TNYT: Bagaimana Pers Mencuci Otak Pembacanya

  • 29 Januari 2021
  • 898 views
TNYT: Bagaimana Pers Mencuci Otak Pembacanya

Nama MBS, Muhammad bin Salman, mulai menjadi trending dunia setelah didapuk menjadi Putra Mahkota, calon raja Arab Saudi berikutnya.

Sejak pengangkatannya pun tak luput dari pemberitaan dusta. Diisukan terjadi perebutan kekuasaan. Di Tanah Air, sejak zaman Raja Abdullah meninggal, segelintir orang sudah meramal sebagai tanda akhir zaman.

Padahal rakyat Saudi tahu, Pangeran Nayif digantikan karena alasan kesehatan yang tidak memungkinkan menjalankan tugas sebagai Waliyul Ahd.

Saat kedustaan tersebar luas, Pangeran Nayif justru berba’iat, bersumpah setia taat dan mendukung MBS sebagai pemimpinnya.

Kedustaan media yang secara masif dan sengaja diviralkan termasuk tuduhan MBS terlibat dalam pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi. Bahkan, MBS diisukan akan dijegal agar kelak tidak menjadi raja Arab Saudi.

Ketika berbagai proyek untuk merealisasikan visi Saudi 2030 mulai dilaunching, media masih berusaha mencari cara mendiskreditkan MBS.

Di antaranya the New York Times yang terbiasa menyebar dusta terhadap MBS; 150 pangeran Arab Saudi terinfeksi virus Corona, pembelian lukisan Leonardo da Vinci “Salvator Mundi.”

TNYT juga pernah menulis laporan berita dusta MBS membeli istana mewah “the Chateau Louis XIV” senilai $ 300 juta. Termasuk kedustaan TNYT mengeskpos bahwa MBS mengajukan proposal untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Kemarin (28/1), paska MBS memaparkan visi ekonomi membangun kota-kota di Saudi, TNYT kembali merilis kolom sinis “The Dark Reality Behind Saudi Arabia’s Utopian Dreams.”

Penulis Reobert F. Worth, penulis artikel di TNYT tersebut, masih saja mengungkit masalah Jamal Kashshoggi, HAM, emansipasi wanita, dan ciri khas hater Saudi seperti biasanya, isu yang kadaluwarsa.

Tidak mengherankan, David Reaboi, pengamat politik di AS, mengungkapkan keheranannya di cuitannya: “The New York Times menggunakan kata-kata yang tidak jelas dan memprovokasi untuk memberi sinyal kepada pembaca yang sudah tercuci otaknya, bahwa ini adalah musuh sah mereka (yaitu, penjahat yang diarahkan).”

Seorang profesor pengamat media dan politik luar negeri AS Walid Phares, juga senada:

“Saya pernah mendapat perlakuan “dark” oleh Washington Post, media apologis selama satu dekade, setelah saya dua kali diangkat sebagai penasihat calon presiden, pada 2011 & 2016. Itu pasti karena saya adalah “bete noire” dari Iran, the Ikhwan dan pembela liberalisme di wilayah ini.”

Tampaknya, siapa saja yang menjadi musuh Iran, “Ikhwan,” dan anti liberalisme, akan selalu disudutkan oleh kedua media di atas: TNYT dan the Washington Post.

Ini menguatkan analisa Husein al-Ghawi, jurnalis Saudi di Washington, AS, ketika menulis kulwit, bahwa saat ini sedang terjadi “Perang Generasi Keempat” (GW4) dengan menggunakan peran media menargetkan kegoncangan dan mengganggu stabilitas Arab Saudi.

Al-Ghawi mengungkap bahwa di Washington, beberapa orang keturunan Arab dan Pakistan, yang pernah tinggal di Arab Saudi, bertugas mengolah berita kiriman dari Timur Tengah.

Fabrikasi berita tanpa sumber yang tidak jelas tersebut dilempar ke media AS, untuk menghilangkan kesan hoax dan dianggap kredibel.

Yang mengherankan, media di Tanah Air selalu mengutip sumber dari media AS tersebut demi menyudutkan Arab Saudi.

Pertanyaanya, apakah media selama ini tidak memiliki wartawan yang kredibel memahami bahasa Arab dan mengambil sumber dari Arab Saudi atau karena pesanan pemiliknya?

Sebagai penutup, berikut contoh media yang mengutip TNYT dan sumber majhul untuk mencitrakan Arab Saudi buruk, mencuci otak pembacanya:

  • Portal Islam menulis judul laporan beritanya “Yerusalem (Quds) Menjadi Ibu Kota Irarel, Saudi Tawarkan Abu Dis Sebagai Ibu Kota Palestina.” 
  • Republik online menulis: “Kemungkinan Arab Saudi akan selaras dengan keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.”
  • Turkinesia, menulis “Ambisi Busuk Dua Pangeran,” MBS dan MBZ dituduh “menyebarkan racun, mencuci otak, mempromosikan kebohongan besar agar Israel dianggap teman dan Palestina adalah musuh” melalui drama tersebut. Tudingan itu berdasarkan “beberapa percaya….,” “menurut sejumlah analis dan pengamat,” menggunakan sumber anonim majhul, ciri khas media provokator pembenci Arab Saudi.

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait