Duhai Universitas Islam Madinah… Kisah Dan Nasehat Bagi Adik-Adik Yang Diterima Di UIM

  • 9 Oktober 2021
  • 1,001 view
Duhai Universitas Islam Madinah… Kisah Dan Nasehat Bagi Adik-Adik Yang Diterima Di UIM

BERITA SUPRISE
Sore itu di penghujung Juli 1992, aku, pulang dari pesantren menjenguk orang tuaku-rahimahullah– sebagaimana yang telah menjadi kebiasaan mingguanku sejak jadi guru pengabdian di pondokku.

Setibanya d irumah sore hari, abiku menyambutku dengan gembira sembari menunjukkan surat padaku, ”ini ada surat dari ATASE KEDUBES SAUDI, engkau diterima di UNIVERSITAS ISLAM MADINAH dengan beasiswa full.”

Allahu Akbar, hatiku berbunga-bunga, serasa tak percaya, meski jauh-jauh hari sebenarnya aku sudah dapat bocoran dari sebagian masyayikh yang mengadakan daurah bahasa Arab di UISU setahun lalu, bahwa aku kelak akan diterima sebagai mahasiswa di UIM, namun berita itu kuanggap hanyalah mimpi yang belum tentu jadi kenyataan.

Sejak dapat surat, aku diwajibkan segera berangkat ke Jakarta untuk berkumpul dengan kawan-kawan dari seluruh Indonesia yang kala itu kami berjumlah 36 orang.

Abiku bingung , karena belum ada persiapan apaupun, pasporku pun belum ada. Semalaman abiku tak tidur memikirkan bagaimana pengurusan paspor yang cepat karena keberangkatan kami dari Jakarta ke Saudi hanya berjarak seminggu lagi.

Umiku juga kebingungan memikirkan bagaimana aku harus berangkat dengan pesawat karena mepetnya waktu, sementara persiapan keuangan tak ada. Dengan hati besar umiku menjual perhiasan perhiasan emasnya untuk keberangkatanku ke Jakarta.

Selepas subuh abiku berbicara menjelaskan kegalauannya pada Imam masjid kami, perihal pasporku yang belum punya, subhanallah… Pak Imam menyatakan bahwa kepala kantor Imigrasi rumahnya tak jauh dari komplek masjid kami.

Lepas subuh keduanya berangkat mendatangi kepala kantor imigrasi tersebut sambil membawa surat panggilanku, alhamdulillah ternyata semua Allah mudahkan jalan bagiku.

Jam 9 pagi aku dan abiku pergi ke kantor imigrasi, hanya sekitar 10 menit, urusan pasporku kelar, tanpa biaya tambahan apapun, hanya 40.000 saja, jadilah pasporku disuruh ambil siang hari ke rumah beliau.

AWAL PERJALAN KE JAKARTA
Dua hari setelah itu aku berangkat dengan menggunakan maskapai jadul yang kini tak beroperasi lagi “Mandala “ yang masih menggunakan baling-baling.

Kuingat kala itu harga tiketnya masih begitu mahal tak terjangkau kecuali oleh golongan menengah ke atas saja yang dapat menikmati pesawat terbang, bukan murah merogoh kocek Rp 21 ribu kala itu, apapun akan diusahakan umiku agar anaknya bisa berangkat, jazahallah khairan.

Dari bandara Polonia aku dan direktur pondokku, Kyai Drs. Ikromi, hafizahullah, bertolak menuju Bandara Soekarno Hatta di Jakarta. Tak percaya rasanya kali itu aku bisa naik pesawat bak para pejabat dan konglomerat.

Siang hari kami bertolak dari Bandara Soeta menuju kantor Atase di jalan Sisingamangaraja dekat masjid Al-Azhar. Ternyata sekretaris atase waktu itu Drs. Aman Nadhir rahimahullah adalah kawan baik direkturku tatkala di Gontor.

Di rumahnyalah aku menumpang beberapa hari sebelum terbang ke Saudi. Sungguh tak terbalas jasa beliau padaku yang sudi memberi tumpangan makan, minum gratis tak berbayar sepeserpun hingga keberangkatanku.

Tiba hari yang ditentukan, kami berkumpul di terminal 2 Bandara Soeta, untuk bertolak menuju Saudi, negeri impian banyak para pelajar yang ingin mereguk di sana manisnya piala ilmu dari para masyayikh.

BERTOLAK MENUJU SAUDI
Tak terlukiskan bahagiannya hatiku manakala melihat kerlap-kerlip jutaan lampu Kota Jeddah pertanda burung besi Boing 747 sebentar lagi kan mendarat. Di benakku berkecamuk berbagai macam pikiran, cita-cita, impian dan harapan-hanya Allah yang tahu- tak dapat kugoreskan dalam kata-kata.

Dari Jeddah kami transit sejenak untuk kemudian kembali terbang ke Madinah -kota Nabi- tempat bermula cahaya Islam setelah hijrahnya beliau, tempat yang paling mulia diseluruh jagad raya setelah kota Mekkah.

Pagi hari selepas subuh aku dan kawan-kawan disambut oleh sebagian dosen dan kakak senior yang akan membantu pengurusan asrama, tempat, perkuliahan dan lain-lain.

KE MASJID NABI
Lepas Ashar, aku berangkat untuk pertama kalinya menuju Masjid Nabi dengan rombongan para mahasiswa, hatiku berdebar-debar kencang awal pertama masuk ke masjid Nabawi. Selepas sholat sunnah, aku terus berjalan menuju makam beliau, memberikan salam atas beliau dan kedua sahabatnya, subhanallah terharu, sangat terharu mengenang awal kedatanganku itu.

Sahabat, tak bisa kuceritakan betapa membuncah kegembiraan, kebahagian, dalam hatiku ini, Ya Rabb… Seolah saat ini ingin kuputar lagi waktu yang telah berlalu puluhan tahun yang silam itu.

Dunia kampus dengan segala suka-dukanya, berkumpul dengan ribuan mahasiswa dari seluruh penjuru dunia, bergaul lintas bangsa, bercengkrama dan berguarau dengan sahabat-sahabatku yang tulus, dengan segala etnis dan warna kulit yang berbeda.

BERANGKAT UMRAH KE MEKAH
Beberapa hari di kampus, hari kamisnya, aku dan beberapa sahabat, kami berlima diajak salah seorang teman warga Saudi yang begitu baik untuk pergi berumrah ke Mekah dengan mobil pribadinya. Di kampus kita liburan mingguan dua hari sepekan, hari Kamis dan Jumat, biasanya waktu-waktu itu ramai para pelajar yang berangkat umrah ke Mekkah.

Malam hari aku dan kawan-kawan menginjakkan kakiku di Masjidl Haram diiringi riuh rendah suara manusia yang sedang berzikir, berdoa dan bermunajat thawaf di Ka’bah -rumah Allah- yang dulu hanyalah sekedar lukisan yang selalu kulihat di sajadah lusuh milik nenekku di rumah kami, kini benar-benar ada di hadapan mataku.

Ya Rabb… Alangkah besar karuniaMu pada kami hamba-hambamu yang kurang pandai bersyukur.

Manakala manusia bercucuran air mata melepas keberangakatan jama’ah haji yang akan bertolak ke Makkah, air mata kerinduan ingin pula berangkat ke sana, sementara diri ini hanya dengan 30 riyal saja sudah dapat tiba di Mekah untuk melaksanakan umrah.

Selepas sa’i dan tahallul, kami kembali menginap di Masjidil haram untuk istirahat menjelang pagi. Selepas zhuhur kami kembali menuju Madinah agar dapat belajar kembali di hari sabtunya.

NIKMATNYA BELAJAR DI UIM
Sahabat, belajar di UIM adalah anugerah besar yang tidak diberikan Allah pada semua orang yang berharap, namun di balik kenikmatan itu tersembunyi ujian yang berat bagi pelajar yang diterima di sana.

Tiap bulan dapat mukafaah yang lumayan besar kala itu, jika diuangkan masa kini kisaran Rp 3 juta lebih. Sementara kurs Dollar kala itu masih Rp 2.500.

Tiap awal tahun mahasiswa mendapatkan uang pengganti pakaian 1000 riyal dan ganti uang buku seperti itu pula. Tiap liburan musim panas diberikan pula tiket free pulang pergi ke negara masing-masing.

Tak semua pelajar sadar diri dan paham tujuan datang ke sana, ada saja segelintir orang yang lalai dengan gemerlap dunia yang menggoda. Sibuk bekerja ikut travel jadi muthawwif dan mengurusi hotel dan jamaah, dengan meninggalkan kampus dan tidak masuk kuliah. Akibatnya ada-ada saja yang harus di-DO dipulangkan karena gagal menyelesaikan kuliah.

Sebagian kawan-kawan ada yang kurang minat menghadiri kajian para masyayikh di Masjid Nabi, padahal di sanalah sumber keberkahan ilmu yang tak pernah mengering.

UIM TIDAK MENJANJIKAN KEBERKAHAN
Madinah yang suci tidak pernah dapat mensucikan manusia, tak usah heran apabila Allah menyatakan adanya kaum munafik yang menyembunyikan kemunafikan di kota Madinah. Demikian pula UIM tidak pernah menjanjikan keberkahan para pelajar dan alumninya.

Keberkahan ilmu akan senantiasa ada apabila dituntut dengan ikhlas, diamalkan dengan tulus dan didakwahkan mencari wajah Allah dan negeri akhirat, meski dirimu tak pernah mengecap nikmatnya belajar di UIM.

Tidak sedikit alumninya yang lupa ilmu dan dakwah; sibuk mengejar Riyal, tamat dari sana tak mau pulang ke negerinya untuk menzakati ilmunya. Tetap bertahan sebagai penggiat travel dan meski harus bayar puluhan ribu rial untuk membeli iqamah.

Ada pula yang pulang ke negerinya membawa gelar Lc, MA hingga Doktor, namun larut tenggelam dalam dunia politik, berebut dengan orang-orang awam -yang tak pernah mengecap belajar agama sepertinya- untuk meraih kursi kekuasaan.

Hilanglah idealisme, hilang janggut yang dahulu menghias wajah jantannya, hilang pula kebiasaan tidak isbal, menjulurkan pakaian hingga menutup mata kakinya, seiring dengan itu hilang pula majlis-majlis ilmu yang dulu pernah diampunya.

Hilang hafalan Quran, hilang pula hafalan hadis. Lebih miris lagi bila ternyata menjadi pendukung bid’ah dan syubuhat karena tak sanggup menyelisihi orang banyak dan keinginan mereka.

Hanya pada Allah kita bermohon semoga saja adik-adik yang diterima di UIM, benar-benar mengikhlaskan niat, meluruskan hati, memperbaiki hubungannya dengan Allah, senantiasa mengevaluasi niatnya dan selalu menghadiri kajian para masyayikh yang penuh keberkahan di masjid Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Kami selalu menunggu kiprah kalian ketika pulang kelak di medan dakwah,

————
1 Rabiul Awwal 1443/ 8 Oct 2021
Abu Fairuz MY

*) Dinukil dari WAG ACS, setelah mendapatkan izin Ustadz Abu Azka Luqman Rasyid.

Ditulis oleh: News Admin

Konten Terkait