Mereka Yang Tidak Tahu Berterima Kasih

  • 11 Oktober 2020
  • 1,216 view
Mereka Yang Tidak Tahu Berterima Kasih

Judul di atas bukan bermaksud permintaan atau memohon pengakuan kepada siapapun. Ini sekedar luapan emosional Khalid Hamud Al-Sharif, pengamat sosial dan politik.

Dia memaparkan rentang waktu dan angka-angka yang menggambarkan kalimat judul di atas. Berikut rangkumannya.

Arab Saudi menghabiskan miliaran dolar setiap tahun untuk membantu negara-negara terbelakang. Atas semua kebaikan ini, Saudi akhirnya menerima banyak kebencian.

Antara tahun 1976 hingga 1987, bantuan pembangunan Saudi berjumlah US $49 miliar, nomor dua setelah Amerika Serikat.

Rasio GNP rata-rata 4,2% selama periode ini, jauh di atas jumlah tertinggi yang disiapkan oleh negara-negara Development Assistance Committee (rata-rata DAC 0,35%).

Pada tahun 2005, Managing Director IMF, Rodrigo de Rato, mengapresiasi peran Arab Saudi dalam memberikan dukungan ekonomi dan keuangan kepada negara-negara kawasan dan negara berkembang pada umumnya.

Dana Saudi dibentuk oleh Dekrit Kerajaan pada Oktober 1974, untuk merangsang pertumbuhan ekonomi di negara berkembang.

Dalam empat tahun berikutnya, Saudi memberikan pinjaman lunak senilai US $ 3,1 miliar kepada 51 negara, banyak di antaranya kelompok negara dengan pendapatan perkapita terendah di dunia.

Hampir 60% dari pinjaman yang disetujui, dialokasikan untuk proyek transportasi, listrik dan air. Pada 1979, dana tersebut menyumbang sekitar 30 persen dari bantuan ekonomi luar negeri kerajaan.

Pada 2019, Arab Saudi, melalui Saudi Fund for Development, telah menjadi donatur terbesar ke-3 untuk UNRWA, dengan mendonasikan $ 800 juta sejak 1994.

Pada 2019 itu pula, dana tersebut dimanfaatkan untuk merawat kamp-kamp pengungsi Palestina di berbagai negara.

Arab Saudi menjanjikan $ 1 miliar dalam jaminan ekspor dan pinjaman lunak ke Irak. Untuk Lebanon, Saudi menjanjikan bantuan dan deposito sebesar US $ 1,59 miliar kepada Bank Sentral Lebanon pada tahun 2006 dan tambahan US $ 1,1 miliar pada awal tahun 2007.

Dari bantuan tersebut, US $ 500 juta ditujukan untuk rekonstruksi. Setelah gempa bumi Bam tahun 2003, Arab Saudi membantu lebih dari US $ 200.000 kepada para korban.

Arab Saudi menjadi salah satu penyedia bantuan terbesar untuk rakyat Palestina. Sejak 2002, Arab Saudi telah menyumbang lebih dari $ 480 juta dalam bentuk dukungan moneter kepada Otoritas Palestina dan pengungsi Palestina melalui UNRWA.

Melalui Liga Arab, Saudi memberikan lebih dari US $ 250 juta untuk Palestina, dan menjanjikan US $ 500 juta dalam bantuan selama tiga tahun ke depan pada Konferensi Donor, bulan Desember 2007.

Setelah gempa bumi Samudra Hindia tahun 2004 dan tsunami besar, pemerintah Saudi memberikan US $ 30 juta bantuan untuk membantu para korban, termasuk sumbangan pribadi US $ 5 juta dari Raja Fahd.

Secara total, pemerintah Saudi dan warganya, menyumbang lebih dari $80 juta.

Di Aceh, paska tsunami dahsyat, Arab Saudi mengirim 29 kontainer seberat 560.311 ton berisi bahan makanan atau senilai US $ 1,18 juta.

Sejumlah proyek dikerjakan, di antaranya program tunjangan 500 keluarga sebesar US $ 250 ribu, pendirian 5 pusat kesehatan menelan biaya US $ 1 juta.

Termasuk juga program klinik keliling untuk Aceh dengan biaya US $ 800 ribu dan program untuk peralatan medis di Rumah Sakit Zainal Abidin sebesar US $ 900 ribu.

Setelah gempa bumi Kashmir tahun 2005, Arab Saudi menyumbang lebih dari US $ 3,3 juta, lebih banyak dari negara lain mana pun. Termasuk tambahan $ 573 juta, dari jumlah maksimum uang yang dijanjikan.

Arab Saudi membangun 4000 rumah pra-fabrikasi ke Pakistan melalui the Saudi Public Assistance untuk korban Pakistan Earthquake Victims (SPAPEV).

Rumah-rumah itu, dilengkapi dengan semua fasilitas yang dibutuhkan, menelan biaya lebih dari US $ 16,7 juta.

SPAPEV juga mendistribusikan 230.000 selimut, 150.000 selimut, 10.000 tenda biasa, 2.500 tenda tahan air khusus musim dingin, 100.000 kompor, dan 100.000 paket makanan.

Pemerintah Saudi mengalokasikan $ 230 juta untuk pembangunan di Afghanistan. Termasuk $ 133 juta dalam bantuan hibah langsung, $ 187 juta dalam bentuk pinjaman lunak, dan $ 153 juta dalam bentuk kredit ekspor untuk bantuan gempa bumi Pakistan.

Setelah banjir Pakistan 2010, Arab Saudi menyumbang lebih dari US $ 361,99 juta untuk operasi bantuan, menduduki puncak daftar semua negara penyumbang.

Pemerintah Saudi menyumbangkan $ 20 juta pada hari pertama, kemudian lebih dari $ 107 juta dikumpulkan dari warga Saudi dalam tiga hari pertama.

Arab Saudi juga melakukan bantuan udara terbesar dalam sejarah, selain membangun dua rumah sakit yang terdiri dari 100 tempat tidur.

Komite Bersama Saudi untuk Bantuan Kosovo menggunakan $ 5 juta untuk mendanai proyek-proyek rehabilitasi, bahan makanan, bahan bantuan, program pendidikan, kafil anak yatim, program perawatan kesehatan dan pengembangan.

Paket yang dikirim dari Jeddah terdiri dari 400.000 liter susu serta 900 karton pakaian, 1.000 selimut, 25 tangki air, persediaan medis, dan peralatan bedah, seperti kursi roda ke Pristina.

Warga Saudi menyumbangkan US $ 20 juta ke Kosovo dalam bentuk tunai, serta makanan dan peralatan medis. Sementara Bulan Sabit Merah Saudi mengirim sukarelawan medis.

Pada tahun 2006, pemerintah Saudi memberikan US $ 10 juta bantuan ke Afrika, melalui Program Pangan Dunia, di antaranya yang diterima Kenya sebesar US $ 2 juta.

Pangeran Saudi Al-Walid bin Talal menyumbangkan $ 1 juta sebagai bantuan pangan untuk 3,5 juta warga Kenya selama kekeringan.

@KSRelief sejauh ini telah mendonasikan dana sebesar 37,6 miliar bantuan ke 130 negara.

5 Negara penerima bantuan terbesar dari Arab Saudi:

  1. Yaman, US $ 14 miliar
  2. Pengungsi Suriah, US $ 2,5
  3. Mesir, US $ 2,08
  4. Mauritania, US $ 1 miliar
  5. Palestina, US $ 975 juta

Selain di atas, terdapat 118 negara yang mendapat manfaat dari Saudi Aid, yang mampu menjangkau miliaran orang untuk hidup, tumbuh dan sejahtera.

*) Dengan beberapa perubahan dan tambah seperlunya

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait

Di Luar Nalar Manusia

Para pakar bangunan eropa terheran-heran ketika Masjid yang sebelumnya dianggap sebagai bangunan dengan pondasi tidak