Kenapa Kita Serahkan Nasib Akhirat Kita Kepada Orang Lain?

  • 28 September 2021
  • 360 views
Kenapa Kita Serahkan Nasib Akhirat Kita Kepada Orang Lain?

Alhamdulillah beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk melaksanakan umrah bersama keluarga, setelah lama sekali kami tidak keluar dari Madinah karana kesibukan menyiapkan thesis.

Di Masjidil Haram, saya melihat sebagian jamaah sudah mulai berdatangan, kebanyakan dari negara Arab sekitar, belum nampak lagi wajah Asia Tenggara yang dirindukan kehadirannya.

Namun saat ramai jamaah, banyak juga kesilapan yang dilakukan dalam manasik umrah yang dapat ditemukan. Ada yang tidak tahu bagaimana harus meletakkan kain ihramnya di bawah tangan sebelah kanan (الاضطباع).

Ada yang berlama-lama berdoa di tengah jalan Hajar Aswad sehingga jemaah di belakang terganggu, sebagian jamaah pula ada yang membaca doa beramai-ramai dengan suara yang keras dibimbing seorang mutawwif tanpa menghiraukan SOP yang telah ditentukan.

Dan pelbagai hal lain lagi dapat kita saksikan ketika manasik umrah, termasuk termasuk yang dengan bangganya menyanyikan lagu kebangsaan negara.

Sungguh sayang sekali sekiranya dalam hal keduniaan kita begitu mengejarnya tanpa bergantung pada orang lain. Sebaliknya dalam hal akhirat, kita dengan mudah menyerahkannya bulat-bulat pada ustadz, pembimbing umrah dan semisalnya.

Bila mutawwif tersebut melaksanakan umrah sesuai dengan sunnah, maka beruntunglah para jamaah. Namun sebaliknya jika mutawwif banyak membuat amalan tambahan di dalam umrah yang tiada asalnya dari Al-Quran dan Sunnah, maka malanglah nasib mereka.

Kenapa kita menyerahkan nasib akhirat kita pada orang lain? Mengapa tidak kita bersungguh-sungguh mencari bagaimana ibadah yang sesuai dengan tuntutan Rasulullah shallahu alaihi wa sallam?

Terus-terang, lama pertanyaan-pertanyaan seperti ini berputar dalam pikiran saya, terutamanya saat saya mulai menuntut ilmu agama di Universitas Islam Madinah.

Saya merasakan kenikmatan dan keyakinan diri ketika mula belajar tata cara ibadah sesuai dengan apa yang difirmankan Allah Ta’ala dan apa sabda Rasulullah.

Oleh itu, saya berazam ingin berbagi sedikit ilmu dengan saudara-saudara, kawan-kawan, kenalan, atau siapa saja yang ingin datang menunaikan ibadah umrah maupun haji.

Ini semua secara percuma a.k.a free of charge, meskipun begitu, tetap keseriusan dan ketekunan bagi yang menghadiri kelas ini amat sangat diperlukan atas dasar memuliakan majelis ilmu.

Inisiatif ini dibangun atas dasar keprihatinan dan sedikit dari khidmat saya kepada ummah, juga sebagai bakti kepada Universitas Islam Madinah yang telah memberikan saya kesempatan untuk menuntut di sini.

Mengapa saya hendak ingin mengambil untung dari apa yang diberikan kepada saya secara percuma selama bertahun-tahun lamanya?

Untuk dimaklumi juga, modul tatacara umrah yang disediakan juga adalah ringkasan dari pelbagai buku dan risalah yang disebarkan oleh Pejabat Urusan Haji Arab Saudi serta kitab oleh ulama terdahulu yang InshaAllah tidak keluar dari empat mazhab, Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali.

Tulisan ini hanyalah sekadar berbagi dari pengalaman saya mengajar di kelas haji dan umrah bertahun-tahun untuk jamaah dari pelbagai latar belakang, dari sahabat-sahabat penuntut ilmu sehingga orang awam, kayawan hingga profesional.

Semoga Allah memberkati sedikit usaha kecil dari insan kerdil ini.

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ (الشعراء: 145)

Note: Bagi yang berminat boleh hubungi saya di nomor berikut: https://wa.me/qr/B6UUPJ37HU6FE1

Ditulis Muhammad Luthfi bin Mohammad Masruh. Makkah Mukarramah, 19 Safar 1443 H, dengan beberapa penyesuaian kalimat dalam bahasa Indonesia.

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait

Apa Cita-Citamu?

Di depan Ka’bah tepatnya di dekat rukun Yamani, empat orang pemuda bersepakat untuk memohon apa