Pangeran Bandar: Kami Bersama Palestina, Tetapi Tidak Bersama Pembohong, Munafik, Penipu dan “Penjual” Isu Palestina (1)

  • 8 Oktober 2020
  • 1,799 view
Pangeran Bandar: Kami Bersama Palestina, Tetapi Tidak Bersama Pembohong, Munafik, Penipu dan “Penjual” Isu Palestina (1)

Pangeran Bandar bin Sultan, mantan Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat, mengungkap banyak fakta sejarah dalam acara “Exclusive interview” di stasiun televisi Al Arabiya sebanyak 3 seri.

Tokoh yang malang melintang di dunia politik dan diplomasi ini, berbicara tentang posisi politik, diplomatik dan militer yang diambil oleh Kerajaan Arab Saudi untuk membantu perjuangan Palestina.

Tidak hanya berbicara di masanya, tetapi juga sejak era Raja Abdulaziz dan apa yang telah dia saksikan sebagai pekerjaan diplomatik dan politiknya.

Di antara sebab Bandar berbicara di acara spesial tersebut, dia mengamati perkembangan politik terkini, terutama statemen yang mengejutkan dari para pemimpin Palestina hari ini.

“Awalnya, saya tidak percaya dengan pasti apa yang saya dengar. Tetapi satu atau dua hari setelahnya, saya menyaksikan sendiri di layar tv,” paparnya di awal pembicaraan.

Pernyataan apa yang membuat menyakitkan hatinya? Yaitu pernyataan Presiden Palestina terkait penolakan normalisasi UEA-Israel dan komentar terhadap negara Arab Teluk.

Bandar mengatakan, bahwa diksi yang digunakan, selayaknya tidak dilontarkan oleh pemimpin Palestina kepada negara Arab Teluk yang selama ini nyata mendukung Palestina.

“Pernyataan mereka terhadap negara-negara Arab Teluk, bukan hanya tidak diterima, tetapi tertolak,” tambah Bandar.

“Tetapi jika dilihat di sisi lain, pernyataan seperti ‘pengkhianatan,’ atau ‘menusuk dari belakang,’ itu tidak aneh lagi. Karena cara seperti ini sudah terbiasa dilontarkan di antara mereka sendiri.” jelas Bandar.

Bandar meneruskan, “pemimpin yang berkuasa di Gaza, menuduh penguasa di West Bank sebagai pengkhianat. Di waktu yang sama, penguasa di West Bank juga menuding penguasa di Gaza sebagai separatis dan menusuk mereka dari belakang.”

Sebagai pelaku sejarah yang terlibat dalam usaha kemerdekaan Palestina dan memperjuangkan hak-hak Palestina, Bandar merasa marah dengan respon pemimpin Palestina seperti itu.

Tetapi amarahnya berubah menjadi menyakitkan dan menyedihkan hatinya, mengingat apa yang telah diusahakan terkait isu Palestina antara 1978 hingga 2015.

Tema inilah yang ingin dia sampaikan kepada rakyat Saudi, agar mengerti posisi Arab Saudi dari sejak awal berdirinya, tidak pernah luput memperhatikan dan memperjuangkan Palestina.

Bandar mulai bercerita sejarah antara tahun 1939 hingga 1978. Menurutnya, posisi Saudi selama kurun waktu tersebut sangat jelas, karena terdokumentasikan dengan baik.

Terutama dia sebagai pejabat, selain mengakses dokumen sejarah, juga mendengar langsung dari para pelaku sejarah di zamannya. Dia menyebut di antaranya, Raja Fahd, Raja Abdullah, Pangeran Sultan, Pangeran Naif, rahimahumullah. Termasuk juga dari Raja Salman, hafizahullah.

Di Antara Fakta Sejarah Masa Raja Abdulaziz
Pembicaraan Pangeran Bandar di atas, di antaranya merujuk ke koran Palestina yang terbit pada tanggal 23 November 1947.

Ditulis oleh koran tersebut bahwa Raja Abdulaziz mengumumkan kesiapan penuhnya untuk mengirim 6000 tentara Saudi, untuk membantu Liga Arab melawan Israel.

Sekaligus, Arab Saudi siap membiayai, serta menggaji orang-orang yang bekerja di komite.

BACA: Raja Abdulaziz Kepada Roosevelt: Orang Arab Memilih Mati Daripada Menyerahkan Palestina
BACA: Kisah Suap 20 Juta Pound Untuk Raja Abdul Aziz: Prinsip Dasar Arab Saudi Terhadap Isu Palestina Sejak Awal

Fakta Sejarah Antara Fatah dan Hamas
Pangeran Bandar menyinggung perseteruan Fatah dan Hamas, dua faksi perlawanan Israel yang selalu dianggap memperjuangkan rakyat Palestina.

Gerakan Fatah dan Hamas Palestina, bersepakat menandatangani “Perjanjian Makkah” di bawah perlindungan Raja Abdullah bin Abdul Aziz di Istana Al-Safa di Makkah Al-Mukarramah.

Ini terjadi pada hari Kamis, (2/8/2007) setelah dua hari pembicaraan intensif. “Perjanjian Mekah” mengatur pembentukan pemerintah persatuan nasional dan mengakhiri pertempuran di antara mereka.

Dalam interview, Bandar mengungkapkan, “kami melakukan keluar masuk antara lantai 12 dan 14 hotel untuk meyakinkan mereka tentang perjanjian tersebut. Tetapi, beberapa hari setelah kembali dari Arab Saudi, setelah mengumumkan di depan umum tentang persatuan, mereka melanggar kesepakatan mereka sendiri.”

Realita Saat Ini
Padahal, mereka bersumpah di depan Ka’bah melakukan kesepakatan atas dukungan dan inisiatif Raja Abdullah, sebagaimana raja-raja Arab Saudi seblmnya melakukan hal serupa.

Tetapi mereka mengkhianati sumpah dan raja. Sementara masih saja orang-orang yang menjual “kadhiyah” Palestina menuduh negara lain sebagai pengkhianat.

Mereka yang merasa paling terdepan memperjuangan Palestina, sampai hari ini hasilnya seperti tampak di peta hari ini.

UEA dan Bahrain melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, dengan syarat tanah Palestina tdk lagi dicaplok. Sementara itu, ada ada negara yang terlebih dahulu mengakui Israel, tetap saja tanah Palestina teraneksasi.

Jadi apa yang diperjuangkan oleh negara dan kelompok-kelompok yang selama ini mengaku berjuang untuk Palestina?

Masalah Palestina sudah lebih dari 1 abad, generasi milenial yang mengosumsi berita dari media online tanpa paham sejarah, banyak yang kurang mislead.

Al-Quds milik umat Islam, perjuangannya membutuhkan orang yang mukhlish, bukan munafikin yang selalu menjual “kadhiyah” Palestina. [Bersambung]

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait