Siapa Sekutu Palestina Sesungguhnya? Iran? Atau Turki?

  • 9 Oktober 2020
  • 1,268 view
Siapa Sekutu Palestina Sesungguhnya? Iran? Atau Turki?

Pangeran Bandar bin Sultan, mantan Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat, mengungkap banyak fakta sejarah dalam acara “Exclusive interview” di stasiun televisi Al Arabiya sebanyak 3 seri.

Ini tulisan kedua dari cuplikan dari seri pertamanya yang cukup panjang. Kami sajikan dalam beberapa tulisan pendek, agar mudah mencerna monolognya panjangnya.

======

Saya pikir bahwa keadaan dan waktu telah berubah, dan menurut saya, sangat adil bagi rakyat Palestina untuk mengetahui hakekat kebenaran yang belum banyak dibahas atau disembunyikan.

Siapakah sekutu Palestina sekarang? Apakah Iran, yang menunggangi perjuangan Palestina sebagai dalih dengan mengorbankan rakyat Palestina?

Apakah Iran dan Khomeini, yang ingin membebaskan Yerusalem melalui Yaman, Lebanon, dan Suriah? Jalan ke Yerusalem jelas, jika mereka benar-benar ingin mengambilnya.

Ataukah Turki, yang telah disyukuri oleh para pemimpin Hamas atas pendiriannya dalam mendukung Hamas dan perjuangan Palestina?

Itu hanya karena Erdogan mengumumkan bahwa dia akan menarik Duta Besarnya dari UEA untuk mendukung perjuangan Palestina.

Apakah ada yang bisa menjelaskan kepada saya, mengapa para pemimpin Hamas, alih-alih Erdogan akan menarik Duta Besar Turki dari UEA, mengapa mereka tidak memintanya untuk mengusir Duta Besar Israel dari Ankara dan menarik Duta Besar Turki dari Tel Aviv?

Orang-orang ini, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, di dalam jiwanya terdapat penyakit, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang tak terbantahkan:

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d ayat 11)

Sejauh ini, tidak diragukan, merekalah yang menjadi alasan utama di balik kemunduran yang dihadapi Palestina.

Pada tahun 1939, Mandat Inggris memutuskan untuk mengadakan konferensi di London dan mengundang Yahudi yang berada di Palestina, pimpinan Palestina dan beberapa negara Arab, termasuk Arab Saudi.

Delegasi kami dipimpin oleh Pangeran Faisal dan termasuk Pangeran Khalid, rahimahumullah.

Baik Yahudi maupun Palestina, menolak tawaran yang diajukan oleh Inggris. Negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi, mendukung sikap penolakan Palestina.

Tak lama kemudian, Inggris memasuki Perang Dunia II dan Palestina menjadi masalah kedua bagi mereka.

Sementara itu, kelompok bersenjata, yang kami sebut geng bersenjata, dibentuk di Israel dan menyerang warga sipil Palestina, membunuh dan membantai mereka, serta melakukan tindakan terorisme.

Kelompok perlawanan Palestina juga berjuang untuk kebebasan negara mereka.

Pada tahun 1945, tak lama sebelum berakhirnya Perang Dunia II, Raja Abdulaziz, rahimahullah, bertemu dengan Presiden Roosevelt.

Dan perjuangan Palestina menjadi tema yang menyita paling banyak waktu diskusi keduanya. Ini terjadi pada bulan Februari 1945.

Beberapa minggu kemudian, pada bulan Maret 1945, Raja Abdulaziz mengirim surat yang panjang kepada Presiden Roosevelt untuk menuliskan apa yang telah dia katakan kepadanya secara lisan, dan untuk mendapatkan jawaban.

Presiden Roosevelt menjawab. Semua dokumen ini ada, dan saya menyajikannya kepada warga Saudi, untuk memberi tahu mereka tentang bagaimana sikap Arab Saudi terhadap Palestina sebelum semua peristiwa terjadi.

Dua peristiwa lagi terjadi pada tahun 1945. Yang pertama adalah pendirian Liga Negara-negara Arab dengan lima atau enam anggota, termasuk Arab Saudi.

Yang kedua adalah berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Dari tahun 1945 hingga 1947, Inggris memutuskan untuk menarik dan mengakhiri Mandat di Palestina.

Mereka mulai mencoba untuk menemukan kompromi antara orang Yahudi dan Palestina, yang didukung oleh negara Arab untuk membawa perdamaian di wilayah tersebut.

Mereka tidak dapat mencapai solusi yang disetujui semua pihak. Jadi mereka menggunakan Dewan Keamanan PBB yang baru dibentuk dua tahun sebelumnya.

Saat itu, Dewan Keamanan terdiri dari AS, Uni Soviet, Prancis, dan Inggris. Anggota Tetap memiliki kekuatan untuk mengeluarkan keputusan apa pun yang mereka buat, sebagai hak veto mereka yang mutlak.

Mereka memberikan suara pada resolusi PBB nomor 181. Dan sejak saat itu, cara tertentu untuk menangani peristiwa yang berkaitan dengan masalah Palestina mulai terbentuk dan diulangi berkali-kali.

Delegasi Yahudi terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok resmi menyetujui resolusi tersebut, karena akan membentuk dua negara di Palestina, satu Palestina dan satu Yahudi.

Meskipun resolusi tersebut tidak sepenuhnya menjamin hak-hak Palestina, tetapi akan menetapkan dua negara yang diakui secara internasional, yang menjadi anggota Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kelompok kedua dari delegasi Yahudi menolak Resolusi 181 dan berencana untuk terus melakukan operasi teroris dan subversif terhadap warga Palestina.

Kedua kelompok dalam kesepakatan tersebut,salah satu dari mereka menerima resolusi tersebut dan sebagai hasilnya, Negara Yahudi bernama Israel diakui, kemudian menjadi Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Adapun pihak Arab, Palestina menolak resolusi tersebut. Dan seperti biasa, kami mendukung penolakan mereka.

Bertahun-tahun kemudian, tuntutan utama saudara-saudara Palestina kita adalah resolusi PBB 181.

Tetapi itu tidak lagi dibahas. Tidak ada yang pemhasannya sekarang. Inilah awal permulaan, dan peristiwa seperti itu, seperti yang saya sebutkan, diulangi sekali, dua kali, dan tiga kali.

Kemudian, perang tahun 1948 terjadi akibat terhimpitnya rakyat Palestina, dan negara-negara Liga Arab memutuskan untuk membantu mereka.

Raja Abdulaziz memberikan pandangan dan memberikan nasihat khusus kepada saudara-saudara di Liga Arab dalam dua poin;

Pertama, negara-negara Arab yang bertetangga dengan Palestina tidak boleh membiarkan orang Palestina mengungsi.

Warga Palestina harus tetap di tanah mereka, karena jika mereka mengungsi, mereka akan berakhir di kamp-kamp pengungsi.

Raja Abdulaziz yakin, jika pun ada kebutuhan kamp pengungsi, ​​mereka harus berada di tanah Palestina, bukan di tempat lain. Dan sejarah telah membuktikan bahwa pendapatnya benar.

Sekarang, Mesir, Suriah, Lebanon dan Yordania penuh dengan kamp pengungsi. Bagaimana jika kamp pengungsi tersebut berada di dalam Palestina? Bayangkan saja betapa berbedanya situasi di negara ini dari waktu ke waktu.

Kedua, Raja Abdulaziz menyeru negara-negara Arab, bahwa mereka memiliki kewajiban untuk mendukung rakyat Palestina di negaranya, yaitu mendukung dengan uang dan senjata.

Dan agar membuka pintu bagi warganya yang ingin bergabung dengan perlawanan Palestina. Ini sebagai upaya untuk mendorong imigrasi warga Arab ke Palestina, seperti imigrasi Yahudi ke Palestina.

Kedua poin tersebut ditolak.

Karena Kerajaan Arab Saudi berprinsip bahwa Allah di atas jemaah yang bersatu, mereka yang berdiri terpisah pasti gagal, maka kami mengikuti mereka ke jalan yang tragis ini dan keputusan mereka membawa semua orang ke dalam “bara api.”

Lebih lanjut, silahkan tonton videonya:

Ditulis oleh: admin