Keliling Dunia Mengumpulkan Fatwa Ibnu Taimiyah

  • 5 April 2021
  • 1,470 view
Keliling Dunia Mengumpulkan Fatwa Ibnu Taimiyah

Malik Su’ud, Raja Saudi Arabia, rahimahullah, mencanangkan proyek pengumpulan risalah Ibnu Taimiyah. Proyek besar ini diserahkan kepada Syaikh Abdurrahman Al-Qasim dan putranya Muhammad.

Putra Abdurrahman bin Al-Qasim (Muhammad) menceritakan, pengumpulan risalah Ibnu Taimiyah dimulai di kota Najed sekitar tahun 1340 H.

Ketika beliau sedang meneliti fatwa-fatwa ulama Najed, beliau mendapatkan di sisi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Latif, risalah-risalah Ibnu Taimiyah yang berjumlah 30 jilid.

Kemudian pencarian dilanjutkan di kota Mekkah, tepatnya di perpustakaan Masjidil Haram dan didapatkan di sana beberapa risalah Ibnu Taimiyah.”

Setelah mengumpulkan beberapa risalah, Mufti Saudi Arabia saat itu, Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim menyarankan agar manuskrip-manuskrip tersebut disusun berdasarkan disiplin ilmu dan bab-bab kitab yang sudah ma’ruf di kalangan ulama dan pembelajar.

Kemudian pada tahun 1372 H, ayah pergi ke kota Beirut di Libanon, rihlah untuk melanjutkan mengumpulkan fatwa Ibnu Taimiyah. Di mana tujuan awal beliau pergi adalah untuk berobat.

Ketika telah selesai medical check up dan sebagian operasi, ayah belum dalam kondisi sembuh total, kemudian menuju Perpustakaan Umum Beirut yang waktu itu sedang penuh. Ayah saat itu membawa sebagaian fatwa yang telah ia kumpulkan dan telah diberikan daftar isi.

Aku yang saat itu menemani ayah, kemudian kami mulai mencari risalah-risalah Syaikhul Islam, namun kami tidak mendapat masail Syaikhul Islam di sana.

Disebutkan bahwasanya manuskrip yang pernah ada sudah dipindahkan ke negara lain sejak lama. Kemudian kami mencari di Maktabah al-Jâmiah al-Amrikiyah dan kami juga tidak mendapatkan apa-apa.

Pengumpulan Fatwa di Negeri Syam
Kehadiran ayahku di Syam ditemani kertas yang tertuliskan nomor-nomor untuk tiga bab yang ada di Maktabah Az-Zhahiriyah, karena kabar yang beliau dapatkan dari ulama-ulama yang berkunjung ke Maktabah Zhahiriyah.

Maka ayahku memerintahkanku untuk pergi ke Damaskus untuk mencari manuskrip karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bersamaan dengan sakit yang beliau derita semakin berat dan perawatan lanjutan yang harus dilakukan.

Lalu aku mulai proses pencarian manuskrip tersebut. Di tengah-tengah kesibukanku menukil dari kitab Al-Kawâkib Al-Darâriy, aku membolak-balik halaman beberapa jilid kitab tersebut lalu aku temukan di dalamnya beberapa permasalahan dan nukilan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Aku pun kaget dengan hal itu. Lalu aku mulai menyusunnya dan aku belum tau wujudnya sebelum dikumpulkan. Maka aku terus meneliti, membolak-balik lembar demi lembar dari manuskrip-manuskrip yang ada pada kitab Al-Kawâkib Al-Darâriy dimana tebalnya sekitar 40 jilid.

Maka dari aktivitas itu aku dapatkan pembahasan yang bermutu dan sangat banyak dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sehingga aku sangat bergembira sekali atas warisan perbendaharaan ilmu yang banyak ini.

Hal ini membuat aku lebih bersemangat lagi dalam meneliti dan membolak-balik lembar demi lembar manuskrip-manuskrip mencari fatwa-fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Jika aku ragu dari terluput sebagian permasalahan, maka aku merujuk kembali ke daftar isi tema-tema fatwa yang telah di susun oleh ayahku.

Dan aku tambahkan dengan tema-tema lain dari yang aku dapatkan dalam pencarian tersebut. Lalu aku beri nomor dari fatwa-fatwa yang sudah ditemukan untuk lebih memudahkan ketika ingin me-cross check ulang dengan makhtutat yang asli.

Pencarian di Baghdad
Setelah aku selesai di Syam, yang merupakan negri Syaikhul Islam dan karya-karya tulisnya, aku berkinginan pergi safar menuju Iraq untuk mengumpulkan Fatwa Ibnu Taimiyah di negri ini.

Setelah meneliti di Maktabah Al-Awqaf aku pun mendapatkan beberapa jilid karya Ibnu Taimiyah. Di antaranya karyanya yang terkenal yaitu Ar-Risalah At-Tadmuriyah.

Perjalanan Menuju Mesir dan Paris
Di antara kemuliaan yang Allah berikan kepada Syaikhul Islam adalah Allah menjaga ilmu beliau dalam perbendaharaan kitab-kitab di luar negeri.

Dan diantara yang Allah khususkan untuk ayahku yaitu menyempurnakan Majmu’ Fatawa lewat tangannya.

Juga pahala atas kesabarannya, Allah jadikan ia menderita sakit sebagai sebab safar beliau yang bermanfaat ke negeri-negeri untuk mengumpulkan fatwa-fatwa Syaikhul Islam.

Kemudian kami safar menuju Paris melalui Mesir. Ketika sampai di Kairo kami mengunjungi perpustakaan Dar al-Kutub al-Mishriyyah.

Lalu kami mulai membolak-balik halaman apa yang ada di kitab al-Jâmi’ dan al-Kawâkib al-Durâriy. Di situ kami mendapatkan sebagian dari fatwa beliau yang tidak ada pada kami sebelumnya.

Setelah selesai operasi dan pengobatan ayahku, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Paris.

Ketika sampai di Paris kami menuju perpustakaan Nasional Paris. Lalu kami menelusuri daftar isi yang tercetak dalam bahasa Arab dari manuskrip-manuskrip yang terdapat di Paris, London, Berlin, Wina dan sebagian daftar isi manuskrip Turki dan sebagainya.

Pada tahun 1380 H, Raja Arab Saudi saat itu, Malik Su’ud, memerintahkan untuk mencetak fatwa-fatwa Ibnu Taimiyah dan mengeluarkan biaya yang dibutuhkan untuk mencetak dan mengoleksi fatwa tersebut.

Fatwa tersebut dicetak sebanyak 50.000 eksemplar dengan menghabiskan biaya jutaan riyal. Di mana satu eksemplar terdiri atas 35 jilid.

FB Mohamad Sidiqi
02-04-2018
-Repost-

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait