Negara “Crazy Rich” yang Dermawan (Bagian 1)

  • 15 April 2021
  • 1,567 view
Negara “Crazy Rich” yang Dermawan (Bagian 1)

Suatu hari di Jeddah bersilaturahmi dengan seorang pengusaha Arab Saudi yang lahir dan besar di Jatibarang (Brebes, Jawa Tengah). Sebab asal dari tetangga kampung, maka kami pun serasa jumpa keluarga di perantauan.

Beliau sempat masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Tegal sebelum berhijrah ke Mekkah dan menetap menjadi warga negara, sekitar pertengahan tahun 60-an sepeninggal kedua orang tuanya.

Beliau bercerita kisah dan perjalanan hidup sebelum menjadi pengusaha sukses di Jeddah. Menarik sekaligus mengharukan.

Saya tidak menceritakan kisah suksesnya di sini, hanya mengutip beberapa maklumat menarik.

Pada saat Beliau mengisi seminar tentang kisah suksesnya di suatu universitas di dekat kampung halamannya, ada peserta yang bertanya.

Peserta: “Mengapa Bapak pindah ke Arab Saudi, padahal Bapak orang kaya, kan bisa membantu penduduk di sekitar sini?”

Beliau menjawab: ”Maaf, dulu saya juga orang kampung yang hidup susah waktu masih di Brebes (Jatibarang), makanya jauh-jauh mengais rezeki.

Alhamdulillah setelah berhijrah dan menetap di Mekkah mulai membangun dan merintis usaha dari kecil sehingga bisa berhasil seperti sekarang”.

Tahu persis kampung asal beliau, sehingga tidak perlu cerita panjang lebar sudah paham situasinya.

Jangankan teknologi, boleh jadi belum ada listrik pada waktu beliau tinggal di tempat asalnya.

Sementara saya yang menjalani Sekolah Dasar (SD) tahun 80-an saja masih sempat tinggal di rumah dengan lampu minyak (ceplik) dan petromaks yang setiap Maghrib harus dinyalakan dan dipompa minyaknya untuk menerangi rumah.

Ada satu hal menarik yang sempat saya tanyakan kepada beliau terkait dengan pendidikan di sini.

Untuk lebih akrab lagi, saya berkomunikasi dalam bahasa Jawa (Brebes). Begini kira-kira terjemahan nasionalnya.

Saya: “Bagaimana dengan sekolah anak-anak Bapak?”

Sambil tersenyum Beliau menjawab: “Oya, sekolah di sini tidak bayar asal milik kerajaan (negeri), anak sulung kuliah S1 Bisnis di King Abdulaziz University malah dikasih uang setiap bulan 1000 Riyal.”

Senyum Beliau mengandung makna yang mendalam. Bagaimana tidak senyum, kalau diminta bayar mahal pun sebenarnya beliau sanggup menunaikannya. Pengusaha sukses di Jeddah.

Ini berarti kerajaan tidak membedakan miskin-kaya, semua warga harus mendapatkan pendidikan yang layak. Sekolah dan kuliah dari SD sampai S3 gratis, bahkan diberi uang saku.

Ternyata ini berlaku tidak hanya untuk warga negara, tetapi juga untuk warga asing yang sekolah atau kuliah di sini. Semua gratis.

Bahkan warga asing otomatis akan mendapat beasiswa dari kampus, selain uang saku yang diberikan oleh kerajaan setiap bulan, ditambah lagi dormitori (apartemen), asuransi kesehatan, dan tiket pesawat pulang-pergi ke kota di negara asalnya setiap tahun.

Pokoknya cukup modal belajar tekun semua sudah ditanggung oleh kerajaan.

Bahkan ada mahasiswa asing yang mendapat beasiswa dari negara asalnya, dan menyampaikan kepada universitas terkait dengan sponsorship.

Universitas tidak bisa membatalkan uang saku yang diberikan kerajaan setiap bulan karena itu merupakan kebijakan pemerintah. Sehingga mahasiswa tersebut tetap menerima uang saku setiap bulan dari kerajaan Arab Saudi selain beasiswa dari negara asalnya.

Maka tidak berlebihan jika menyebut negara ini sebagai “Crazy Rich” yang dermawan.

#catatan_dari_kampus_tepian_laut_merah
Prof. Anton Satria Prabuwono

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait