Ketika Vaksinasi Melahirkan Ambigiutas dan Fanatisme

  • 16 Januari 2021
  • 776 views
Ketika Vaksinasi Melahirkan Ambigiutas dan Fanatisme

Beberapa hari terakhir media memberitakan para pemimpin negara muslim dunia menerima vaksin virus corona.

Di antaranya yang paling awal adalah Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, kemudian Khadimul Haramain, Raja Salman.

Sepekan berikutnya, Presiden RI, Joko Widodo, menerima suntikan dosis pertama vaksin virus corona, Sinovac, buatan perusahaan asal China, menandai program vaksinasi di Indonesia.

Satu hari berikutnya, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menerima dosis pertama vaksin “Coronavac” buatan China untuk melawan Corona.

Berita vaksinasi ini menjadi perbicangan di media sosial, terutama terkait produk vaksin yang dikonsumsi.

Di Tanah Air, marak penolakan vaksin yang berasal dari Cina, dengan berbagai alasan. Di antaranya dianggap hasil kesembuhannya dianggap rendah dan belum lolos uji klinis standar.

Media sosial pun ramai membahas video penyuntikan Jokowi, hingga tuduhan (suudzan) bahwa penyuntikan vaksin ke Presiden RI penuh rekayasa dan jenis vaksinnya berbeda dengan yang akan dibagikan kepada masyarakat.

Menariknya, saat Erdogan menerima vaksin CoronaVac dari pabrikan yang sama dengan yang disuntikan kepada Jokowi, netizen tampak berat sebelah alias tidak adil.

Berita Erdogan yang disuntik dengan vaksin dari Cina tidak direspon sebagaimana terhadap Presiden RI menerima vaksin dari negara yang sama.

Terjadi ambigiutas, dengan sumber vaksin yang sama, muncul pembelaan fanatisme dan tuduhan kebencian.

Setidaknya, contolah Saudi, Rajanya divaksin Pfizer-BioNTech dengan tingkat efektivitasnya hingga 95 %, rakyatnya tidak gaduh, menurut, dan menuduh macam-macam.

Sementara rakyat Indonesia, sebagian terlanjur jatuh ke jurang fanatisme (ghulw) dalam kecintaan dan sekaligus ke lembah kebencian.

Silahkan baca komentar-komentar netizen di bawah ini:

Ditulis oleh: News Admin