Museum Haramain Dibuka Kembali Untuk Pengunjung Mulai 1 Rabiul Awwal

  • 30 September 2020
  • 449 views
Museum Haramain Dibuka Kembali Untuk Pengunjung Mulai 1 Rabiul Awwal

Museum Masjidil Haramain akan kembali dibuka untuk muktamirin dan peziarah, mulai 1 Rabiul Awwal 1442 (18 Oktober 2020) setelah jeda lebih dari enam bulan.

Museum Haramain, yang dikenal dengan Pameran Arsitektur Dua Masjid Suci, ditutup pada Maret lalu, menyusul penangguhan ibadah umrah dan ziarah ke Masjidil Harmain, sebagai pencegahan dan protokol membendung penyebaran virus corona.

Dibukanya kembali aktivitas Umrah secara bertahap dan ziarah ke Masjidil Haramaian, yang efektif mulai 4 Oktober ini, sekaligus pembukaan kembali museum yang dibangun oleh Pimpinan Umum Urusan Masjidil Haramain.

Syaikh Abdul Rahman Al-Sudais, Piminan Umum, telah memberikan arahan untuk membuka kembali museum sebagai bagian dari pembukaan kembali secara bertahap semua fasilitas dan lembaga eksternal Masjidil Haramain, sebagaimana laporan alarabiya.net.

Museum ini menampilkan dimensi budaya dan sejarah dari Dua Masjid Suci. Memiliki karakter unik dalam dunia Islam, karena menampilkan peninggalan Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah yang dilestarikan sejak beberapa-abad lampau.

Museum tersebut diresmikan oleh Amir Makkah, Pangeran Abdul Majeed, rahimahullah, pada 25 Syawal 1420.

Memiliki luas lebih dari 1.200 meter persegi dan desain eksteriornya selaras dengan dekorasi Islam yang unik di Masjidil Haram. Lokasinya terletak di sebelah Pabrik Kiswa Ka’bah di distrik Umm Al-Jood di Makkah.

Barang yang dipamerkan antara lain pilar, lencana marmer, dan foto sejarah.

Ada dua benda yang paling menonjol, yaitu tangga kayu jati berornamen di atas roda, yang berasal dari tahun 1824 dan digunakan untuk mengakses Ka’bah. Dan sepasang pintu logam emas raksasa Ka’bah yang mengagumkan.

Ada juga prasasti dari Masjidil Haramain, koleksi langka foto-foto kuno dua al-Haramain, koleksi abstrak, manuskrip, dan salinan langka Al-Qur’an.

Museum ini terbagi menjadi tujuh ruangan, dimulai dengan ruang masuk, tempat penerimaan pengunjung yang menampilkan koleksi foto lama dan terbaru dan maket model Masjidil Haram berskala kecil.

Yang kedua, ruang Masjidil Haram yang berisi tangga Ka’bah yang terbuat dari kayu jati dan berisi kompartemen yang menutupi Maqam Ibrahim.

Ketiga, ruang Ka’bah yang berisi labirin Ka’bah yang terbuat dari kayu dan dihiasi dari luar dengan emas, serta tiang jati Ka’bah, dan pintu Ka’bah, yang dibuat oleh Raja Abdul Aziz pada tahun 1363 H.

Bagian keempat adalah ruang foto, yang berisi koleksi foto-foto Makkah dan Madinah yang paling penting dan kuno dan berasal dari tahun 1299 H.

Kelima, ruang manuskrip, yang memamerkan koleksi manuskrip dan salinan langka Al-Qur’an. Seperti, salinan Kitab Suci yang ditulis pada masa pemerintahan Khalifah Utsman Bin Affan.

Keenam, ruang Masjid Nabawi, berisi salah satu pintu utama Masjid Nabawi, yang merupakan bagian dari perluasan pertama pada 1373 H dan menara utama Masjid Nabawi, berasal dari tahun 1589.

Sedangkan ruangan ketujuh adalah aula Zamzam yang berisi sumur Zamzam, termasuk cincin dan tutup serta roda pengangkat air, yang berasal dari akhir abad ke-14 H.

Di ruangan ini juga dipamerkan pagar tua sumur Zamzam dengan ember tembaga, yang berasal dari tahun 1882, yang digunakan untuk menimba air.

Ide museum berasal dari kebutuhan untuk melestarikan artefak Islam yang tak ternilai dari Masjidil Haramain. Ekspansi besar-besaran yang terjadi di Haramain selama berabad-abad memunculkan artefak, prasasti, dan karya arsitektur tersebut.

Pimpinan Umum al-Haramain memandang perlunya mendirikan museum yang mencakup semua benda bersejarah tersebut.

Sebagai mahakarya Islam, yang menarik untuk dikunjungi berbagai orang dari dalam maupun luar Kerajaan.

Selain itu, museum ini bertujuan untuk mendidik generasi penerus untuk mengenalkan mereka pada sejarah era Islam yang agung. SG

Ditulis oleh: admin