Macron, Erdogan dan Netizen yang Melampaui Kapasitasnya

  • 25 Oktober 2020
  • 6,748 views
Macron, Erdogan dan Netizen yang Melampaui Kapasitasnya

“Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia saat ini, kita tidak hanya melihat ini di negara kita,” ucap Macron.

Inilah awal kisah pilu bulan ini yang dilontarkan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, saat berpidato untuk mempertahankan nilai-nilai sekuler di negaranya.

Islam selalu menjadi “kambing hitam” kekerasan atas nama agama, padahal sekian banyak kasus yang lebih sadis dan biadab, dilakukan oleh kaum kafir.

Tidak lama berselang, seorang imigran Chechnya di Prancis, Abdullah Anzorov (18 tahun), memenggal kepala seorang guru, Samuel Paty.

Tindakannya sebagai balasan terhadap Samuel yang telah mempertontonkan kartun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari majalah Charlie Hebdo yang pernah terbit pada 2015, sebagai bahan ajarnya di kelas.

Dunia Islam meresponnya, mengecam, marah, tidak terima. Untuk itu, Sebagian kaum muslimin, memberi tahniah kepada pemuda tersebut.

Lagi-lagi, Macron menunjukkan sikapnya atas nama sekulerisme yang dianutnya; “mengutuk ujaran kebencian, namun tidak berlaku atas karikatur Nabi Muhammad, karena karikatur bukan bagian dari hate speech.”

Macron menyampaikannya saat kunjungannya ke Libanon, sebagai perlindungannya terhadap kebebasan pers.

Apa kata pemimpin muslim dunia? Yang populer adalah respon Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Dia menganggap Macron perlu diperiksa “kesehatan mentalnya.”

Atas itulah, Marcon menjawab bahwa pernyataan Erdogan tidak dapat diterima, hanya menambah eskalasi, dan retorika secara vulgar bukanlah pendekatan dalam berinteraksi.

Tidak cukup di situ, Paris mengumumkan memanggil Duta Besarnya dari Ankara untuk konsultasi.

Sementara itu, dunia Arab dan sebagian besar negara muslim lainnya, mengecam kejadian di jalanan Conflans-Sainte-Honorine, barat laut Paris tersebut.

Kementerian Luar Negeri Saudi mengungkapkan solidaritas Kerajaan dengan rakyat Prancis, dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, pemerintah Prancis, serta rakyatnya.

Syaikh Muhammad bin Abdul Karim Al-Issa, kepala Liga Dunia Muslim, mengatakan tindakan kekerasan dan terorisme adalah kejahatan di semua agama.

Dari Al-Azhar, Kairo, mengecam bahwa “pembunuhan adalah kejahatan yang tidak dapat dibenarkan dengan cara apapun,” sebagaimana laporan Arab News.

Al-Azhar menggarisbawahi seruannya untuk mengecam ujaran kebencian dan kekerasan, serta perlunya menghormati kesucian dan tokoh agama, serta menahan diri untuk tidak menimbulkan kebencian dengan menghina agama.

Netizen di media sosial pun berkomentar. Masing-masing sesuai dengan pemahaman, wawasan dan keyakinan yang dianutnya, melihat kejadian di Prancis.

Di antaranya mengungkapkan pujiannya atas “keberanian” Erdogan bersuara lantang “Erdogan lagi yang bersuara keras….. Pemimpin Muslim yang lainnya mana perhatian kalian???”

Di saat yang sama, mencaci maki pemimpin muslim lainnya, seperti presiden Indonesia, “Semoga pengganti joko bodoh adalah sosok erdogan yang selalu membela agama Allah.”

Tipe netizen seperti ini jumlahnya tidak sedikit, bahkan masif dalam menyuarakan pendapatnya.

Sama halnya sebagian netizen yang biasa digelari “sumbu pendek,” seperti berkomentar “Percumalah gembar-gembor negara paling membela Islam, paling islami dan punya kekuatan militer tapi memble, terhadap kafir penghina Rasulullah.”

Di Timur Tengah, sikap warganya tidak jauh berbeda dengan warga muslim dunia lainnya.

Melalui medsos, mereka menyuarakan celaan kepada Macron, sebagian menyayangkan terjadinya pembunuhan tersebut, lainnya bersikap mengikuti ulama dan pemimpin negaranya.

Padahal, perkara besar, hendaknya dikembalikan dan diserahkan kepada “orang besar,” seperti ulama dan negarawan yang memahami betul strategi menjaga kemaslahatan umat dan dakwah Islam.

Tetapi perlu diakui, kaum emosional yang senantiasa mengedepankan kemarahan dan provokasi selalu saja juara propaganda.

Sangat tepat yang disampaikan Abu Al-Jauzaa’ dalam artikel panjangnya:

Ini bukan soal tidak sependapat dengan kekufuran perbuatan penghinaan terhadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan konsekuensi hukum bunuh bagi pelakunya, akan tetapi ketidaksetujuan terhadap perbuatan yang dilakukan bukan pada waktu dan kondisi yang tepat sehingga dapat menimbulkan mafsadat yang lebih besar bagi kaum muslimin.

Dari situlah pertanyaan muncul, apakah penyerangan tersebut menimbulkan maslahat yang besar bagi kaum muslimin dan dakwah Islam?

BACA: Mengkritisi Fatwa Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan terkait Penghinaan kepada Nabi

Sebuah negara, memang harus bersikap penuh pertimbangan, seperti mempertimbangkan nasib saudara muslim di negeri mayoritas kafir, efek dari serangan kepada penghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bayangkan jika Arab Saudi misalnya, secara terbuka mendukung aksi pemenggalan tersebut. dipastikan, lagi-lagi, Islam akan tertuduh sebagai agama kekerasan, yang suka membunuh.

Belum lagi, menjadi ancaman dengan memantik api kelompok ekstrem dan pemimpin negara yang anti Islam sebagai legitimasi menindas umat muslim. Dan benar, terjadi bukan?

Sulaiman Abu Syeikha menulis:

Ketika seorang ulama yang sudah masyhur keilmuannya memfatwakan tidak bolehnya seorang individu membunuh individu lain sekalipun dia kafir dikarenakan menghina Nabi.

Karena jika ini dilakukan, akan menuai kebencian terhadap islam. Dan membahayakan orang islam lainnya yang hidup ditengah-tengah mayoritas orang-orang kafir.

Selanjutnya, dia menukil perkataan Syekh Sulaiman Ar Ruhaili:

Membunuh individu manusia dengan hujjah mensucikan bumi.

Siapa yang membunuh seseorang dengan tanpa haq, yang para nabi alaihimussalam sepakat atas pengharamannya dan pengkaitannya kepada agama Allah (hal yang) mengada-ngada atasnya. Dan pengkaitannya kepada salah seorang Nabi adalah kejahatan.

Maka meneror tidak ada agama baginya. Maka (seperti) meneror di Prancis dengan membunuh laki-laki Nasrani dengan cara yang mengerikan. Dan meneror di New Zealand yang membunuh kaum muslimin di masjid. 

Lihatlah, bagaimana ulama memberikan penjelasan dengan kedalaman ilmunya, melihat dengan kejerniahan bashirah (hati) bukan sekedar bashar, panca indera dan akalnya saja.

Lantas, bagaimana cara kita membela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar yang bisa kita lakukan?

Inilah pertanyaan yang kemudian dijawab oleh Ustaz Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi:

  1. Mempelajari sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Meneladani akidah, ibadah dan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Menyebarkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Berpegang teguh dengan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  5. Membela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ilmu dari hujatan kepada beliau, sunah dan hadits beliau.
  6. Untuk para pemimpin, bisa dengan memboikot produk negara penghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka, tidak keliru gaya politik dunia Arab dan pemimpin Islam lainnya yang bersikap hati-hati.

BACA: Dewan Kerjasama Negara Teluk Arab Kecam Emmanuel Macron

Tidak lain demi kemaslahatan yang lebih besar, jelas dan pasti mengecam aksi pembunuhan, tetapi juga terhadap penghinaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setidaknya seperti yang disampaikan Ustadz Firanda dalam video di bawah ini:

*) Disarikan dari berbagai sumber, oleh Wakil Pemimpin Redaksi Mohammed Fachri Saudinesia

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait