Pangeran Saudi Dukung Seruan Boikot Produk Turki

  • 9 Oktober 2020
  • 2,885 views
Pangeran Saudi Dukung Seruan Boikot Produk Turki

Setelah akhir September lalu, beberapa media Turki, seperti Cumhuriyet, Halk TV dan Gercek Gundem, menulis berita Saudi larang impor produk Turki. Kini beberapa kalangan dari Saudi mengamininya.

Pada 3 Oktober lalu, ‘Ajlan al-‘Ajalan, Ketua Majlis Kamar Dagang Saudi, menyerukan untuk memboikot semua produk Turki, baik pada tingkat impor, investasi atau pariwisata.

Dia beralasan, “adalah tanggung jawab setiap pedagang dan konsumen Saudi, sebagai tanggapan atas permusuhan terus menerus dari pemerintah Turki terhadap kepemimpinan, negara dan warga negara kami.”

Kamar Dagang Syarqiyah Saudi pun sempat memberi peringatan, tentang risiko berinvestasi di Turki.

Pasalnya, kebijakan politik, memburuknya krisis ekonomi, serta peningkatan proporsi hutang dan pengangguran, yang mempengaruhi investasi asing, sebagai alasan tidak kondusifnya untuk investasi.

BACA: Isu Boikot dan Sikap Asli Erdogan Atas Negara Arab Teluk

Hari Jum’at (9/10) ini, berbagai portal media online menulis berita ajakan Pangeran Abdul Rahman bin Musaid, yang menyerukan boikot atas semua produk dari Turki, sebagai tanggapan pernyataan provokatif Erdogan.

Abdul Rahman menanggapi berita di BBC News: “Pasukan Turki menjaga stabilitas negara-negara Teluk melalui Qatar,” seperti klaim Erdogan.

“Oleh karena itu, saya menyerukan kepada semua orang untuk memboikot sepenuhnya produk Turki untuk stabilitas dan memperkuat ekonomi Turki,” katanya.

Sebagaimana laporan surat kabar Qatar berbahasa Inggris, The Peninsula, di sela-sela kunjungan kerja Presiden Turki pada hari Rabu (7/9) ke Doha, Erdogan membuat ancaman implisit ke negara-negara di kawasan Teluk, menuduh mereka berusaha menyebarkan kekacauan.

Erdogan tidak menyebutkan negara tertentu. Namun, dia berkata, “Tidak ada yang boleh mengganggu kehadiran Turki dan tentaranya di Teluk, kecuali pihak-pihak yang ingin menyebarkan kekacauan.”

Erdogan mengklaim bahwa “Turki, dengan kehadiran militernya, tidak hanya berkontribusi dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di Qatar, tetapi di seluruh kawasan Teluk.”

Kunjungan Erdogan ke Qatar menuai banyak persepsi netizen. Pengamat politik dan ekonomi menganggap bahwa kunjungan Erdogan ke Qatar sebagai usaha “mengemis” dana.

Dari ekspresi kunjungannya yang berbeda dari sebelumnya, netizen di twitter mulai menyebarluaskan hashtag أردغا_نيبتز_قطر# (#erdogan_memeras_qatar) dan meme yang menggambarkan usaha tersebut.

Prof. Steve Hanke, pengajar di Johns Hopkins University, yang mengkhususkan diri pada masalah Turki, mengungkap bahwa inflasi tahunan di Turki telah mencapai 35,53% per 7 Oktober 2020.

Sementara Bank Sentral Turki berbohong dengan mengatakan bahwa inflasi hanya 11,75%. Ini berarti inflasi riil 3 kali lipat dari yang diumumkan.

Kolumnis Prof. Dr. Hamzah Ath-Thoyar menyayangkan dengan kepemimpinan Erdogan. Dalam tulisan terbarunya, Hamzah mengingatkan bahwa kesalahan terbesar Erdogan adalah telah mengadopsi teori hegemoni yang tak terkendali, dan hasratnya untuk berekspansi adalah hasrat kronis yang tidak dapat dia sembunyikan. [dari berbagai sumber]

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait