Iran Menguasai Hizbullah di Lebanon, Akankah Hamas Berdaulat Atas Palestina?

  • 20 Mei 2021
  • 1,712 view
Iran Menguasai Hizbullah di Lebanon, Akankah Hamas Berdaulat Atas Palestina?

Kita sering mendengar ungkapan “setelah tanggal ini tidak akan sama dengan sebelumnya!” Dan terakhir kali kita dengar adalah setelah pemboman pelabuhan Beirut.

Tetapi sampai sekarang tidak ada hakim yang berani mengumumkan kebenaran secerah matahari, karena Hizbullah mencegahnya. Jika setelah Agustus, jauh lebih buruk dari sebelumnya, maka keadaan lebih berbahaya tengah mengancam.

Sekarang, jika kita mengikuti saluran TV yang disebut Axis of Resistance, maka gerakan “Hamas” dan “Jihad Islam” tidak lagi dengan batu menghadapi Israel.

Adapun warga Palestina yang syahid, seorang analis yang optimis mengatakan bahwa angka ini “untuk mencegah korban lainnya, yang penting adalah kita mendekati Yerusalem!” Dia berbicara seolah-olah Israel adalah “Caritas.”

Pasukan Israel dan faksi bersenjata Palestina di Jalur Gaza terlibat dalam baku tembak paling sengit sejak perang Gaza 2014.

Konflik ini terjadi setelah berminggu-minggu ketegangan yang meningkat untuk mengantisipasi keputusan Mahkamah Agung Israel yang sekarang tertunda.

Perkaranya, tentang enam keluarga Palestina, apakah dapat diusir dari rumah mereka di lingkungan bersejarah Syaikh Jarrah di Yerusalem Timur, untuk memberi ruang bagi pemukim Israel.

Kasus tersebut memicu protes massal setiap hari, yang sering berubah menjadi kekerasan ketika kepolisian Israel membubarkan massa pada Jumat, 7 Mei lalu.

Lebih dari 170 warga Palestina terluka ketika pasukan keamanan membubarkan demonstrasi di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, situs tersuci ketiga dalam Islam.

Polisi penjajah Yahudi kembali menggerebek masjid pada Senin dini hari, satu hari pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan, dengan melukai ratusan demonstran.

Mereka menggunakan bom suara, gas air mata dan peluru karet, sekaligus memukuli demonstran yang melawan dengan lemparan batu dan benda lainnya.

Sejumlah saksi mata mengatakan: “Itu adalah serangan yang benar-benar kejam. Kami tidak pernah menyaksikan kekerasan seperti itu di dalam Masjid Al-Aqsa selama bertahun-tahun.”

Hamas dan kelompok Islam bersenjata yang menguasai Gaza, menanggapi dengan menembakkan roket ke kota-kota Israel.

Seperti konflik Israel-Palestina yang lebih luas, konflik yang menyebabkan meningkatnya kekerasan baru-baru ini memiliki akar sejarah yang dalam.

Lingkungan Syaikh Jarrah, seperti lingkungan lain di Yerusalem Timur, telah menjadi obyek konflik antara Palestina dan Yahudi selama berabad-abad.

Pada tahun 1956, Yordania, yang dulunya memerintah Tepi Barat dan Yerusalem Timur, membangun perumahan di Syaikh Jarrah untuk memukimkan kembali 28 keluarga yang diusir milisi Zionis dari rumah mereka selama perang 1948 yang berakhir dengan pendirian negara Israel.

Yordania setuju untuk memberikan sertifikat tanah resmi kepada penduduk Palestina Syaikh Jarrah setelah jangka waktu tiga tahun, tetapi kesepakatan itu dihentikan karena Perang Enam Hari 1967, yang menyebabkan pendudukan Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Sejak itu, sejumlah warga Palestina terusir dari rumah mereka di Yerusalem Timur dan perintah dikeluarkan kepada keluarga Palestina untuk meninggalkan Syaikh Jarrah pada 2002, 2009, dan 2017.

November lalu, Mahkamah Agung memutuskan bahwa 87 warga Palestina harus dideportasi dari lingkungan Silwan di luar Kota Tua. Sekelompok pemukim Israel mengajukan gugatan terhadap warga Palestina, dengan alasan bahwa mereka tinggal di tanah Yahudi.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat sebelumnya, Kantor Hak Asasi Manusia PBB mengutuk evakuasi keluarga yang direncanakan di Syaikh Jarrah, dengan menyatakan:

“Memindahkan sebagian penduduk sipil di bawah kekuasan pendudukan ke wilayah yang diduduki dilarang menurut hukum humaniter internasional dan memungkina menjadi kejahatan perang.”

Ilan Pappe, sejarawan Israel yang berbasis di Inggris dan penulis beberapa buku tentang konflik tersebut, melangkah lebih jauh, dengan mengatakan bahwa pengusiran Syaikh Jarrah yang direncanakan sesuai dengan pola “pembersihan etnis” dari orang-orang Palestina yang tidak pernah berhenti sejak 1948.

Kelompok Yahudi yang mendukung para pemukim (mereka disebut “pemukim”, bukan “warga negara”) didukung oleh pemerintah yang mendukung tuntutannya.

Pada bulan Januari, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa 800 rumah pemukim baru akan dibangun di Tepi Barat yang diduduki. Kemudian Netanyahu berdiri teguh melawan protes internasional yang berkembang, mengatakan bahwa Israel “dengan tegas menolak tekanan untuk tidak membangun di Yerusalem.”

Semua ini terjadi selama hampir 50 tahun, tetapi sekarang telah mencapai puncak yang tinggi.

Dan keluarga di Syaikh Jarrah merupakan beberapa warga Palestina terakhir di daerah tersebut yang dipaksa diusir, sementara Mahkamah Agung Israel tidak memungkinkan banding hukum.

Oleh karena itu, satu-satunya perlindungan bagi penduduk Palestina saat ini adalah protes, perlawanan, dan eskalasi politik yang harus dibayar Israel.

Protes, meski mahal, mungkin berhasil dengan memaksa pengadilan untuk menunda penggusuran selama 30 hari dan di tengah pecahnya kekerasan penggusuran, dapat ditunda untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.

Namun, tidak semua orang setuju, beberapa orang Israel percaya bahwa penundaan peradilan hanyalah langkah taktis dan upaya pembersihan akan dilanjutkan.

Beberapa waktu sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengatakan, “Israel belum siap untuk gencatan senjata,” dan berjanji untuk melanjutkan operasi militer di Gaza sampai tercipta “ketenangan total.”

Krisis saat ini terjadi pada saat Netanyahu dan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, keduanya berada di bawah tekanan politik yang luar biasa.

Netanyahu saat ini diadili karena korupsi saat memimpin pemerintahan sementara. Partai-partai oposisi gagal membentuk koalisi untuk menggantikannya setelah pemilu Israel keempat di bulan Maret lalu, dalam dua tahun terakhir.

Netanyahu mungkin bertaruh bahwa tanggapan yang kuat terhadap Hamas dapat meningkatkan peringkat persetujuannya dan dukungannya di kalangan sayap kanan Israel, serta kaum moderat yang tertarik pada kekerasan.

Ia juga berharap konflik yang berlarut-larut akan menimbulkan keretakan antara lawan-lawannya yang memiliki keragaman ideologis.

Sementara itu, Abbas menimbulkan keributan pada akhir April ketika dia menangguhkan rencana untuk mengadakan pemilihan umum Palestina pertama dalam 15 tahun karena Netanyahu ingin mengecualikan Yerusalem.

Tetapi situasi saat ini masih mungkin berbalik untuk kepentingan politiknya; ketika bom terus jatuh di Gaza, orang-orang Palestina mungkin berpaling dari Hamas, yang dalam pandangannya mereka telah menjadi “hitungan angka.”

Sebaliknya, berakhirnya kekerasan secara cepat dapat memperkuat citra Hamas dan menggambarkan Abbas sebagai orang yang tidak mau menghadapi agresi Israel. Bagaimanapun, pertempuran membuat potensi pemerintah persatuan Palestina semakin jauh dari sebelumnya.

Dan sekarang kita sampai pada intinya. Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei meminta rakyat Palestina untuk menanggapi kebrutalan Israel, dengan mengatakan bahwa Israel “hanya memahami bahasa kekerasan.”

Apa yang terjadi antara Hamas dan Israel adalah “rekayasa Iran yang canggih” dan hanya |orang yang terbelakang mentalnya” yang percaya bahwa Hamas mampu melakukan apa yang dilakukannya tanpa perintah langsung dari Pemimpin Tertinggi dan “Faliiq Quds.”

Ismail Haniyeh melakukan panggilan pertama, di puncak pemboman, dengan Muhammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran, untuk menanyakan tentang persetujuannya.

Pertanyaannya adalah: Apa yang diinginkan Iran? Apakah Iran ingin meningkatkan posisi negosiasinya di Wina dengan kartu Hamas dan Jihad Islam, dengan menambahkan di atas kertas Hizbullah, Houtsi, people power dan beberapa kelompok di Suriah, dan yang paling penting, karena itu membuat Hamas sebagai yang terkuat dan mungkin satu-satunya wakil bagi rakyat Palestina.

Dengan demikian, masalah Palestina menjadi aturan di tangan orang-orang Iran, bahkan jika Gaza dan Ramallah benar-benar hancur dan 100.000 orang Palestina terbunuh.

Apa yang dilakukan Iran adalah replika dari apa yang dilakukannya di Lebanon, yang menyebabkan partainya, Hizbullah, mengambil alih Lebanon.

Kita harus mengakui bahwa mereka pandai dalam perencanaan yang cerdas untuk mencapai apa yang mereka cita-citakan. Dan ini buah dari studi mendalam tentang jiwa dan perilaku orang-orang yang dihadapi, serta kesabaran jangka panjang.

Namun, kelemahan serius rezim Iran adalah ia mahir dalam merencanakan dan menghancurkan negara, bukan membangunnya.

Ia menabur malapetaka, kekacauan, kebingungan, dan ketidakstabilan, dan mungkin inilah yang cocok bagi Israel dan setiap aspirasi untuk mengontrol kekayaan sebuah bangsa.

Khamenei percaya bahwa retorikanya yang membara akan menginspirasi proksi Iran di Lebanon dan Suriah, untuk bertindak, menambah dimensi lain dalam konflik tersebut.

Tidak jelas berapa lama kekerasan saat ini akan berlangsung di tengah ketidakstabilan politik internal di Israel dan wilayah Palestina, selain iklim ketidakpastian di Timur Tengah, peristiwa baru-baru ini mungkin menghantui kawasan itu selama berbulan-bulan mendatang.

Yang penting, Hamas jangan sampai terlibat dalam memuluskan “tanah air alternatif” bagi rakyat Palestina. Dan perlu diingat, bahwa evakuasi rumah-rumah di Syaikh Jarrah telah merenggut gedung-gedung bertingkat di Gaza.

Sumber: koran الشرق الأوسط

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait