Judul Paling Hoax: Masjidil Haram Diduduki Sekelompok Kaum Militan Salafi

  • 20 November 2020
  • 3,993 views
Judul Paling Hoax: Masjidil Haram Diduduki Sekelompok Kaum Militan Salafi

“Judul paling hoax” adalah komentar seorang netizen menanggapi artikel Kompas yang terbit pada 20/11/2020 dengan judul: “Hari Ini dalam Sejarah: Masjidil Haram Diduduki Sekelompok Kaum Militan Salafi.”

“Yang paling hoax” karena Kompas yang menyalin artikel BBC, menyebut bahwa kelompok ekstrimis, yang dipimpin Juhayman al-Otaibi, sebagai “militan salafi.”

KBBI mengartikan “militan” sebagai bersemangat tinggi; penuh gairah; berhaluan keras. Sedangkan salaf adalah sesuatu atau orang yang terdahulu.

Tambahan huruf “i” di sebuah kata, dalam kultus Islam biasanya sebagai identitas seperti:

  1. Karena ada kaitan dengan orang-orang dari suku, tempat, negeri, atau keturunan tertentu, seperti Ansari, Ja‘fari, Pakistani, Hindi, Juhani, Saudi, Bukhari dan seterusnya.
  2. Karena ada kaitan dengan aqidah tertentu, seperti Asy‘ari, Juhaimi, Sunni, Syi‘ah, Khawariji, Dhahiri, Batini dan banyak lagi yang lain.
  3. Karena ada kaitan dengan aliran sufi, seperti Cisti, Suhrawardi, Qadiri, Naqsyabandi, Syadzili, Tijani dan lain-lain.
  4. Karena ada kaitan dengan madzhab atau kelompok fiqih tertentu, seperti Ja‘fari, Zaidi, Hanafi, Maliki, Syafi‘i, Hanbali, dan seterusnya.

Salafi” bisa dikategorikan ada kaitannya dengan manhaj atau madzhab, tetapi bukan suatu aliran atau kelompok tertentu, hanya penisbatan kepada para salaf yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat, dan generasi terbaik setelahnya yaitu tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Bagi yang sudah belajar bahasa Arab tentu mereka paham, bahwa kata “salaf” (سلف) jika ditambahkan huruf “yaa’ nisbah” maka artinya adalah penisbatan kepada salaf.

Sebagaimana kata yang sudah sering kita dengar “Islami” adalah penisbatan kepada Islam. Jadilah “pakaian Islami, akhlak Islami, dan lain-lain.” (muslim.or.id)

Jika demikian, apakah salafi pantas dikategorikan sebagai kelompok militan yang berhaluan keras?

Jika militan yang “bersemangat tinggi” dan “penuh gairah,” maka salafi dalam mengamalkan Islam yang hanif dan washt, tidak berlebih-lebihan (ghuluw dan ifrath) sekaligus tidak meremehkan perkara agama (tafrith).

Maka istilah “militan salafi” jelas tertolak dari pemahaman umum dan uraian di atas, tidak heran layak digelari “hoax.”

BACA: Pemutarbalikkan Sejarah, Propaganda Film Al-Jazeera Menyerang Arab Saudi

Artikel Kompas kemudian menulis: “Para jemaah bersenjata yang menduduki Masjidil Haram itu adalah kaum Salafi, kelompok ultra-konservatif Muslim Sunni yang dipimpin oleh seorang ulama muda dari suku Arab Badui bernama Juhayman Al Otaybi.”

Ditambahkan: “Bagi mereka pemerintah Arab Saudi dianggap tidak bermoral, korup dan dan berorientasi pada Barat.”

Kompas tampaknya tidak bisa membedakan antara sikap wasathun (pertengahan) kaum salafi dengan apa yang dilabeli Kompas sebagai “kelompok ultra-konservatif Muslim Sunni.” Dua hal yang bertolak belakang.

Salafi dengan wasathun atau wasathiyyah-nya, adalah aqidah moderat, adil, pilihan, dan aqidah terbaik (bukan asal moderat tapi sesat), di antara dua kutub ekstrim aqidah yang menyimpang (muslim.or.id).

Sikap ekstrim Juhayman pun bukan lahir dari pembelajaran salafi, tetapi dari kelompok ikwhani. Sosok Juhayman dan asal mula pemikirannya, silahkan baca Juhayman, Sang Pembajak Masjidil Haram.[]

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait