Ulang Tahun Pertama KTT Islam Kuala Lumpur: Lupa Atau Dilupakan?

  • 9 Maret 2021
  • 831 views
Ulang Tahun Pertama KTT Islam Kuala Lumpur: Lupa Atau Dilupakan?

Kunjungan Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin ke Arab Saudi Sabtu (06/03), mengingatkan kembali KTT Islam Kuala Lumpur tahun 2019 lalu.

Tetapi ulang tahun pertamanya berlalu tanpa satu kata pun mengingatnya, bahkan oleh mereka yang mengatur dan memobilisasinya yang mencoba mengisolasi Arab Saudi.

Pada tanggal 19 Desember 2019, Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad menjadi tuan rumah.

Penggagas dan yang ikut berpartisipasi dalam persiapannya, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dan Emir Qatar, Syaikh Tamim bin Hamad Al Tsani.

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan dan Presiden Indonesia memutuskan untuk absen. Sementara beberapa negara mengutus Menteri Luar Negeri sebagai wakil.

BACA: Pakistan Batal Hadiri KTT Malaysia, Erdogan Menuduh Arab Saudi

Kronologi
Rencana pembentukan koalisi ini cukup terbuka, tidak menyembunyikan rencananya, untuk mendirikan blok baru dengan ambisi memimpin dunia Islam.

Dimulai di tempat Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada September 2019 saat pertemuan antara Mahathir, Erdogan dan Imran Khan.

Mahathir Muhammad sebelumnya mengunjungi Ankara pada Juli, kemudian tersiar kabar bahwa dia setuju dengan Erdogan untuk “menggunting dalam lipatan” Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang berbasis di Arab Saudi.

OKI sebagai organisasi negara-negara Islam internasional terbesar setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa, direncaanakan akan dipecah dengan pembentukan sebuah organisasi baru dengan mengusung negara Islam.

Singkatnya, sejumlah negara bersepakat menggunakan kendaraan “politik Islam” untuk mengusung agenda kelompok ini.

Pada 12 Desember, seminggu sebelum KTT Kuala Lumpur, Mahathir Muhammad mengunjungi Doha dan menandatangani Nota Kesepahaman dengan Qatar untuk membentuk komite strategis tertinggi.

Sebagaimana juga disepakati untuk mendirikan dan mendanai kantor berita Islam yang akan menjadi corong KTT Kuala Lumpur.

Sebelum meninggalkan Qatar, Mahathir mendapat penghargaan dari Doha Forum bahwa dia berhak menyandang “Man of the Year 2019.”

Dilahirkan Mati
KTT Kuala Lumpur yang disebut juga “Political Islam Summit” yang bertajuk “The Role of Development in Achieving National Sovereignty” ini lahir mati, menurut beberapa liputan berita.

Dari total 56 undangan yang ditujukan kepada pimpinan negara muslim dunia, yang hadir hanya 4 kepala negara, satu di antaranya adalah orang Arab.

Untuk mengimbangi ketidakhadiran yang memalukan ini, sekitar 150 tokoh “Ikhwan Muslimin” dari Maroko, Mauritania, Tunisia, Libya, Aljazair, Lebanon, Gerakan Konstitusional Kuwait, Persaudaraan Turki dan Eropa, Persaudaraan Mesir yang berada di Istanbul, dan Persaudaraan Yaman dimobilisasi sebagai perwakilan dari Partai Reformasi.

Bahkan dari luar jemaah Ikhwan, hadir pula kelompok yang menisbatkan sebagai “salafi,” seperti Salafi Sudan Ahlu Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana juga hadir dari Maroko, “Jamaah ‘Adl wal Ihsan.”

Kondisi “lahir mati” KTT ini, yang digambarkan Mahathir Muhammad sebagai “awal yang sederhana”, tetap diblow up oleh pers Malaysia.

Pada hari kedua KTT, surat kabar “New Straits Times NST” menerbitkan tajuk utama yang mengatakan “KTT Kuala Lumpur tidak gagal.” Surat kabar tersebut menyalahkan negara-negara Islam yang tidak menanggapi agenda KTT.

Dalam bahasa yang sama, Mahathir Muhammad menggambarkan umat Islam yang tidak menanggapi konferensi tersebut, sebagai bangsa yang tidak pantas dengan agamanya.

Tidak Lagi Berideologi
“Kelahiran mati” KTT Kuala Lumpur, yang sepi dari liputan pers internasional, menggugurkan koalisi kuadripartit Turki, Malaysia, Qatar dan Iran.

Banyak pengamat mengatakan bahwa konferensi tersebut dibuat oleh para sponsor politisasi agama. Sementara Timur Tengah tidak lagi hidup berdampingan dengan ideologi tersebut, yang memiliki pengalaman berdarah “Arab Spring” beberapa tahun silam.

Media Turki
Yang menakjubkan adalah media Turki, misalnya, mengulas kebanggaan Presiden Erdogan yang berhasrat memecah OKI, meski telah berusia lebih dari setengah abad.

Penasihat Erdogan untuk urusan Arab dan Islam, Yasin Aktay, menerbitkan sebuah artikel sehari sebelum KTT Kuala Lumpur, di mana dia memfitnah OKI dan mempromosikan alternatif kepemimpinan dunia Islam.

Beberapa badan resmi dunia juga mempertanyakan tokoh yang mengagendakan KTT Kuala Lumpur tersebut, yang memecah aliansi negara Islam yang telah ada.

Sekaligus mempertanyakan kelayakan Turki untuk memimpin dunia Islam dan menghidupkan kembali peradabannya.

Pada hari penutupan KTT Kuala Lumpur, Menteri Ekonomi Malaysia ditanya tentang alasan banyaknya pemimpin negara Islam yang absen.

Jawabannya adalah bahwa konferensi yang sangat serius tidak membutuhkan kehadiran kepala negara, karena kehadiran mereka menghabiskan konferensi dengan formalitas.

Menteri Malaysia mengungkapkan bahwa hasil KTT tersebut adalah penandatanganan perjanjian pelatihan bagi pemuda Malaysia di Turki, serta penandatanganan kesepakatan industri susu di Malaysia bekerja sama dengan perusahaan asal Qatar.[]

*) Disadur dari EremNews dengan perubahan seperlunya

Ditulis oleh: News Admin