Mencari Iram Dari Kaum ‘Aad (Bag. 1)

  • 16 Agustus 2021
  • 574 views
Mencari Iram Dari Kaum ‘Aad (Bag. 1)

Selama berabad-abad, orang-orang telah mengisahkan tentang Iram, harta karun, rahasia dan legendanya. Pencarian untuk menemukan kota yang hilang di Semenanjung Arab ini telah menarik sekelompok petualang, peneliti, dan pemburu harta karun terpilih dari seluruh penjuru bumi.

Dari penjelajah terkenal, Sir Ranulph Fiennes, sutradara dokumenter pemenang Penghargaan Emmy, Nicholas Clapp, hingga T.E. Lawrence, yang dikenal dengan julukannya “Lawrence of Arabia,” mencari kota yang telah lama hilang dan hancur secara menakjubkan.

Lawrence menyebutnya sebagai “Atlantis of the Sands“, Pasir Atlantis, untuk mengabdikan tempat legendarisnya yang terkubur jauh di dalam gurun Jazirah Arab, khususnya Empty Quarter (Rubu’ al-Khaliy), menurut ramalannya.

Terlepas dari popularitas dan godaannya bagi para petualang selama berabad-abad yang lalu, Iram masih relatif tidak dikenal dan kurang dipelajari, kecuali dikaitkan dengan kota fiksi seperti Atlantis.

Ini menjadikan Iram bagian dari cerita rakyat orang-orang di Semenanjung Arab, sebuah kisah yang diturunkan dari generasi ke generasi sampai disebutkan dalam Al-Qur’an.

Iram dan kaum ‘Aad: sebagaimana banyak legenda dan cerita rakyat yang muncul berulang kali dalam tradisi kuno, asal-usulnya biasanya berakar pada kebenaran dan reputasi Iram hanya berasal dari satu sumber utama dan kredibel: Al-Qur’an.

Iram telah disebutkan dalam beberapa puisi pra-Islam, dari seorang penyair masa Jahiliyah, yang mengatakan:
Dan orang-orang “Jaw” datang kepada mereka
Kemudian rusaklah hidup mereka, sehingga mereka berselisih
Dan berjalanlah waktu di atas “Wabar”
Binasalah semuanya dan “baar”

Tapi Al-Qur’an adalah teks lengkap yang paling jelas menceritakan kota Iram dan memberikan deskripsi yang komprehensif.

Meskipun kata “Iram” hanya digunakan sekali, kota ini dikaitkan dengan suku yang dikenal sebagai orang-orang ‘Aad:

اَلَمۡ تَرَ کَیۡفَ فَعَلَ رَبُّکَ بِعَادٍ اِرَمَ ذَاتِ الۡعِمَادِ الَّتِیۡ لَمۡ یُخۡلَقۡ مِثۡلُہَا فِی الۡبِلَادِ

“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad? (yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain.” (QS. Al-Fajr: 6-8)

Singkatnya, Al-Qur’an menjelaskan hal berikut tentang suku ‘Aad: Mereka membangun gedung-gedung yang menakjubkan, dengan asumsi kekuatan yang tak tertandingi oleh peradaban lain di Jazirah Arab.

Mereka hidup pasca masa Nabi Nuh alaihi wasalam, membangun monumen di tempat-tempat tinggi, tanah yang mereka taklukkan dikenal sebagai “Al-Ahqaf,” yang berarti perbukitan pasir yang berkelok-kelok.

Mereka tersapu oleh angin kencang yang melanda tanah mereka selama tujuh hari berturut-turut, menyapu seluruh kota. Kehancurannya tidak meninggalkan sisa kota, kecuali beberapa tempat tinggal. Adapun ‘Aad, mereka dihancurkan oleh badai angin yang ganas.

Selama berabad-abad, kritikus Eropa dan sarjana Alkitab dan Taurat telah mengecam keberadaan ‘Aad dan orang-orang ‘Aad.

Karena tidak ada referensi untuk ‘Aad atau Iram dalam tradisi Ibrahimiyah, tidak seperti catatan terkemuka lainnya seperti Nuh dan Air Bah atau Firaun dan Nabi Musa atau kerajaan Nabi Sulaiman yang disebutkan dalam tiga kitab suci.

Kritik tersebut bermula dari kurangnya bukti arkeologis ‘Aad atau Iram, yang keduanya tidak dapat ditemukan selain beberapa referensi dalam puisi Arab pra-Islam.

Hal ini memperkuat klaim tak berdasar bahwa kisah Iram di dalam Al-Qur’an sekedar legenda yang populer di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menurut dari sudut pandang teolog. [Bersambung]

Ditulis oleh: News Admin