Jalan Masih Panjang Untuk Rekonsiliasi Negara-negara Arab dan Qatar

  • 6 Desember 2020
  • 360 views
Jalan Masih Panjang Untuk Rekonsiliasi Negara-negara Arab dan Qatar

Setelah pernyataan Menteri Luar Negeri Kuwait dan wakilnya, Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Muhammad bin Abdulrahman, memberikan komentar singkat melalui cuitan di Twitter.

Dia dengan hati-hati merespon pernyataan Kuwait, dengan mengatakan: “Langkah penting untuk menyelesaikan krisis Teluk.”

Respon serupa, tanpa memberikan solusi atas krisis tersebut, Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan juga mengomentari pernyataan Kuwait dalam sebuah tweet.

Dia mengatakan: “Kami sangat menghargai upaya saudara kandung Kuwait menjembatani kesenjangan sudut pandang mengenai krisis Teluk. Dan kami berterima kasih atas upaya Amerika dalam hal ini juga. Kami berharap dapat berhasil untuk kemaslahatan dan kebaikan wilayah.”

Pernyataan yang disampaikan kedua belah pihak Saudi dan Qatar, menimbulkan kebingungan di kalangan pengamat.

Karena langkah selanjutnya belum diklarifikasi dan tidak diketahui secara pasti apa yang telah dicapai untuk rekonsiliasi antara negara-negara Kuartet Arab; Arab Saudi, UEA, Bahrain dan Qatar.

Ketidakjelasan tersebut bertambah tidak ada respon resmi dari UEA, Bahrain dan Mesir.

Terlepas indikasi Emir Kuwait dalam sebuah surat kepada Raja Salman pada Sabtu (5/12) ini, yang menyinggung bahwa Arab Saudi mewakili tiga negara dalam negosiasi yang disponsori Kuwait dan Amerika Serikat.

Apakah Ada Rekonsiliasi?
Akademisi Emirat, Abdul Khaleq Abdullah tampak tidak terlalu optimis untuk mengakhiri konflik di Teluk tersebut.

Dia menulis dalam twitternya: “Bahkan jika kereta rekonsiliasi Teluk bergerak seperempat langkah atau satu sentimeter ke depan, itu adalah sumber kebahagiaan bagi setiap orang Kuwait, Qatar, Bahrain, Saudi, Emirat, Oman, yang percaya pada kerja sama Teluk dan takdir Teluk yang sama.

Tetapi kami tidak lupa bahwa kereta rekonsiliasi maju selangkah lebih maju setahun yang lalu. Kemudian (penyakit) cepat kambuh kembali karena sikap keras kepala saudara-saudara di Qatar.”

Penjelasan resmi dan yang beredar sejauh ini bermacam-macam terkait kemajuan yang diumumkan di Kuwait untuk menyelesaikan krisis Teluk yang telah berlangsung selama lebih dari 3 tahun ini.

Berbagai pernyataan yang dikeluarkan oleh pejabat Kuwait, Arab Saudi dan Qatar, membuat kebingungan di kalangan politisi dan media tentang realitas apa yang telah dicapai.

Tidak heran, analis politik Saudi, Khalid al-Dakhil bertanya di twitnya: “Apakah rekonsiliasi Teluk telah terjadi? Sebagaimana rumor yang tersebar tadi malam.

Tetapi tidak ada pernyataan resmi yang menunjukkan indikasi rekonsiliasi. Emir Kuwait dalam pernyataannya, mengungkapkan kebahagiaannya atas upaya terus menerus dan konstruktif untuk mencapai kesepakatan.

Jadi, upaya terus menerus, bukan kesepakatan. Koran Al-Riyadh hari ini, hanya memuat berita tersebut di halaman dalamnya.”

Dia menambahkan: “Tidak ada pertemuan yang terjadi antara kedua sisi yang berkonflik, lantas bagaimana rekonsiliasi “Teluk” terjadi?

Tidak akan pernah ada rekonsiliasi dan politik seperti ini, selama Emir Hamad bin Jassim tetap bertahan di Qatar.

Doha mengandalkan kekayaan gasnya untuk membiayai perlindungan AS dan Turki. Dan negara lain tidak tergesa-gesa dalam urusan tersebut. Krisis tetap ada.”

Dalam twit lainnya, Al-Dakhil menjelaskan pernyataan Menteri Luar Negeri Saudi, dengan mengatakan:

“Pernyataan Menteri Luar Negeri Saudi, Faisal Al-Farhan, mengatakan,“ada kemajuan dan kami berharap kesimpulan yang memuaskan bagi semua pihak.” Kemajuan telah berkembang ke arah rekonsiliasi, bukan rekonsiliasi itu sendiri.

Dia menambahkan, “Prioritas sekarang adalah memulai kembali negosiasi Palestina-Israel dan mendirikan negara Palestina merdeka, sebagai satu-satunya cara untuk menormalisasi dengan Israel.”

Dalam upaya membaca pandangan, salah satu netizen berkomentar di Twitter dengan mengatakan:

“Pernyataan yang dikeluarkan oleh Kuwait, seolah-olah rekonsiliasi Teluk telah atau hampir selesai, seolah-olah itu adalah semacam tekanan diplomatik pada pihak-pihak yang mengalami krisis untuk mempercepat langkah-langkah dan bersikeras untuk tidak mundur. Sedangkan yang berkonflik langsung hanya mengatakan bahwa sudah ada kemajuan dalam pembahasannya.”

Sikap Resmi Menteri Luar Negeri Arab Saudi
Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, mengatakan hari Sabtu (5/12), bahwa sekutu negaranya berada “di jalur yang sama” dalam hal penyelesaian krisis Teluk dan diharapkan segera ada kesepakatan akhir.

Dalam wawancara dengan AFP, dia menambahkan, “Kami sepenuhnya bekerja sama dengan mitra kami terkait proses ini dan kami melihat prospek yang sangat positif untuk mencapai kesepakatan akhir.”

Dia mengindikasikan bahwa “semua pihak terkait akan berpartisipasi dalam penyelesaian akhir.”

Turki Al-Faisal: Tidak Ada Hal Baru Terkait Krisis Qatar
Pangeran Turki Al-Faisal, kepala Pusat Studi Raja Faisal, mengatakan bahwa pernyataan para pejabat tentang krisis Teluk menunjukkan bahwa “sejauh ini tidak ada perkembangan signifikan dalam penyelesaian krisis Qatar.”

Turki menyampaikan dalam sebuah wawancara dengan CNN; “Tidak ada perkembangan dalam hal ini, kecuali ada hal-hal yang terjadi secara rahasia, maka saya tidak mengetahuinya.”

Dia melanjutkan, “Mari kita tunggu apa yang akan terjadi selanjutnya tentang masalah ini.”

Pernyataan Al-Faisal ini setelah Bloomberg mengutip sumber yang mengatakan bahwa Arab Saudi dan Qatar hampir menyelesaikan perjanjian awal untuk mengakhiri perselisihan selama lebih dari 3 tahun.

Menurut Bloomberg, pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, berusaha mencapai kemenangan kebijakan luar negeri di hari-hari terakhirnya menjabat di Gedung Putih. [Disarikan dari berbagai sumber]

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait