90 Tahun Saudi dan Pembangkangnya di Negeri Kafir

  • 25 September 2020
  • 1,091 view
90 Tahun Saudi dan Pembangkangnya di Negeri Kafir

Ketua Dewan Direksi Saudi Space Authority, Pangeran Sultan bin Salman bin Abdulaziz, menegaskan bahwa persatuan negara Saudi adalah persatuan hati sebelum menjadi satu kesatuan geografis.

Pangeran Sultan mengatakan ini dalam kesempatan 90 Tahun Hari Nasional Arab Saudi, yang membawa ingatan terhadap epik penyatuan yang dipimpin oleh pendiri Raja Abdulaziz bin Abdul-Rahman, rahimahullah.

Raja Abdulaziz membangun bersama penduduk Kerajaan dari seluruh wilayahnya, sebuah model sejarah unik dalam persaudaraan dan kerjasama kolektif.

Tujuannya mengarah kepada penyatuan negara dan partisipasi semua orang dalam pembangunan dan keberhasilan, membentuk metode yang diikuti oleh raja-raja selanjutnya, setelah dia.

Pada peringatan 90 deklarasi berdirinya Arab Saudi, Pangeran Sultan menyatakan negaranya terus membangun untuk kesuksesan besar yang terakumulasi selama bertahun-tahun.

Pencapaian yang tidak berhenti di era mana pun dan perkembangan berkelanjutan serta transformasi positif di semua sektor selama beberapa dekade terakhir.

Pembangkang Arab Saudi
Sejak kemarin Kamis (24/9), media ramai menulis “sekelompok pembangkang” Arab Saudi di sejumlah negara, mengumumkan pendirian sebuah partai oposisi.

Konon, partai ini menjadi perlawanan politik terorganisir pertama di bawah pemerintahan Raja Salman.

Perlu diketahui, beberapa pihak yang sakit hati dan lari mencari suaka politik telah ada sejak lama.

Di antaranya saat awal kepemimpinan Raja Salman dan Putra Mahkota, Muhammad bin Salman, yang melakukan pembersihan “top down” dalam kampanye “mukafahah al-fasad” (penanggulangan KKN).

Adalah Khalid bin Farhan bin Abdul Aziz bin Saud bin Nasser Al Saud, yang mengaku sakit hati karena keluarganya terdampak pembersihan korupsi besar-besaran.

Dia membuat sebuah “Gerakan Kebebasan Orang-orang di Semenanjung Arab.” Tujuannya gerakan ini, di antaranya:

  • Ingin merubah sistem pemerintahan di Arab Saudi menjadi sistem politik kerajaan konstitusional parlementer yang bebas.
  • Membantu warga Saudi mendapatkan suaka pollitik di Eropa, khususnya di Jerman.

BACA: Demokrasi Tidak Dibutuhkan di Arab Saudi

Maka tidak heran, jika ada warga Saudi yang keluar dari tradisi dan agamanya, mereka hanya berani melakukan aktivitas dan kampanyenya di luar Saudi.[]

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait