Akar Sekulerisasi Turki Utsmani Dan Sumber Hukum Kerajaan Arab Saudi (2)

  • 25 Maret 2021
  • 1,795 view
Akar Sekulerisasi Turki Utsmani Dan Sumber Hukum Kerajaan Arab Saudi (2)
  • Kesultanan Ottoman menyetujui undang-undang yang mengizinkan praktik homoseksualitas 30 tahun sebelum Inggris dan 146 tahun sebelum Amerika.
  • Pada masa pemerintahan Sultan Selim III, abad ke-18, Kesultanan Utsmaniyah mulai bergerak ke arah sekularisme.
  • Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud II, abad ke-19, agama dipisahkan dari politik kenegaraan.
  • Gay di era Erdogan, menerima pemberdayaan paling besar dalam sejarah Turki.

Periode sekularisme dan europeanisme Kesultan Utsmani di semua tingkat sosial, budaya dan politik dimulai sejak awal paruh pertama abad ke-18 dan transformasi konstitusi Ottoman sekuler di tahun 1876.

Dan pada masa pemerintahan Sultan Abdul Majid I, dihapuskan kriminalisasi dan hukuman atas prilaku homoseksual, tepatnya pada tahun 1858.

Kebijakan ini diatur dalam undang-undang “Kalkhana” dan dekrit “Tanzimat” yang berasal dari hukum Prancis di bawah Napoleon (Ihsan Yilmaz, Islamic Laws, Politics and Society in Modern Countries, 2005, hal. 90).

Dengan undang-undang ini, Kekaisaran Ottoman tercatat mendahului banyak negara Eropa dan Barat dalam mengizinkan praktik homoseksualitas.

Inggris mengakui homoseksualitas di kalangan wanita pada tahun 1886 setelah 3 dekade Ottoman. Italia mendekriminalisasi homoseksualitas pada tahun 1890, yaitu, 32 tahun setelah Ottoman menghapus kriminalisasi homoseksual.

Demikian juga, Ottoman mendahului Amerika dalam menyetujui dibolehkannya praktik homoseksual lebih dari 145 tahun (26 Juni 2003).

Undang-undang ini masih berlaku bahkan setelah berdirinya republik modern Turki dan hingga hari ini.

Sebelum Undang-Undang 1858 dikeluarkan, otoritas Utsmaniyah bersikap lunak dan tidak mengambil sikap tegas terhadap pelaku homoseks kecuali dalam kasus kekerasan seksual dan pemerkosaan.

Adapun alasan dikeluarkannya undang-undang semacam ini di era Utsmaniyah, yaitu terkait dengan tahapan Kesultanan Utsmaniyah memasuki tahap disintegrasi dan masalah ekonomi dan sosial.

Kondisi ini diperburuk oleh perang yang terjadi pada abad ke-19 yang berlangsung selama bertahun-tahun.

BACA: Akar Sekulerisasi Turki Utsmani Dan Sumber Hukum Kerajaan Arab Saudi (1)

Terutama selama Perang Crimean pada tahun 1854, ratusan ribu orang berimigrasi dari Rusia dan Balkan ke Istanbul dan berbagai bagian Anatolia.

Bersama mereka ribuan tentara Inggris dan Prancis kembali dari garis depan setelah partisipasi mereka sebagai sekutu dengan tentara Ottoman selama perang.

Saat itulah prostitusi dalam segala bentuknya mulai menyebar luas di Kesultanan Utsmaniyah. (Nuran Lightning, Preventive Health Practices from Reform to the Republic, Institution of the Encyclopedia of the Republic of Turkey, Vol. V, hal. 1329).

Sejak abad ke-16 hingga abad ke-19, fenomena “Köçek“, yaitu anak-anak kecil yang dirawat berasal dari keluarga Kristen, menyebar di Balkan dan negara-negara Eropa Timur yang pernah dikuasai Kesultanan Utsmaniyah.

Anak laki-laki ini biasanya diambil dari keluarganya setelah kemenangan tentara Ottoman dalam pertempuran, sebagai pajak yang dikenal sebagai “pajak anak laki-laki” atau “pajak darah.”

Usia mereka berkisar antara 8 dan 10 tahun, dilatih dengan tarian seksi dan “panas.” Selain itu, mereka diharuskan memakai pakaian wanita, memakai riasan, dan semua kosmetik wanita.

Seragam mereka terbuat dari jaket beludru bersulam merah dengan kemeja sutra sulaman emas, celana longgar yang disebut “shalfar” di atasnya, rok panjang dan ikat pinggang berlapis emas.

Pada akhir abad ke-18, ada di antara kaum Köçek yang menjadi bintang dan selebritis dalam masyarakat Ottoman. Seperti Gipsi Benali Ali dari kota Demetoka (sekarang masuk wilayah Yunani) termasuk yang paling terkenal.

Serta penari Buyuk Avit, yang berasal dari Kroasia, dan Singen Ismail, yang dikenal sebagai “Ismail the Gypsy.”

Sedikitnya ada 50 bintang Köçek yang menjadi bintang pada saat itu. Pertunjukan tari mereka yang menjadi bagian dari cerita rakyat Ottoman di hotel-hotel ternama (Erdir Zat, Raki: The Spirit of Turkey, hal. 93).

Di antara wisatawan Barat yang menghadiri konser Köçek pada abad ke-19 adalah penyair Inggris Lord Byron. Bersama rekan perjalanannya John Cam Hobhouse, dia menceritakan dalam buku hariannya.

Byron menulis bahwa pada hari Sabtu 19 Mei 1810, ia pergi bersama Hobhouse ke Distrik Galata di Istanbul. Mereka melihat dua anak laki-laki Köçek menari seperti wanita dan saling berciuman dengan menjijikkan.

Salah satu Janissari yang mendampingi kepala misi diplomatik di Istanbul pada saat itu, Sir Robert Adair, hadir bersama mereka.

Dan dia bisa berbicara bahasa Inggris, karena pernah tinggal di Inggris beberapa waktu. Maka Byron dan Hobhouse bertanya apakah anak laki-laki akan digantung jika mereka menari seperti ini di Inggris.

Dia menjawab, “Oh ya, benar,” sebagai indikasi yang jelas bahwa Inggris belum mencapai tingkat kegilaan seperti di Ottoman pada saat itu.

Sebelumnya, pada abad ke-17, anak laki-laki dan perempuan muda menjadi tukang pijat di pemandian Turki. Tugasnya memandikan klien dan melakukan hubungan seks.

Arsip Ottoman, di bawah klasifikasi Dellâkname-i Dilküşâ, menyimpan nama-nama mereka yang bekerja dalam profesi tersebut dan daftar harga untuk layanan seks gay.

Menurut peneliti Turki Darwish Agha (Heinz Duthel, Love Gave a Chance, hal. 243), dengan merebaknya pelacuran, budaya “Köçek” berangsur-angsur menghilang. Terutama dari masa pemerintahan Sultan Abdulaziz (1861) hingga Abdul Hamid II (1908).

Dari paruh terakhir abad kesembilan hingga tahun 1920, lebih dari 175 rumah bordil dibuka di beberapa wilayah Istanbul. Yang paling terkenal di antaranya adalah Beyoglu, Galata, Uskudar, dan Kadiku (Mehmed Tamil, الوضع الاجتماعي في إسطنبول, hal.254 -255 dan Clarence Richard Johnson, Istanbul 1920, hal. 306-315).

Setelah fenomena anomali Köçek menghilang, penulis dan sejarawan Ottoman, Ahmad Jawdat Pasha, menulis laporan kepada Sultan Abdul Hamid tentang masalah ini.

Dia mengatakan: “Jumlah pecinta wanita meningkat, sedangkan jumlah pecinta sesama pria menurun, seolah-olah Kaum Luth telah ditelan bumi. Cinta dan keintiman yang dulu ada di Istanbul kini telah dialihkan kepada anak perempuan, sesuai dengan keadaan alaminya, yang sebelumnya secara buruk ditujukan kepada pria muda.” (Magda Makhlouf, تحولات الفكر والسياسة في التاريخ العثماني: رؤية أحمد جودت باشا في تقريره إلى السلطان عبدالحميد الثاني، دار الآفاق العربية, edisi 1).[]

<< BERSAMBUNG “LGBT DI MASA TURKI MODERN” >>

Ditulis oleh: News Admin