hingga ketika Makkah dan Madinah telah dikuasai Kerajaan Arab Saudi, sebagai puncak amarah Utsmani.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Dr. Abdurrahim Abdurrahman dalam bukunya “Al Watsaiqy” di jilid pertama.

Setelah Utsmani putus asa atas lepasnya Irak dan Syam, maka dibentuklah pasukan di Mesir, yang dikomandoi Muhammad Ali Pasha.

Selama pembentukan tentara dan pasukan bersenjata itulah, Utsmani tidak berhenti membuat propaganda besar-besaran dengan tuduhan yang buruk terhadap Saudi.

Tujuannya, menjauhkan kaum muslimin di penjuru timur dan barat dari dakwah Imam al-mujaddid Syaikh Muhammad Bin Abdil Wahhab, yang didukung oleh Kerajaan Arab Saudi.

Kala itu, disebarkan berita dusta oleh Daulah Ustmani, bahwa Imam Besar Saudi melarang penduduk Syam dan Mesir melaksanakan haji dan umroh.

Al-Jabarti dalam buku sejarahnya, memberikan bantahan atas tuduhan tersebut.

Yang tepat adalah Imam Besar Saudi melarang apa yang dibawa oleh jemaah haji yang disebut “mahmal.”

Al-Mahmal ini membawa qiswah Ka’bah yang dibawa oleh rombongan jama’ah besar dan diiringi oleh rebana, gong, terompet, gendang dan lainnya.

Sejak di perjalanannya dari Mesir dan Syam, orang-orang mengusapnya, bertabarruk dengannya dan menciuminya.

Inilah yang dilarang masuk Makkah oleh Imam Besar Saudi, dengan mengutip perkataan:

Jika kalian datang dengan mahmal pada tahun depan, maka kami akan melarang kalian masuk Makkah. Apabila kalian datang tanpa bid’ah dan khurafat, kami menyambut dengan kelapangan. Dan dari Daulah Saudia bagi kalian, jaminan keamanan haji dari awal sampai akhir.

Kedustaan juga disebarkan melalui Mufti Makkah Daulah Utsmani kala itu, Ahmad Zaini Dahlan dalam bukunya “Ad Durrar  As Sinniyyah Ar Rad A’la Wahhabiyyah.

Dalam buku tersebut, ditulis berbagai kebohongan terhadap Saudi, terhadap ulamanya dan penduduk Najd.

Di antaranya, Dahlan mengatakan bahwa ulama Najd mengkafirkan siapa saja yang menyelisihi mereka.

Termasuk menuduh bahwa Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab menciptakan risalah nubuwwah baru. Jelas ini mengada-ada dan dusta.

Sebagai bantahan atas kedustaan Dahlan. ulama India, Syaikh Bisyri Syah Syawani menulis sebuah buku yang berjudul “ Shiyanatul Insan ‘an Was Wasati Syaikh Dahna.”

Isinya membantah tulisan Dahlan dan membongkar kebohongan-kebohongannya terhadap Daulah Saudi dan dakwah salafiyyah di Najd.

Fakta-fakta sejarah lainnya yang lebih lengkap terkait tema ini, tonton kajian Dr Sultan di video berikut ini.

Ditulis oleh: admin