Wahabi dan Salafi Dianggap Sebagai Pintu Masuk Terorisme

  • 30 Maret 2021
  • 3,565 views
Wahabi dan Salafi Dianggap Sebagai Pintu Masuk Terorisme

Tuduhan wahabi dan salafi sebagai pintu masuk terorisme dilontarkan Ketum PBNU, Said Aqil, sebagaiamana yang disampaikan di YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama, Selasa (30/3).

Meskipun demikian, Said memastikan bahwa ajaran Wahabi bukanlah terorisme, tetapi pintu masuk terorisme. Menurutnya, wahabi dan salafi adalah ajaran ekstrem.

Said menyimpulkan bahwa wahabi, hanya berkutat masalah “ini musyrik, ini bid’ah, ini sesat, ini nggak boleh, ini kafir, itu langsung satu langkah lagi, satu step lagi sudah halal darahnya boleh dibunuh.”

Pernyataan ini sekedar mengulangi lagi apa yang pernah disampaikannya beberapa tahun silam, bahwa salafi-wahabi penebar terorisme dan radikalisme.

Wahabi dan Salafi
Term wahabi dan salafi paling digemari oleh sebagian kelompok untuk menyudutkan kelompok Islam tertentu.

Padahal, pembahasan wahabi dan salafi ini sudah sering diungkap secara ilmiah. Banyak terjadi kesalahpahaman, mulai dari sisi bahasa maupun terminologi.

Seperti tulisan Wahabism Exposed, yang pernah dimuat dalam website The Institute of Islamic Information and Education (III&E). Dalam tulisan tersebut, wahabi diulas secara obyektif, bukan subyektif, demi mencari kebenaran.

Di antara kesimpulannya, istilah wahabi dan wahabisme adalah ciptaan Ingris untuk memecah belah umat Islam. Mereka dibuat saling bermusuhan dan saling memperlemah sehingga Inggris dapat terus menguasai negeri-negeri muslim dan menguasai umat Islam.

BACA: Wahabi: Antara Ada dan Tiada

Demikian pula dengan salafi. Padahal, siapapun yang mengambil sumber ajaran Islam dari 3 generasi awal umat Islam, DENGAN SENDIRINYA ia seorang salafi.

Tiga sumber yang dimaksud adalah generasi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat, generasi tabi’in dan generasi tabi’ut tabi’in.

Baca: Apa Makna Salaf, Salafi, atau Salafiyun?

Arab Saudi
Jika kedua istilah di atas dikembalikan ke sebuah negara, maka Arab Saudi yang dimaksud.

Menurut Utsman bin Bisyr dalam bukunya yang berjudul “Unwan Al Majd,” Daulah Utsmaniyah memiliki saham terbesar dalam menghasut umat Islam dengan melabeli Kerajaan Arab Saudi sebagai wahabi-khawarij.

Sejarah ini kembali pada masa penyerbuan Daulah Utsmaniyah terhadap Kerajaan Arab Saudi pertama, di tahun 1213 H.

BACA: Stigma Wahabi-Khawarij Sejak Era Daulah Utsmaniyah

Sampai hari ini, ulama Arab Saudi masih tetap bersiteguh mengikuti jalannya para salaf dalam beragama (manhaj salaf).

Justru karena itulah, kampanye pemberantasan paham ekstrem dalam beragama, sangat gencar dilakukan oleh ulama didukung pemerintah Saudi.

Bahkan Saudi menjadi incaran kelompok ekstrem dengan aksi pemboman di masjid, penembakan aparat keamanan, hingga pembunuhan keluarga sendiri karena dianggap di luar kelompoknya.

Pendiri Kerajaan Arab Saudi modern, Raja Abdulaziz terkait wahabi, mnengatakan:

Anda memerangi kami karena menganggap “wahabisme” adalah doktrin baru dan harus diperangi. Bersama dengan ucapan manipulatif yang tersebar kepada orang-orang yang mudah dipengaruhi, sehingga mereka tertipu dan terjerumus dengan kata-kata mereka, tetapi Allah memberikan kemenangan kepada kami atas mereka. (كتاب المصحف والسيف ص56)

Sekiranya Kiyai Haji Said Aqiel Siradj sudi mendengar nasehat Prof DR Kiyai Haji Said Aqiel Siradj, MA, maka tidak akan terlontar pendapat seperti di awal tulisan ini.

Ini, sebagaimana yang diinginkan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA., hafizahullah, dalam tulisannya “Nasehat DR Said Aqiel Siradj, MA untuk Ketua PBNU Kiyai Haji Said Aqiel Siradj.”[]

*) Ditulis oleh Abdullah, WNI mukim di Arab Saudi.

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait